Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 06 March 2016

HIKMAH – Bahtera Hidayah


bahtera-hidayah

Sebuah bahtera melintasi samudera membawa ratusan penumpang. Mereka mencari peluang bekerja dan berdagang. Tiba-tiba lonceng tanda bahaya berbunyi, disusul pengumuman genting dari nahkoda. “Air menyelinap masuk ke dalam bahtera dan segera menenggelamkan bahtera. Naiklah sekoci-sekoci keselamatan! Bawalah serta makanan sekadarnya!”

Orang-orang menuju pulau terdekat. Seluruhnya berkumpul di sebuah pulau tak berpenghuni. Mereka sadar bahwa mereka terkungkung dari dunia mana pun.

Sementara bahtera telah penuh dengan air dan tenggelam ke dasar samudera perlahan.

Orang-orang yang terdampar di pulau yang tidak pernah dijamah seorang pun ini sepakat untuk mulai bercocok tanam. Mereka menanam berbagai benih yang mereka bawa dalam perjalanan.

Belum sampai tiga hari mereka bercocok tanam, salah satu dari mereka berteriak, “Jangan bersedih… Aku membawa kabar gembira.”

“Kita berada di suatu pulau yang penuh dengan tambang emas! Kita segera menjadi orang-orang kaya!”

Semua senang bukan kepalang. Mereka meninggalkan cocok tanam. Semuanya sibuk dengan pertambangan emas. Mereka menjadi orang-orang kaya.

Persediaan pangan mulai menipis. Tibalah musim dingin dan mereka tidak lagi memiliki makanan. Mereka mulai menyesali yang telah mereka lakukan. Mereka memiliki emas berlimpah namun tidak punya makanan! Mereka gelisah. Namun masa bercocok tanam dan panen telah usai.

Mereka saling mencerca satu sama lain. Satu per satu meregang nyawa akibat lapar. Jasad mereka disemai di tengah tumpukan emas yang tidak dapat menyelamatkan mereka.

Hikmah: kisah ini banyak terjadi di tengah kita. Banyak dari kita lalai dari menyibukkan diri di jalan Allah SWT yang sejatinya ‘mengenyangkan’ diri kita kelak akhirat). Alih-alih, kita sibuk dalam mengumpulkan sesuatu yang tak bisa jadi bekal di ‘kampung keabadian’. Ketika datang masanya, tersingkaplah bahwa yang selama ini kita kumpulkan bukanlah hal-hal yang mengenyangkan diri kita. Sementara kesempatan telah lenyap dan hilanglah harapan nyaman dalam panggung kehidupan abadi yang sejati.[]

Tom/IslamIndonedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *