Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 06 September 2015

KISAH – Ketika Bahlul Meminta Tuhan Diadili


bahlul

Suatu hari, Bahlul melihat seorang ulama bersiap memulai majelis ilmu bersama murid-muridnya. Tanpa pikir panjang, Bahlul ikut mendekat dan duduk memyimak. Setelah membuka majelis, ulama itu mulai dengan mengungkapkan bahwa dia tidak sependapat dengan Ja’far As Shodiq dengan beberapa pernyataannya. 

Ja’far As Shodiq dikenal sebagai seorang sufi dan guru madrasah di abad ke-7 Masehi yang telah melahirkan ribuan sarjana berbagai disiplin ilmu.  Di hadapan murid-muridnya, ulama itu menyampaikan kritiknya dan mempersilahkan siapapun yang ingin menanggapi, menjawab atau bahkan membantahnya.

“Pertama, menurut Ja’far As Shodiq, ‘Tuhan tidak bisa dilihat oleh mata kepala’. Menurut saya, tidak mungkin sesuatu yang eksis itu tidak bisa dilihat” kata ulama itu sambil menunjuk kedua matanya.

“Kedua, ia menyatakan bahwa Iblis akan dilempar ke api neraka Jahannam hingga terbakar dan tersiksa. Menurut saya ini juga mustahil. Bagaimana mungkin api menyiksa ‘api’? Faktanya, iblis tercipta dari api itu sendiri.”

Setelah lama memperhatikan murid-muridnya yang tampak serius mendengarkan, ulama itu melanjutkan argumennya, “ketiga, ia menyatakan bahwa setiap manusia bertanggungjawab atas setiap tindakannya dan Allah Yang Maha Kuasa tidak memiliki peran dalam tindakan manusia. Bagaimana mungkin ini terjadi? Bukankan Allah yang menentukan takdir kita dan tanpa-Nya tidak ada sesuatu pun yang bisa terjadi?”

Belum sempat ulama itu melanjutkan pembicaraanya, Bahlul berdiri dan melempar kepala ulama itu dengan segumpal tanah yang cukup keras.

“Mari kita pergi saja dan biarkan kepalanya kesakitan” kata Bahlul sambil mengajak murid-muridnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Merasa dipermalukan, ulama itu memerintahkan murid-muridnya menangkap Bahlul. Setelah tertangkap, Bahlul diseret ke pengadilan. Di depan hakim, ulama itu menceritakan apa yang terjadi, dibantu dengan murid-muridnya sebagai saksi. Bahlul membela dirinya, menyatakan bahwa apa yang dilakukan hanyalah sebuah jawaban atas kritik sang ulama terhadap pernyataan Ja’far As Shodiq.

“Mengapa Anda memilih menyakiti kepalanya sebagai jawaban atas kritiknya?” tanya sang hakim.

“Sebelumnya, orang ini mengklaim bahwa jika Tuhan itu ada maka pasti bisa dilihat. Sekarang, ia mengklaim bahwa kepalanya sakit. Jika benar ‘sakit’ itu ada, perlihatkan kepada kami keberadaan ‘sakit’? kata Bahlul yang membuat ulama dan murid-muridnya itu terkejut.

“Kedua, ia mengatakan bahwa ‘api’ tidak bisa dibakar oleh api. Sedangkan ia sendiri tercipta dari tanah. Namun ketika saya melemparinya dengan sesuatu yang terbuat dari tanah, ia mengklaim merasa kesakitan. Jika tanah bisa menyakiti tanah, mengapa api tidak?”

“Ketiga, ia menolak bahwa manusia bertanggung jawab atas tindakannya karena hanya Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika ia meyakini demikian, mengapa saya dituntut bertanggungjawab atas tindakan saya yang melemparinya. Seharusnya ia membawa Tuhan ke pengadilan ini, yang menurutnya bertanggung jawab atas segala tindakan,” kata Bahlul.

Tiap orang di ruang pengadilan itu pun tampak diam. Para murid saling bertatapan tak tahu apa yang harus dilakukan. Sang hakim masih duduk di kursinya seolah merenungi kata-kata Bahlul. Tidak lama kemudian, ulama itu meninggalkan ruangan tanpa meninggalkan sepatah kata pun dan akhirnya Bahlul dibebaskan.

Edy/IslamIndonesia. Foto: Pastelco.ir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *