Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 05 December 2023

Tugas Muslim di Hadapan Kezaliman


islamindonesia.id – Di antara dosa yang begitu “keras” diingatkan oleh Al-Qur’an dan Nabi s.a.w adalah kezaliman. Banyak nas Al-Qur’an maupun hadis yang mengecam serta mengancam kezaliman dan para pelakunya.

Demikian kerasnya ancaman tersebut hingga Rasulullah s.a.w pun amat khawatir jika kelak menghadap Allah WT harus menghadapi tuntutan orang-orang yang terzalimi.

Beliau bersabda: “Sungguh aku berharap berjumpa dengan Allah, sementara tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntut aku karena suatu kezaliman terkait darah maupun harta.” (HR. Abu Dawud)

Kezaliman adalah Dosa Besar

Imam al-Jurjani dalam kitabnya, At-Ta’rifât, menyebutkan bahwa arti “zalim” adalah ‘menyimpang dari kebenaran menuju pada kebatilan’. Sudah pasti, bahwa kezaliman merupakan kejahatan.

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang mengingatkan kerasnya ancaman Allah SWT terhadap pelaku kezaliman, di antaranya:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Andai Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di muka bumi satu makhluk melata pun. Namun, Allah menangguhkan mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Lalu jika telah tiba waktunya (yang telah ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (QS. An-Nahl:61)

Allah SWT bahkan telah mengharamkan (menafikan) kezaliman atas Diri-Nya sendiri. Karena itu Allah WT pun telah mengharamkan umat manusia melakukan kejahatan tersebut.

Di dalam Hadis Qudsi Allah SWT berfirman:

يَا عِبَادِي إِنِّي ‌حَرَّمْتُ ‌الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا

“Hamba-Ku, sungguh Aku telah mengharamkan kezaliman atas Diri-Ku dan Aku pun telah mengharamkan kezaliman itu atas kalian. Karena itu janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)

Nabi s.a.w mengingatkan bahwa kelak pada hari pembalasan setiap kezaliman akan dibalas dengan balasan setimpal. Bahkan, binatang pun diberi kesempatan untuk membalas tindak kezaliman yang mereka alami.

Berkenaan dengan hal ini beliau bersabda:

يَقْضِي ‌اللهُ ‌بَيْنَ ‌خَلْقِهِ، ‌الْجِنِّ ، وَالإِنْسِ، وَالْبَهَائِمِ، وَإِنَّهُ لَيَقِيدُ يَوْمَئِذٍ الْجَمَّاءَ مِنَ الْقَرْنَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ تَبِعَةً عِنْدَ وَاحِدَةٍ لأُخْرَى قَالَ اللهُ: كُونُوا تُرَابًا، فَعِنْدَ ذَلِكَ يَقُولُ الْكَافِرُ: يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

“Allah akan menegakkan kisas di antara semua makhluk-Nya; jin, manusia, dan binatang. Pada hari itu, kambing yang tidak memiliki tanduk akan membalas (kezaliman) kambing yang bertanduk. Lalu setelah tidak tersisa lagi kezaliman apa pun yang belum terbalaskan, Allah berfirman kepada binatang, ‘Jadilah kalian tanah.’ Pada saat itulah orang kafir berkata, ‘Andai saja aku pun menjadi tanah’.” (HR. Ibnu Jarir)

Di antara kezaliman yang begitu keras diingatkan oleh syariat adalah kezaliman yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya. Hal ini terjadi saat para penguasa tidak mengurus rakyat dengan syariat Allah SWT, tidak menunaikan hak-hak mereka, malah justru menipu dan merampas hak-hak mereka. Betapa banyak para pemimpin yang banyak berjanji kepada rakyatnya, tetapi sebanyak itu pula mereka mengingkari janji-janji mereka. Contohnya, janji untuk menghentikan impor, tidak menambah utang, tidak menaikkan harga berbagai kebutuhan rakyat, dan lain-lain.

Rasulullah s.a.w telah mengancam penguasa semacam ini dengan sabdanya:

مَا مِنْ عَبْدٍ ‌يَسْتَرْعِيهِ ‌اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ غَاشًّا لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Siapa saja yang diamanahi oleh Allah untuk mengurus rakyat, lalu mati dalam keadaan menipu rakyatnya, niscaya Allah mengharamkan surga atas dirinya.” (HR. Muslim)

Ironinya, berbagai kebutuhan rakyat seperti listrik, gas, BBM—yang hakikatnya dalam Islam adalah milik rakyat—diperjualbelikan kepada rakyat dengan harga yang terus-menerus naik. Padahal, Nabi s.a.w telah memperingatkan bahwa sikap memperdagangkan (urusan/kepentingan) rakyat adalah pengkhianatan yang paling besar.

Tentang hal ini, beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ أَخْوَن الْخِيَانَة تِجَارَة الْوَالِى فِى رَعِيَّتِهِ

“Sungguh pengkhianatan paling besar adalah saat penguasa memperdagangkan (urusan/kepentingan) rakyatnya.” (HR. Abu Nu’aim)

Haram Mendiamkan Kemungkaran

Bukan hanya kezaliman yang haram. Sikap mendiamkan kezaliman juga merupakan kemungkaran. Kaum Muslimin telah diperintahkan untuk melawan kezaliman. Bukan berdiam diri, apalagi bersekutu dengan pelaku kezaliman. Umat Muslim bukanlah kaum Bani Israil yang biasa mendiamkan kemungkaran hingga mendapatkan laknat para nabi (Lihat: QS. Al-Maidah:78-79)

Kaum Muslimin justru memiliki predikat sebagai umat terbaik karena memiliki tabiat gemar melakukan amar makruf nahi mungkar. Jika tabiat itu hilang, hilang pula status mereka sebagai umat terbaik.

Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kalian) melakukan amar makruf nahi mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran:110)

Ada sejumlah sikap yang harus dilakukan umat saat menghadapi kezaliman sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Pertama, beramar maruf nahi mungkar. Rasulullah s.a.w mengingatkan kaum Muslimin akan dampak membiarkan kemungkaran, yakni Allah SWT akan meratakan azab-Nya kepada mereka.

Mengenai hal ini beliau bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يَكُونُ فِي قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا عَلَيْهِ فَلَا يُغَيِّرُوا إِلَّا أَصَابَهُمْ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَمُوتُوا

“Tidaklah seseorang berada di tengah-tengah suatu kaum yang di dalamnya dilakukan suatu kemaksiatan yang mampu mereka ubah, tetapi mereka tidak mengubah kemaksiatan tersebut, niscaya Allah akan menimpakan siksa-Nya kepada mereka sebelum mereka mati.” (HR. Abu Dawud)

Melalui hadis ini Nabi menegur dengan keras sikap sebagian orang yang memilih mendiamkan kemungkaran dengan berbagai alasan, seperti wajib taat kepada ulil amri, atau ikhlas menerima takdir Allah. Sikap seperti itulah yang justru menyebabkan Allah SWT meratakan azab-Nya hingga membinasakan umat manusia.

Perlu dicatat bahwa amar makruf nahi mungkar di hadapan penguasa zalim dipuji oleh Nabi s.a.w sebagai jihad yang paling utama.

Tentang jihad yang paling utama, beliau bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyatakan keadilan di hadapan penguasa zalim.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Dailami)

Kedua, tidak condong pada—apalagi bersekutu dengan—kezaliman.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

“Janganlah kalian cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka.” (QS. Hud:113)

Yang dimaksud dengan ar-rukûn dalam frasa “wa lâ tarkanû” pada ayat di atas adalah rida terhadap kezaliman yang dilakukan para pelakunya. Jadi, jangankan bersekutu dengan kezaliman, bersikap rida saja terhadap kezaliman sudah Allah haramkan. Apalagi mendukung, memberi fatwa, dan malah menyerang umat yang terzalimi.

Ketiga, tidak menjadi bagian dari kekuasaan zalim.

Rasulullah s.a.w bersabda:

يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أُمَرَاءُ ظَلَمَةٌ، وَوُزَرَاءُ فَسَقَةٌ، وَقُضَاةٌ خَوَنَةٌ، وَفُقَهَاءُ كَذَبَةٌ، فَمَنْ أَدْرَكَ مِنْكُمْ ذَلِكَ الزَّمَنَ فَلا يَكُونَنَّ لَهُمْ جَابِيًا وَلا عَرِيفًا وَلا شُرْطِيًّا

“Akan ada pada akhir zaman para penguasa zalim, para pembantu (pejabat pemerintah) fasik, para hakim pengkhianat dan para ahli hukum Islam pendusta. Siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, janganlah kalian menjadi pemungut cukai, tangan kanan penguasa, dan polisi.” (HR. Ath-Thabarani)

Keempat, mendoakan pelaku kezaliman agar mendapat keburukan sebagai balasan atas sikap-sikap mereka.

Nabi s.a.w pun mendoakan mereka dengan doa berikut:

اللَّهُمَّ مَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، وَمَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَرَفَقَ بهِمْ، فَارْفُقْ بهِ

“Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu dia menyayangi mereka, maka sayangilah dia.” (HR. Muslim)

Seperti kita ketahui, doa yang mengandung keburukan pada hakikatnya adalah terlarang, kecuali doa orang-orang terzalimi atas para pelaku kezaliman (Lihat: QS. an-Nisa’:148). Hal ini sejalan dengan peringatan yang disampaikan Nabi s.a.w agar mewaspadai doa orang yang terzalimi lantaran cepat dikabulkan oleh Allah SWT, sebagaimana sabda beliau:

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Takutlah kalian terhadap doa orang-orang yang terzalimi karena tidak ada hijab antara doanya dan Allah (doanya pasti dikabulkan).” (HR. Muslim)

EH/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *