Satu Islam Untuk Semua

Monday, 21 May 2018

Tiga Macam Puasa Selain ‘Puasa Raga’ Saat Ramadan


Tiga Macam Puasa Selain ‘Puasa Raga’ Saat Ramadan

islamindonesia.id – Tiga Macam Puasa Selain ‘Puasa Raga’ Saat Ramadan

 

Memasuki bulan suci Ramadan, kita selalu berharap menjadi jiwa yang suci dengan diampuninya dosa-dosa kita di bulan ini. Begitu pula saat detik-detik Ramadan akan meninggalkan kita, tak ada harapan lain selain diterimanya seluruh amalan dan diampuninya seluruh dosa kita oleh Allah berkat puasa yang kita jalani.

Puasa dapat kita bagi menjadi dua. Puasa sebagai wujud menjalankan syariat Allah dan puasa sebagai pendidikan bagi diri kita sendiri. Seperti halnya salat, mengerjakan syarat dan rukunnya membuatnya sah dan bernilai ibadah; sementara mengambil hkmah dari setiap gerakan dan bacaan yang ada dalam salat adalah pendidikan bagi diri kita.

Puasa (shaum) secara bahasa artinya menahan. Sudah hal yang lumrah yang timbul dalam pikiran kita adalah menahan lapar dari terbitnya fajar hingga datangnya maghrib atau terbenamnya matahari.

Kata lain dalam bahasa Arab yang bermakna menahan atau mencegah adalah al-man‘ (mencegah). Ada sebagian pula yang menyebutkan al-imsâk. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang pun hari ini” (QS. Maryam:26)

Di ayat tersebut terdapat kata shaum yang berarti menahan, yakni menahan dari berbicara kepada manusia. Dari ayat itu kita dapat menyimpulkan bahwa makna puasa adalah menahan.

Mudzoffar al-Qarmisiny, dalam kitab ar-Risâlah al-Qusairiyyah mengatakan bahwa puasa ada tiga macam:

الصَوْمُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ: صَوْمُ الرُّوْحِ بِقَصْرِ الْأَمَلِ، وَصَوْمُ الْعَقْلِ بِخِلَافِ الْهَوَى، وَصَوْمُ النَّفْسِ بِالإِمْسَاكِ عَنِ الطَّعَامِ وَالْمَحَارِمِ.

“Puasa ada tiga macam: (1) puasa ruh dengan memendekkan angan-angan, (2) puasa akal dengan melawan keinginan, (3) puasa jiwa dengan menahan dari makanan dan perkara-perkara yang haram.”

Pertama, puasa ruh dengan memendekkan angan-angan. Karena, terlalu panjang berharap akan menghambat diri dari perbuatan baik atau usaha untuk meraih kebaikan karena terlalu sibuknya kita dengan bercita-cita. (Syekh Mustafa al-‘Arusy, Natâij al-Afkâr al-Qudsiyyah fî Bâyani Ma’âni Syarh Risalah al-Qusyairiyyah, Lebanon, Dar el Kutub ‘Ilmiyyah, 2007, halaman 306)

Ketika di pesantren, mungkin pernah ada guru menasihati kita agar tidak panjang dalam bercita-cita. Maksudnya tentu bukan tidak boleh sama sekali memiliki harapan, namun jangan terlalu berlebihan pada harapan yang tak mungkin ada habisnya, khawatir kita tertimpa oleh musibah yang bisa disebut dengan cinta dunia.

Kedua, puasa akal dengan melawan keinginan. Syekh Zakaria al-Anshari menjelaskan, dengan akal kita dapat mengetahui antara yang baik dan yang buruk, dan itu dapat dihasilkan dengan melawan keinginan atau hawa nafsu. (Syekh Mustafa al-‘Arusy, Natâij al-Afkâr al-Qudsiyyah fî Bâyani Ma’âni Syarh Risalah al-Qusyairiyyah, Lebanon, Dar el Kutub ‘Ilmiyyah, 2007, halaman 307)

Ketiga, puasa jiwa dengan menahan diri dari makanan dan perkara-perkara yang haram. Menahan diri dari makanan adalah salah satu proses untuk meningkatkan spiritual. Dengan mempuasakan jiwa dari makan, kita akhirnya terbiasa untuk menerima setiap keadaan yang telah ditentukan oleh Allah, baik berupa lapar maupun kenyang. Selain itu menahan diri dari hal-hal yang diharamkan juga bagian dari proses meningkatkan keimanan kita kepada Allah.

Melihat dari penjelasan yang ketiga, kita dapat mennyimpulkan bahwa puasa memang menahan diri dari makanan, tapi yang lebih sempurna dari itu adalah menahan diri dari sesuatu yang diharamkan seperti ghibah, mengadu domba, dan berbohong. Yang terakhir ini hanya bisa didapat ketika kita tempatkan puasa sebagai sarana pendidikan ruhani kita.

Semoga puasa Ramadan tahun ini dapat menjaga kita dari segala perbuatan yang dilarang dalam agama, dan mendidik kita supaya meningkatkan nilai-nilai rohani dalam hidup kita. Bukankah puasa yang paling sulit tingkatannya adalah puasa menahan hawa nafsu? Mudah-mudahan kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *