Satu Islam Untuk Semua

Monday, 30 October 2017

HIKMAH – Mengendalikan Amarah


8cGbAqxMi

islamindonesia.id – HIKMAH – Mengendalikan Amarah

 

Seorang lelaki Badui datang kepada Nabi Saw dan berkata kepadanya, “Ajarkan aku inti kebijakan.”

“Aku anjurkan engkau untuk tidak marah,” kata Nabi. Setelah mengulangi pertanyaannya tiga kali dan mendengar jawaban yang sama, Badui itu berkata pada dirinya, “Setelah ini aku tidak akan bertanya lagi.”

Untuk mengatasi penyakit amarah yang menyala-nyala, terdapat langkah-langkah praktis. Langkah yang paling penting ialah menahan diri  pada tahap-tahap awal munculnya gejala kemarahan.

Hal ini karena kemarahan ibarat api, dapat meningkat sedikit demi sedikit, sampai menjadi lebih hebat hingga panasnya meningkat dan nyala apinya berkobar dengan dahsyat. Ketika hal itu terjadi, manusia kan kehilangan kendali sehingga mematikan pelita hati dan keimanannya.

Oleh sebab itu, seseorang harus tetap berjaga-jaga sebelum keganasannya memuncak dan apinya menjadi semakin dahsyat. Ia harus menyibukkan drinya dengan hal-hal lain atau meninggalkan tempat yang di situ kemarahannya terpancing.

Ia juga harus mengubah posisinya; apabila ia marah dalam keadaan duduk, ia mesti segara bangkit berdiri, dan jika dalam keadaan berdiri, ia harus bangun atau menyibukkan diri dengan mengingat Tuhan (sebagian orang bahkan menganggapnya wajib) atau hal-hal lain.

Betapapun, sangatlah mudah bagi manusia untuk menahan amarahnya pada saat datangnya gejala awal. Hal ini mempunyai dua keuntungan. Pertama, ia akan dapat menenangkan dirinya dan mengurangi api kemarahan. Kedua, ini akan membawanya pada penuntasan total gejala buruk ini, sehingga selalu mengamati keadaan nafsunya dan memperlakukannya dengan perlakuan tersebut, niscaya keadaannya akan terkendali dan berubah secara total sehingga gejolak amarahnya kembali normal.

Di riwayatkan dalam sebuah hadis, “Sesungguhnya kemarahan adalah percikan api yang dinyalakan oleh iblis di dalam salah seorang di antara kamu ketika ia marah. Matanya menjadi merah, urat lehernya menjadi membesar, dan setan memasukinya. Maka, barang siapa di antara kamu khawatir (saat itu) setan akan merasuki dirinya, hendaknya ia merebahkan diri (sejenak) karena kotoran setan dapat hilang darinya pada saat itu.”

Dan hadis lain, “Sungguh, seorang yang sedang marah (boleh jadi) tidak akan puas sama sekali hingga ia masuk ke neraka. Maka, barang siapa marah kepada suatu kaum hendaknya ia segera duduk apabila ia dalam keadaan berdiri. Sebab, sesungguhnya hal itu akan menolak kotoran-kotoran setan. Dan, barang siapa marah kepada seseorang di antara kerabatnya, hendaklah ia mendekat kepadanya dan menyentuhnya karena hubungan kekerabatan (yang terancam retak akibat kemarahan), apabila dirangsang dengan sentuhan, akan menyebabkan ketenangan.”

Dua hadis di atas menyarankan dua macam cara penanganan praktis untuk mengendalikan kemarahan pada saat munculnya gejala awal. Cara pertama bersifat umum, yaitu menganjurkan duduk dan melakukan perubahan posisi tubuh. Hadis lain menyebutkan bahwa apabila posisi seseorang pada saat ia marah dalam keadaan duduk, ia mesti berdiri. Cara praktis lainnya adalah menyangkut kemarahan yang muncul di antara sesama saudara yang saling memiliki hubungan darah, yang dengan cara salah satu dari mereka menyentuh salah satu anggota tubuh saudaranya yang sedang marah. Dengan demikian, niscaya kemarahannya akan mereda.

 

MK/YS/IslamIndonesia/ foto: clipart-library.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *