Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 23 July 2017

HIKMAH – Allah Menghendaki Kemudahan


Inilah Tujuh Keajaiban Dunia Sebenarnya

islamindonesia.id – HIKMAH – Allah Menghendaki Kemudahan

Pak, mau tanya. Kenapa kalau baca twit Anda, rasanya agama begitu mudah, tapi dari banyak buku, rasanya agama begitu sulit?”

Demikian seseorang di twitter memposting twitnya dengan memention saya. Harus kita akui, memang ada kecenderungan sebagian Muslim terkesan mempersulit agama, padahal Al-Qur’an dan Hadis mengajarkan sebaliknya. Berikut adalah kompilasi ayat Al-Qur’an dan Hadis yang menyatakan bahwa sesungguhnya agama itu mudah:

“Allah menghendaki kemudahan, bukan kesukaran bagimu.” (QS 2:185)

“Dan tidak sekali-kali Tuhan menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. 22:78)

“Sungguh agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan.” (HR. Al-Bukhari)

“Aku diutus dengan membawa agama yang hanif lagi lapang.” (HR. Ahmad)

“Sebaik-baik urusan agama kalian adalah yang paling mudah, sungguh sebaik-baik urusan agama kalian adalah yang paling mudah.” (HR Ahmad)

RAsulullah Saw. juga pernah bersabda:

“Jika aku dihadapkan pada  dua pilihan (yang sama-sama baik), aku memilih yang lebih mudah.”

Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa saat menjalankan ibadah haji Rasulullah Muhammad Saw memperhatikan seorang sahabat yang terlihat sangat lelah dan menderita. Ketika beliau bertanya apa sebabnya, sahabat yang lain menyatakan bahwa orang tersebut bernadzar akan beribadah haji dengan berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah. Sabda Rasulullah Saw:

“Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan tindakan penyiksaan diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh orang itu.” (HR. Bukhâri dan Muslim)

Firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Dan tak kami turunkan al-Qur’an ini untuk membuatmu susah.” (QS 20:2)

“Sesungguhnya Allah Swt tidak mengutusku untuk mempersulit, melainkan sebagai seorang pengajar yang memudahkan.” (HR. Muslim)

Kita juga mengenal adanya anjuran memanfaatkan aspek rukhshah (keringanan dalam praktek beragama). Aspek rukhshah ini terdapat dalam semua praktek ibadah, khususnya bagi mereka yang lemah kondisi tubuhnya atau berada dalam situasi yang tidak leluasa. Misalnya saja dalam menjalankan shalat. Bagi yang tidak kuat shalat berdiri, diperbolehkan shalat sambil duduk, bagi yang tidak kuat sambil duduk, disilakan untuk shalat sambil terbaring. Begitu pula puasa. Bagi yang tidak kuat berpuasa karena berada dalam perjalanan, maka diajurkan untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari lain.

“Sesungguhnya Allah suka kalau keringanan-keringanan yang diberikanNya (kepada manusia) dimanfaatkan …” (HR Ahmad).

Ulama besar Suriah, Imam Ibn Qayyim menyatakan, “Hakikat ajaran Islam semuanya mengandung rahmah dan hikmah. Kalau ada yang keluar dari makna rahmah menjadi kekerasan, atau keluar dari makna hikmah menjadi kesia-siaan, berarti itu bukan termasuk ajaran Islam. Kalaupun dimasukkan oleh sebagian orang, maka itu adalah kesalahkaprahan.”

Demikianlah kemudahan agama yang tentunya lahir dari kasih sayang  Allah Swt yang bahkan berfirman: “Hamba-hambaKu, bila mereka bertaubat  Aku akan menjadi Kekasih mereka, dan jika mereka belum bertaubat, Aku akan menjadi dokter mereka.”

islamindonesia/ Dirangkum dari kultwit @Haidar_Bagir, 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *