Satu Islam Untuk Semua

Friday, 24 November 2023

Bagaimana Memperlakukan Jenazah Orang yang Mati Syahid?


islamindonesia.id – Orang yang mati syahid atau gugur pada saat berjuang di jalan Allah mendapatkan keistimewaan, baik di akhirat kelak maupun bagaimana harusnya seorang Muslim memperlakukan jenazahnya.

Imam Syafii dalam kitab Al-Umm menjelaskan bahwa apabila pasukan musyrik membunuh orang-orang Muslim dalam sebuah pertempuran (seperti yang saat ini terjadi di Palestina), maka para syuhada Muslim yang terbunuh itu tidak perlu dimandikan dan tidak perlu dishalatkan. Para syuhada tersebut langsung dimakamkan dengan luka-luka serta darah mereka.

Namun demikian boleh pula mereka dikafani oleh keluarga mereka jika memang para keluarga menghendaki itu. Sebagaimana dikafaninya mayat-mayat umat Muslim pada umumnya.

Jika pihak keluarga menghendaki, menurut Imam Syafii, semua pakaian syahid itu dapat dilepas lalu mereka mengkafaninya menggunakan kain lain seperti yang dilakukan terhadap mayat-mayat pada umumnya. Sementara pakaian yang mereka kenakan di saat gugur, ditanggalkan.

Sebagian orang menyatakan bahwa hendaknya para syuhada dikafani menggunakan pakaian yang mereka gunakan saat gugur, terkecuali pakaian yang berbahan kulit berbulu, karung, atau anyaman bulu.

Imam Syafii menyebutkan, tidak pernah ada riwayat yang sampai kepadanya yang menyatakan bahwa pernah ada seseorang yang dikafani menggunakan kulit, kulit berbulu, atau karung.

Namun apabila sehelai kain karung adalah kain utuh, jika itu digunakan sebagai kafan, maka Imam Syafii berpendapat bahwa hukumnya tidak apa-apa. Sebab kain merupakan pakaian masyarakat umum, sedangkan kulit diketahui bukan merupakan pakaian manusia.

Lebih lanjut, berkaitan dengan jenazah orang yang mati syahid, terdapat sebuah hadis dari sahabat Jabir yang mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggabungkan dalam satu kubur dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dan dalam satu kain, lalu bersabda, ‘Siapakah di antara mereka yang lebih banyak mempunyai hafalan Al-Qur’an?’ Ketika beliau telah diberi tahu kepada salah satu di antara keduanya, beliau pun mendahulukannya di dalam lahad, lalu bersabda: ‘Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari kiamat.’ Kemudian beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka, tidak dimandikan dan juga tidak dishalatkan.” (HR. Bukhari)

Terdapat dua masalah berkenaan dengan hadis di atas.

Pertama, apakah jenazah mati syahid itu dimandikan?

Hadis di atas menunjukkan bahwa jenazah orang yang mati syahid di peperangan itu tidak dimandikan. Yang dimaksud dengan peperangan di sini adalah peperangan melawan musuh dari orang-orang kafir. Ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama. Hikmah mengapa jenazah orang mati syahid itu tidak dimandikan adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis Jabirdari Nabi s.a.wbahwa beliau mengatakan tentang para sahabat yang gugur pada saat perang Uhud: “Janganlah kalian mandikan, karena setiap luka atau setiap darah akan menjadi minyak misk pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Syekh Dr. Shalih Al-Fauzanmengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang mati syahid terbunuh di peperangan untuk meninggikan kalimat Allah, jenazah mereka itu tidak dimandikan. Akan tetapi, dibiarkan bersama dengan darah-darah mereka. Hal ini karena bekas darah tersebut adalah bekas (tanda) yang baik, sehingga tanda ketaatan tersebut dibiarkan untuk memuliakannya. Mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa darah tersebut sebagai tanda ketaatan. Sebagaimana yang telah disebutkan tentang kondisi orang ihram, mereka dibiarkan sebagaimana kondisi ketika ihram agar datang pada hari kiamat dalam bentuk yang mulia tersebut.” (Tashilul Ilmam, 3:34-35)

Adapun selain mati syahid karena peperangan, seperti: 1) meninggal karena sakit perut; 2) meninggal karena wabah penyakit tha’un; 3) seorang wanita yang meninggal pada masa nifas; 4) meninggal karena tertimpa benda keras; 5) meninggal karena tenggelam; atau 6) meninggal karena terbakar, maka mereka itu tetap dimandikan sebagaimana jenazah kaum Muslimin pada umumnya. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. (Lihat Al-Mughni, 3:476)

Hal ini karena jenazah tersebut itu disebut syahid berkaitan dengan pahala yang akan mereka dapatkan di akhirat, bukan berkaitan dengan hukum dimandikan dan dishalatkan ketika di dunia. Hal ini berbeda dengan hukum mati syahid karena peperangan melawan orang-orang kafir (yang tidak dimandikan dan tidak dishalatkan).

Kedua, apakah jenazah mati syahid itu dishalatkan?

Masalah kedua, apakah jenazah mati syahid itu dishalatkan? Hadis ini menunjukkan bahwa jenazah mati syahid itu tidak dishalatkan. Ini adalah pendapat mazhab Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad. (Lihat Bidayah Al-Mujtahid, 2:41 dan Al-Majmu’, 5:260)

Adapun pendapat kedua mengatakan bahwa jenazah mereka tetap dishalatkan. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Ibnu Qudamah mengatakan, “Hadis ini dibawa ke makna anjuran, karena perkataan Imam Ahmad mengisyaratkan hal tersebut.” (Al-Mughni, 3:467)

Para ulama tersebut berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir yang mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari keluar untuk menyalatkan syuhada perang Uhud sebagaimana shalat untuk mayit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Bukhari disebutkan dari sahabat ‘Uqbah bin Amir, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyalati para korban Uhud setelah delapan tahun, seolah-olah seperti perpisahan antara orang yang hidup dengan orang yang telah mati.” (HR. Bukhari)

Kesimpulan yang lebih mendekati adalah bahwa imam (pemimpin) kaum Muslimin diperbolehkan untuk memilih apakah akan menyalati jenazah mati syahid ataukah tidak. Hal ini karena terdapat dalil untuk dua kondisi tersebut, yaitu ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka tidak dishalati dan ada dalil yang menunjukkan jenazah mereka dishalati. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad, juga pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim, sebagian ulama Syafi’iyyah dan sebagian ulama Hanabilah. (Lihat Tahdzib Mukhtashar As-Sunan, 4:295; Al-Majmu’, 5: 260; Al-Ikhtiyarat, hal. 87; dan Al-Inshaf, 2:500)

Zahir hadis ‘Uqbah bin Amir di atas menunjukkan bahwa Rasulullah s.a.w itu menyalati mereka sebagaimana shalat jenazah pada umumnya. Akan tetapi, zahirnya menunjukkan bahwa shalat itu adalah shalat perpisahan, bukan shalat jenazah, karena shalat jenazah dilaksanakan sebelum jenazah dimakamkan.

Adapun hikmah mengapa jenazah orang yang mati syahid itu boleh untuk tidak dishalatkan adalah karena Allah SWT telah memuliakannya, sehingga tidak perlu untuk dishalati. Allah SWT telah memuliakan orang yang mati syahid di peperangan dengan persaksian-Nya:

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran:169)

Allah juga berfirman:

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati. Bahkan, (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah:154)

Jadi, orang yang mati syahid karena peperangan itu boleh untuk tidak dishalati, karena shalat itu hakikatnya adalah syafaat (doa) untuk mereka. Sedangkan Allah SWT telah memuliakan mereka dengan persaksian-Nya, sehingga mereka tidak perlu lagi dishalatkan. (Lihat Tashilul Ilmam, 3:35) 

EH/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *