Satu Islam Untuk Semua

Monday, 23 October 2023

Hujan, Maksiat dan Pertaubatan


islamindonesia.id – Pada zaman Nabi Musa a.s, Bani Israel ditimpa kemarau yang berkepanjangan. Mereka berkumpul mendatangi Nabi Musa dan berkata, “Wahai Nabi Allah, berdoalah kepada Rabb-mu agar Dia menurunkan hujan kepada kami….!”

Maka berangkatlah Nabi Musa a.s bersama kaumnya menuju padang yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh, penuh debu, haus, dan lapar…

Nabi Musa berdoa, إلهي … أسقنا غيثك … وانشر علينا رحمتك وارحمنا بالأطفال الرضع … والبهائم الرتع والمشايخ الركع اليك …

“Ilaahi …! Asqinaa ghaitsak … Wan-Syur ‘alaina rahmatak … war-Hamnaa bil-athfaalir-rudhdha’ … wal-bahaaimir-rutta’ … wal-masyaayikhir-rukka’ ilaika …” Tuhanku… Turunkanlah hujan kepada kami… Tebarkanlah Rahmat-Mu kepada kami, kasihilah kami demi anak-anak yang masih menyusu… Demi hewan ternak yang merumput, dan demi para orang-orang tua yang ruku’ kepada-Mu …”

Namun setelah itu langit tetap saja terang-benderang, matahari pun bersinar makin kemilau.

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”

Allah-pun berfirman kepada Nabi Musa, يا موسى أنى أكون بغيثكم و فيكم رجل يبارزني بالمعاصي أربعين عاما … فليخرج حتى أغيثكم …

“Wahai Musa … Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedang di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat kepada-Ku sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena sebab dialah Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian …”

Maka Nabi Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… Keluarlah ke hadapan kami, karena sebab engkaulah hujan tak kunjung turun …”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan ke kiri, tapi tidak berani keluar ke hadapan manusia. Saat itu pula dia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud. Dia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku, tapi kalau aku tidak keluar, maka hujan pun tidak akan turun…”

Maka hatinya pun gundah gulana, air matanya menetes, menyesali perbuatan maksiatnya, sambil berkata lirih, “Ya Allah… aku telah bermaksiat kepada-Mu selama 40 tahun. Selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku …”

Tidak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan, semakin lama semakin tebal dan menghitam. Dan akhirnya hujan pun turun..!

Nabi Musa pun keheranan dan berkata: “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, padahal tak seorang pun yang keluar ke hadapan manusia.”

Allah SWT berfirman يا موسى لقد تاب وتبت عليه، منعت عنكم الغيث بسببه، وأمطرتكم بسببه …

“Wahai Musa, dia telah bertaubat dan Aku telah menerima taubatnya, karena orang itulah Aku menahan hujan kepada kalian, dan karena dia pulalah Aku menurunkan hujan …”

Nabi Musa berkata: ربي أرني أنظر إليه، ربي أرني ذلك الرجل

“Ya Allah…Tunjukkan padaku orang itu… Tunjukkan aku mana orang itu…”

Allah SWT berfirman يا موسى … لقد سترته وهو يعصيني، أفلا أستره وقد تــاب وعـــاد إلي؟؟

“Wahai Musa, Aku telah menutupi aibnya padahal dia bermaksiat kepada-Ku. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya sedangkan ia telah bertaubat dan kembali kepada-Ku?!”

EH/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *