Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 10 October 2023

Makna Manusia Merdeka dalam Pandangan Islam


islamindonesia.id – Rentetan peristiwa yang terjadi di Palestina beberapa hari terakhir ini, membuat banyak kalangan di Tanah Air kembali ramai membahas makna kemerdekaan bagi setiap manusia. Bahwa untuk meraih kemerdekaan itu, setiap manusia berhak berjuang sekuat tenaga, agar dirinya terlepas dari belenggu penjajahan manusia lain. Dan begitu pun halnya dengan bangsa Palestina. Mereka berhak melakukan berbagai upaya yang memungkinkan, bahkan dengan memilih opsi meyerang Israel selaku pihak yang selama ini telah menjajahnya.

Lalu bagaimana Islam memandang makna manusia merdeka?

Islam memandang manusia sebagai makhluk yang merdeka sejak ditakdirkan hadir di muka bumi. Manusia hanya diperkenaan menghamba kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Oleh karenanya, perbudakan manusia atas manusia lainnya sangat dilarang. Dengan kata lain, manusia yang menjalankan segala bentuk penjajahan dapat diartikan memosisikan dirinya sebagai Tuhan.

Dalam terminologis bahasa Arab, kemerdekaan adalah ‘al-taharrur wa al-khalash min ayy qaydin wa saytharah ajnabiyyah’ yang bermakna, bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain. Hal tersebut berarti bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang asasi dan melekat dalam diri setiap manusia. Oleh karena itu, tidak dapat dan tidak boleh dirampas oleh siapa pun, sebagai anugerah Tuhan. Maka karenanya, segala bentuk perbudakan dan penjajahan harus dihapuskan dan dilenyapkan dari muka bumi, karena tidak sesuai dengan kodrat manusia, makhluk mulia.

Rasulullah s.a.w mengajarkan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan merdeka. Tidak dibenarkan memperbudaknya atas dasar kekuasaan apa pun. Dengan semangat itulah Islam berhasil dengan mengeluarkan umat manusia dari kubangan kegelapan kepada cahaya kehidupan yang terang-benderang di bawah naungan ridha Allah SWT. Inilah yang dalam sejarah dikenal sebagai kelahiran peradaban umat terbaik (khairu ummah) yang tidak mencintai, menaati serta merasa takut kepada apa pun selain kepada Allah.

Dalam konteks kemerdekaan asasi ini, Islam mengemban misi memerdekakan manusia dari perbudakan dan membebaskan mereka dari kemiskinan, kebodohan, penderitaan, dan kesengsaraan, serta mengajarkan kepada umatnya bahwa kemerdekaan meliputi segala hal sejauh tidak melanggar aturan Tuhan dan Nabi-Nya.

Kemerdekaan dalam beragama dan berkepercayaan, berekspresi dalam menuangkan pikiran, hak untuk memperoleh rasa aman, keadilan dan mendapatkan penghidupan yang layak, serta semua hak dasar yang sifatnya universal sangatlah dilindungi.

Tentunya semua haruslah berdasarkan aturan yang berlaku dalam tatanan agama dan masyarakat. Oleh karena itu, Islam memosisikan semuanya dalam wujud keadilan bagi umatnya. Islam tidak memilah dan memilih dalam menentukan keadilan. Tidak memandang apakah seorang pejabat atau rakyat, si kaya atau si miskin, semua memperoleh hak yang sama.

Seperti dikisahkan dalam riwayat masyhur manakala Khalifah Islam memberikan keputusan yang adil atas perlakuan zalim anak seorang Gubernur yang menganiaya petani miskin.

Setelah memanggil sang Gubernur, Khalifah mengatakan, “Sejak kapan kamu memperbudak orang, padahal ia dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?”

Sang Khalifah lalu mempersilakan si petani miskin tersebut mengambil haknya yang diperlukan terhadap anak pejabat tinggi negara itu.

Nah, sikap tersebut menunjukkan kebijakan yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin. Islam menunjukkan bahwa di depan hukum, setiap orang mempunyai hak untuk tidak dihakimi dan dizalimi hanya karena kedudukan sosialnya. Fakta adanya perbedaan status sosial-ekonomi, tidak serta merta membuat siapa pun kehilangan keadilan.

Sebaliknya, bagi yang berstatus sosial tinggi, tidak boleh dibiarkan merampas hak orang lain dan kebal hukum. Keteladanan itulah yang Baginda Nabi pernah sampaikan kepada umatnya: “Seandainya Fatimah, anakku, mencuri. Jangan orang lain yang menghukumnya! Aku sendiri yang akan memotong tangannya!”

Ala kulli hal, kemerdekaan merupakan karunia besar dari Allah kepada setiap manusia. Kewajiba kita untuk mensyukurinya, agar kenikmatan tersebut berbuah keberkahan yang berlipat ganda. Sudah menjadi kewajiban kita pula untuk memaknai kemerdekaan asasi ini dengan menghiasinya melalui karya nyata yang produktif dan bermanfaat. Bukan hanya untuk diri saja, tetapi maslahat bagi sebanyak-banyaknya umat manusia.

EH/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *