Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 26 October 2023

Carilah Rezeki Secukupnya, Jangan Serakah


islamindonesia.id – Burung di langit, ular di rerumputan, ikan di lautan, dan cacing yang ada di dalam tanah, semuanya diberi rezeki oleh Rabb semesta alam.

Berkenaan dengan ini, Allah SWT berfirman: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak dan bernyawa, yang melata, merayap atau berjalan di muka bumi ini melainkan semuanya telah dijamin Allah rezekinya. Semua makhluk itu diberi naluri dan kemampuan untuk mencari rezeki sesuai dengan fitrah kejadiannya. Dia mengetahui tempat kediamanya ketika hidup di dunia dan mengetahui pula tempat penyimpanannya setelah mati. Semua itu sudah tertulis dan diatur serapi-rapinya dalam Kitab yang nyata, yaitu Lauh Mahfuz, perihal perencanaan dan pelaksanaan dari seluruh ciptaan Allah secara menyeluruh dan sempurna.” (QS. Hud:6)

Sedangkan Rasulullah s.a.w bersabda: “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini sekaligus menunjukkan bahwa yang disebut tawakal berarti melakukan usaha, bukan sekadar menyandarkan hati pada Allah. Karena burung saja pergi di pagi hari untuk mengais rezeki. Maka manusia yang berakal tentu harus melakukan usaha, bukan hanya bertopang dagu menunggu rezeki turun dari langit.

Bila kita sadar bahwa sebagai manusia kita lebih baik dalam berupaya daripada burung, ular, ikan, dan cacing itu, maka kita tak perlu bersedih dan khawatir hanya karena soal rezeki.

Banyak orang dililit kemiskinan, keruwetan dan tekanan hidup hanya karena mereka jauh dari Allah SWT. Misalnya, ada seorang yang kaya, rezekinya melimpah, badannya sehat dan mendapat kebaikan dari Rabbnya. Kemudian, ia berpaling dari ketaatan, sering meninggalkan shalat dan sering melakukan dosa-dosa besar. Maka Allah SWT akan mencabut kesehatannya dan keluasan rezekinya dan menimpakan kemiskinan, kesedihan dan kegundahan kepadanya. Setelah itu, dipastikan bahwa hidupnya tak akan jauh dari kesusahan yang satu ke kesusahan yang lain, dari bencana satu ke bencana yang lain.

Firman Allah SWT: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha:124)

Bila sebaliknya, Allah SWT berfirman: “Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup (rezeki yang banyak).” (QS. Al Jinn:16)

Fitrah manusia dalam menjalani hidup di dunia ini, tentu saja mereka menginginkan rezeki berlimpah dan hidupnya dipenuhi kebahagiaan. Sehingga tak mengherankan bila mereka seolah sibuk berlomba untuk mencapai itu semua agar disebut banyak rezeki atau berstatus sebagai orang kaya yang berlimpah harta. Padahal rezeki itu tidak harus berupa harta, kemewahan, atau jabatan. Mempunyai keluarga yang harmonis, anak-anak yang sehat dan cerdas, serta akal pikiran yang sehat juga merupakan rezeki.

Kebahagiaan yang nyata dan dapat kita rasakan merupakan harta terbesar yang seharusnya kita kejar dan berusaha untuk meraihnya dalam hidup ini.

Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu melakukan banyak hal sebagai penunjang.

Adapun hal yang bisa dilakukan untuk mencapai kebahagiaan itu antara lain adalah berpikir positf dan berbaik sangka, membersihkan jiwa dengan cara mendekatkan diri dan selalu mengingat Allah SWT, serta menanamkan mindset afirmasi atau motivasi yang positif.

Dengan melakukan tiga hal sederhana di atas secara konsisten, insya Allah kebahagiaan akan menyelimuti hidup kita.

Jika sudah bahagia, saatnya membuka kunci rahasia rezeki dan menjemputnya, karena rezeki tidak akan datang tiba-tiba dengan hanya berpangku tangan saja. 

EH/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *