Satu Islam Untuk Semua

Friday, 28 September 2018

Hati-Hati Ditimpa Istidraj, Azab Berbungkus Nikmat


Hati-Hati Ditimpa Istidraj, Azab Berbugkus Nikmat

islamindonesia.id – Hati-Hati Ditimpa Istidraj, Azab Berbungkus Nikmat

 

Manusia tak pernah putus menerima aliran nikmat Allah dalam bentuk apapun baik material maupun nonmaterial yang disadari sebagai sebuah nikmat atau yang tak disadari. Kalau sudah begini, mereka harus menjaga adab kepada Allah dalam bentuk syukur.

Ada juga sebagian orang yang tidak taat dan kufur sering tampak hidup makin membaik, segar bugar tanpa sakit, makin jauh dari kemiskinan, dan seterusnya. Tidak perlu heran karena di sinilah sebenarnya rahmat Allah untuk mereka.

Sebenarnya ketika seseorang mendurhakai Allah sementara anugerah-Nya terus mengalir bahkan secara lahiriah bertambah banyak, ia patut waspada karena bisa jadi itu merupakan bagian dari istidraj dari Allah sebagai disinggung Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut.

“Takutlah pada kebaikan Allah kepadamu di tengah keberlangsungan durhakamu terhadap-Nya karena itu bisa jadi sebuah tipudaya (istidraj) seperti firman-Nya, ‘Kami memperdayakan (mengistidrajkan) mereka dari jalan yang mereka tak ketahui.’”

Istidraj adalah semacam perangkap bagi manusia di mana mereka yang durhaka kepada Allah tampak semakin makmur, jaya, dan sejahtera. Tetapi sejatinya peningkatan kemakmuran yang terus beranjak naik bahkan melimpah itu sejatinya adalah uluran atau semacam penundaan untuk azab Allah yang pada gilirannya lebih dahsyat menimpa yang bersangkutan.

“Istidraj adalah ujian tersembunyi di balik sebuah anugerah Allah. Istidraj terambil dari kata ‘daraj’ (angsuran), seperti anak kecil yang mulai berjalan selangkah demi selangkah. Terambil dari kata ini juga adalah anak tangga di mana seseorang dapat naik ke atas. Sama halnya dengan orang yang diistidraj. Ia dicekal melalui nikmat sedikit demi sedikit tanpa sadar. Allah berfirman, ‘Kami memperdayakan mereka dari jalan yang mereka tak ketahui,’ maksudnya kami cekal mereka dengan kenikmatan, lalu Kami jerumuskan mereka ke dalam siksa tanpa mereka sadar.

Perihal ini Syekh Zarruq berkata, ‘Wahai para murid, takutlah pada karunia-Nya untukmu berupa kesehatan, kelapangan, kucuran deras rezeki, dan aliran deras  kekuatan baik material maupun spiritual di tengah kedurhakaanmu terhadap-Nya berupa kelalaian dan keteledoran,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, halaman 101).

Orang yang terjaga mata batinnya selalu waspada dan khawatir atas penambahan nikmat dari Allah berupa harta, jabatan, status, eksistensi, dan lain sebagainya. Mereka khawatir nikmat itu merupakan istidraj dari Allah karena kerap lalai bersyukur atas nikmat itu. Kekhawatiran ini merupakan sifat orang-orang beriman.

“Takut pada ujian melalui nikmat Allah adalah sifat orang beriman. Tidak takut pada ujian kenikmatan di tengah kedurhakaan adalah sifat orang kafir. Sebagian ulama mengatakan, tanda-tanda istidraj adalah durhaka kepada Allah, terperdaya dengan ketenangan waktu, mengandung penundaan siksa atas kewajiban sampai pada-Nya. Ini adalah tipudaya tersembunyi. Allah berfirman, ‘Kami memperdayakan mereka dari jalan yang mereka tak ketahui,’ maksudnya tanpa mereka sadari. Syekh Ibnu Athaillah berkata, ‘Setiap kali mereka bermaksiat, Kami perbarui nikmat untuk  mereka dan kami membuat mereka lupa pada istighfar atas maksiat tersebut,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Indonesia, Maktabah Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah, halaman 51).

Manusia dianjurkan untuk selalu bersyukur kepada Allah dalam bentuk ucapan, keyakinan, dan tindakan. Dalam menerima nikmat dengan segala bentuknya, manusia juga ditekankan untuk tidak melupakan jasa dan budi baik orang lain. Agama menganjurkan manusia untuk berterima kasih terhadap sesama karena tanpa disadari manusia berutang budi satu sama lain sebagai disinggung Syekh Ibnu Ajibah berikut ini.

“Setiap orang, ketika merasakan nikmat lahir-batin dan material-spiritual, wajib mengetahui kewajibannya dan segera mensyukurinya melalui ucapan, keyakinan, dan perbuatan. Lidah mengucap ‘Alhamdulillah’. Mulut bersyukur. Keyakinan itu melihat kehadiran Allah dalam nikmat tersebut dan menyandarkan nikmat kepada-Nya, dan tak perlu lagi melihat sebab kucuran nikmat di mana semuanya diyakini dengan hati dan disyukuri dengan ucapan. Tetapi siapa yang tidak berterima kasih kepada orang lain atas jasanya, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Orang yang paling berterima kasih kepada orang lain adalah orang paling bersyukur kepada-Nya. Apabila seseorang berterima kasih kepada orang lain dengan ucapan, ‘Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalas budi baikmu),’ maka ia telah menjalankan kewajibannya untuk syukur. Bentuk syukur dengan perbuatan adalah penggunaan segala nikmat tersebut untuk taat kepada Allah sebagaimana keterangan lalu.

Kalau ia tidak bersyukur baik dengan ucapan, keyakinan, maupun perbuatan, dikhawatirkan nikmat itu ditarik atau menjadi istidraj. Istidraj ini lebih buruk daripada penarikan nikmat. Simpulannya, kewajiban syukur adalah adab kepada Allah sebagai pemberi nikmat. Orang yang su’ul adab ketika datang nikmat, maka akan diberi pelajaran agar beradab. Pengajaran di dalam batin ini yang kerap jarang disadari banyak orang,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, halaman 101-102).

Singkatnya, manusia harus menjaga adab kepada Allah dan kepada orang lain. Jangan sampai kufur nikmat dan tidak tahu terima kasih kepada orang lain. Manusia harus bersyukur kepada Allah dengan segala bentuknya dan juga berterima kasih kepada orang lain atas jasa mereka. Husnul adab menjadi kata kunci penolak istidraj. Wallahu a‘lam.

[Baca: Memahami Makna Rezeki dalam Pandangan Islam]

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *