Satu Islam Untuk Semua

Monday, 04 July 2016

PENDIDIKAN–Kursus Singkat Rukyatul Hilal


PENDIDIKAN-Kursus-Singkat-Rukyatul-Hilal

IslamIndonesia.id – PENDIDIKAN–Kursus Singkat Rukyatul Hilal

Menyambut datangnya bulan baru dalam kalender Islam tidak sebagaimana kalender masehi. Sebab bulan baru dalam penanggalan Islam ditentukan oleh terlihatnya bulan muda (hilal/sabit tipis) di atas ufuk. Hal ini akan menjadi krusial di saat-saat penentuan bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah karena bulan-bulan tersebut terkait erat dengan ibadah puasa, hari raya dan haji umat Islam.

Tentu saja umat Islam memiliki pondasi dalam pijakannya; kitab suci Al-Qur’an dan Al-Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sebut saja hadis Nabi yang terkenal, “Puasalah kamu karena telah melihatnya (sabit muda) dan berbukalah karena telah melihatnya (sabit muda).” Kajian tentang dalil-dalil penetapan hilal telah dibicarakan pada tulisan sebelumnya. (Baca: FIKIH—Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal Menurut Pelbagai Mazhab (1) dan bagian akhir)

Yang menjadi persoalan kini adalah bagaimanakah duduk perkara rukyatul hilal yang dilakukan ratusan orang, namun yang mengaku menyaksikan hanya beberapa gelintir orang saja. Bahkan di satu titik lokasi rukyatul hilal yang biasanya disaksikan oleh ratusan orang hanya dua orang saja yang mengaku dan bersedia disumpah melihat hilal. Mengapa semua orang terbungkam dan tidak ada yang menolak kesaksian tersebut?

Alat-alat canggih berongkos mahal seharga puluhan juta rupiah saja tidak mampu merekam keberadaan hilal. Konon, alat-alat modern ini bisa diarahkan sesuai keinginan kita; benda langit manakah yang akan dilihat, bulan ataukah matahari? Serta merta alat tersebut akan bergerak secara otomatis kepada sasaran yang dituju. Setelah itu alat canggih tersebut dihubungkan dengan kabel menuju sebuah laptop dan layar raksasa di titik-titik pantau hilal.

Alat merk Vixen yang dimiliki PPMI Assalam, Solo

Teleskop merk Vixen milik PPMI Assalam, Solo.

Satu hal aneh yang sering terjadi adalah saat alat-alat yang sedemikian canggih tersebut tidak mampu mengindra hilal, namun orang-orang tertentu yang mungkin memiliki semacam kemampuan ‘six million dollar man‘ dapat melihat dengan mata telanjang. Sungguh ajaib! Puluhan bahkan ratusan mata lainnya tidak dapat melihatnya, padahal sama-sama makan nasi dan berbuka dengan menu yang sama.

Jadi, adakah kiat khusus dalam melihat hilal? Bahkan adakah vitamin khusus untuk perukyat hilal? Boleh jadi penonton yang datang ke lokasi belum mempunyai kisi-kisi berikut ini:

Pertama, bagi Anda pengguna android atau penikmat layanan internet berbayar, maka pastikan diri Anda membuka situs moonsighting.com beberapa hari menjelang rukyatul hilal. Situs ini akan menyajikan visibilitas (kemungkinan dapat dilihatnya) sabit muda pada akhir bulan hijriah.

Hilal Syawal 1437 H

Tampilan situs moonsighting.com tentang data hilal Syawal 1437 H

Kedua, situs tersebut akan menampilkan peta wilayah dunia dengan beberapa warna. Jika pada peta wilayah yang berwarna hijau, maka sabit muda pada wilayah itu akan mudah disaksikan dengan mata telanjang. Jika pada peta wilayah yang berwarna biru, maka berarti sabit muda dapat dilihat jika kondisi sempurna (langit cerah tak terhalang awan mendung saat matahari terbenam). Jika pada peta wilayah berwarna abu-abu, maka kita memerlukan alat bantu optik (teleskop) untuk melihat sabit muda. Jika pada peta wilayah berwarna merah, maka bulan sabit muda pada wilayah tersebut tidak mungkin disaksikan dengan mata telanjang. Wilayah berwarna kelam menunjukkan bahwa alat secanggih apa pun tidak dapat mengindra sabit muda tersebut.

Selain contoh peta Syawal di atas, perhatikan juga peta Ramadhan lalu pada situs moonsighting.com di bawah ini:

Indonesia termasuk salah satu kawasan yang berwarna hitam. Hilal mustahil dilihat dengan alat canggih apalagi mata telanjang.

Indonesia termasuk salah satu kawasan yang berwarna hitam. Hilal mustahil dilihat dengan alat canggih apalagi mata telanjang.

Dari keterangan gambar di atas, maka kita dapat menolak sumpah orang yang mengaku melihat hilal karena bertentangan dengan sains modern yang menyatakan bahwa sabit muda di wilayah peta berwarna kelam tidak dapat dilihat dengan alat canggih sekalipun apalagi mata telanjang. Padahal, alat canggih itu dibuat manusia untuk memperbesar visibilitas dan dirancang menggunakan ilmu khusus agar dapat menangkap apa yang tak bisa ditangkap mata telanjang.

Ketiga, pastikan Anda memperoleh data hilal sesuai dengan titik lokasi yang Anda ingin rukyah. Jika Anda ingin merukyah di Bali, maka jangan gunakan data hilal wilayah Papua. Selain itu, pastikan bahwa titik lokasi pantau Anda menghadap ke arah matahari terbenam yang tidak jauh dari titik hilal akan terlihat.

Keempat, data hilal dapat Anda peroleh dari ahli astronomi atau aplikasi modern seperti Starry Night, Stellarium atau lainnya yang menyesuaikan dengan titik koordinat titik pantau hilal. Untuk mudahnya, biasanya di lokasi pantau hilal disebarkan data hilal. Contoh sederhananya adalah informasi yang disediakan oleh Rukyatul Hilal Indonesia tentang data hisab posisi hilal Syawal 1437 H sebagai berikut:

Ijtimak/Konjungsi/New moon:

Proses sejajarnya bulan di antara bumi dan matahari terjadi pada 4 Juli 2016 pukul 18:02 WIB. Bagi Anda pengikut kriteria wujudul hilal (Muhammadiyah), maka Anda tidak mungkin berhari raya pada Selasa 5 Juli 2016, karena syarat wujudul hilal adalah jika ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam dan bulan terbenam setelah terbenamnya matahari. Begitu pula bagi Anda yang mengikuti kriteria imkanur rukyah dengan formasi 2-3-8, yaitu tinggi hilal 2°, jarak bulan-matahari 3°, dan usia hilal setelah ijtimak adalah 8 jam, maka Anda tidak perlu rukyatul hilal, karena ijtimaknya setelah matahari terbenam dan usia hilal minus. Oleh karena itu, sudah pasti hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari Rabu, 6 Juli 2016 dengan menggenapkan bilangan Ramadhan menjadi 30 hari.

Data matahari:

Sunset/waktu matahari terbenam: 17:50 WIB
Azimuth/titik horisontal: 292°53′

Dengan mengetahui waktu terbenamnya matahari, maka sejak itulah kita memfokuskan diri untuk memindahkan pandangan mata dari posisi terbenamnya matahari kepada posisi hilal. Lagi-lagi perlu ditegaskan bahwa waktu terbenamnya matahari pada 4 Juli mendahului waktu ijtimak, sehingga tidak perlu dilakukan rukyatul hilal. Hal ini seperti melaksanakan shalat padahal azan belum tiba.

Data hilal:

Altitude/Irtifa’/Tinggi hilal: – 01° 12′
Elongasi/jarak antara matahari terbenam dan bulan saat muncul: 4° 34′
Usia hilal yaitu sejak terjadinya konjungsi atau ijtimak: – 12 menit
Azimuth/titik horisontal:288° 25′
Iluminasi/ketebalan cahaya: 0,2%
Moonset/bulan terbenam: 17:45 WIB

Dari data bulan sabit muda di atas kita tahu bahwa ketinggian hilal berada di bawah ufuk, usia hilal minus karena ijtimak terjadi setelah matahari terbenam. Posisi bulan pada azimuth 288°, berarti geserlah pandangan mata Anda 4° sebelah kiri matahari terbenam. Cobalah pasang aplikasi Compas PRO pada ponsel atau hape Anda untuk mengetahui arah pastinya.

Dengan berbekal sedikit informasi ini, semoga kita tidak terombang-ambing dengan putusan Sidang Isbat Kementrian Agama RI. Apa pasal? Karena kita telah membekali diri dengan beberapa hal penting tentang kisi-kisi rukyatul hilal. Sehingga pada saat menonton rukyatul hilal langsung di titik pantau, maka kita sudah mengetahui ke arah mana mata ini seharusnya memandang. Selain itu, jika ada saksi mata yang berani bersumpah melihat hilal di titik pandang yang sama dengan Anda, namun Anda sendiri tidak menyaksikannya, maka Anda dapat menolak kesaksian tersebut. Terlebih lagi jika orang yang mengaku menyaksikan hilal itu tidak menggunakan alat bantu teleskop sehingga kesaksiannya tidak dapat dibuktikan dengan foto atau rekaman video.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

 

Tom&AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *