Satu Islam Untuk Semua

Monday, 05 November 2018

Tawadhu itu Rendah Hati, Tak Identik dengan Hinakan Diri


Tawadhu itu Rendah Hati, Tak Identik dengan Hinakan Diri

islamindonesia.id – Tawadhu itu Rendah Hati, Tak Identik dengan Hinakan Diri

 

“Orang yang baik adalah orang yang merasa dirinya belum baik.“ Demikian sering disampaikan para ulama akhlak untuk menjadi pengingat bagi kita agar selalu mawas diri sehingga terhindar dari sikap sombong dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Ketika iblis mengatakan dirinya lebih baik dari Nabi Adam as karena ia diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam dari tanah dan saat iblis diperintahkan Allah untuk sujud kepada Nabi Adam, ia pun enggan dan sombong, maka ketahuilah, dua kesesatan inilah yang sering menghiasi hidup manusia, yakni karena memiliki berbagai kelebihan, lalu merasa dirinya superior, merasa derajatnya di atas orang lain serta memandang remeh mereka.

Orang yang rendah hati (tawadhu’) akan menghindari sifat memandang rendah orang lain, justru ia akan memuliakan manusia dengan ucapan dan perbuatan yang diridhai Allah.

Karena tawadhu’ merupakan akhlak para Rasul, maka pasti Allah akan memuliakan dan mencintai orang yang rendah hati. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadis, “Tidaklah Allah menambah pada seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang rendah hati karena Allah, kecuali Allah akan meninggikan orang tersebut”. (HR. Muslim)

Banyak orang menyangka rendah hati identik dengan menghinakan diri, padahal sehebat apapun manusia ia pasti pernah berbuat salah atau dosa. Mereka merasa amalannya banyak lantas memandang dirinya lebih baik daripada orang lain.

Padahal para anbiya’ dan salaf, mereka memiliki hati yang lebih bersih dibandingkan orang-orang setelahnya, tetapi karakter rendah hati tetap mendominasi kepribadian mereka. Padahal dari sisi ilmu agama, mereka ahli ibadah, dan akhlaknya sangat santun dan simpatik. Meski demikian, rasa takut kepada Allah dan azab neraka senantiasa membayangi hidup mereka dan seakan-akan mereka belum beramal shalih secara maksimal.

Ulama akhlak juga kerap menyatakan, “Apabila kamu melihat orang yang lebih tua daripada dirimu, maka katakanlah, ‘Orang ini telah mendahului dengan iman dan amal shalih, sehingga dia lebih baik daripada aku’, apabila kamu melihat orang yang lebih muda daripada dirimu maka katakanlah, ‘Aku telah mendahului menuju perbuatan dosa dan maksiat sehingga dia lebih baik daripada aku’”.

Alangkah indahnya sikap rendah hati ini! Sedangkan kebalikannya adalah sombong, yang sering membuat manusia mengingkari kebesaran Allah, menolak kebenaran dan membanggakan dirinya dengan tujuan ‘ujub. Itulah karakter buruk yang sangat dilarang semua Rasul-Nya dan akan berakibat fatal dan justru merugikan hidup manusia di dunia dan akhirat.

Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syu’ara`: 215

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.“

Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam sikap rendah hati. Betapa ketawadhu’an beliau ketika bergaul, berinteraksi dengan sahabatnya, tanpa pernah menghinanya. Jaminan surga kepada beliau tak menghalanginya untuk selalu memperbanyak doa, shalat, puasa dan amal shalih lainnya. Beliau senantiasa memotivasi umatnya untuk terus memperbaiki hatinya, memperbanyak ilmu, meningkatkan kualitas iman dan amal shalih sampai meninggal dunia.

Dia tidak menghina siapapun sebab, seorang hamba yang tawadhu’ tidak melihat dirinya memiliki nilai lebih jika dibandingkan dengan orang lain. Diapun melihat orang lain, tidak membutuhkannya dalam masalah agama atau dunia. Seseorang tidak meninggalkan tawadhu’, kecuali saat kesombongan mencengkeram jiwanya, dan ia tidak arogan kepada orang lain kecuali saat ia takjub dengan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sombong adalah menghina orang lain, sehingga dapatlah disimpulkan, tawadhu’ tercermin pada penghormatan kepada orang lain.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *