Satu Islam Untuk Semua

Friday, 19 October 2018

Sedekah Laut itu Enkulturasi, Bukan Sinkretisme


Sedekah Laut itu Enkulturasi, Bukan Sinkretisme

islamindonesia.id – Sedekah Laut itu Enkulturasi, Bukan Sinkretisme

 

Sepekan terakhir, banyak pihak –terutama di media sosial— ramai-ramai menyoroti polemik tentang tradisi sedekah laut yang sejak lama sudah tak asing di tengah masyarakat, termasuk masyarakat di Pulau Jawa. Pasalnya, belakangan ada yang menganggap tradisi tersebut sebagai perilaku syirik, karena dicap memadukan ajaran Islam dengan aliran kepercayaan.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Maharsi, menjelaskan bahwa sebenarnya tradisi tersebut bukan sinkretisme yang ajarannya menyimpang dari agama Islam.

“Enkulturasi sebenarnya yang terjadi (misalnya dalam tradisi sedekah laut di Bantul dan beberapa daerah lain). Bagaimana menanamkan nilai-nilai agama dalam kebudayaan,” jelas dosen Sejarah dan Kabudayaan Islam ini.

Maharsi menjelaskan sebelum agama Islam datang, masyarakat di Nusantara telah memiliki kebudayaan yang mapan. Karakteristik budaya tersebut mencoba menyelaraskan hubungan manusia, alam gaib, dan lingkungan.

“Bagaimana nilai-nilai Islam itu dimasukkan dalam budaya Jawa yang sudah mengembangkan harmonisasi antara manusia dengan lingkungan itu. Itu yang terjadi sebenarnya,” paparnya.

“Maka doa-doanya ala Islam, doa-doa dalam rangka tauhid, dalam rangka akidah (dimasukkan). Ini yang kemudian orang secara umum memaknainya sinkretis, padahal bukan,” ungkapnya.

Menurutnya, sinkretisme dengan enkluturasi adalah dua hal yang berbeda. Sinkretisme merupakan paham hasil perpaduan dua keyakinan yang berbeda, sehingga membentuk paham baru yang berbeda dari ajaran aslinya.

Sementara enkulturasi merupakan perpaduan antara ajaran agama dengan kebudayaan masyarakat setempat. Akhirnya terbentuk budaya baru seperti tradisi sedekah laut.

“Mereka beragama Islam, tapi tetap ingin mempertahankan tradisi yang dianggap unggul, dianggap luhur, karena menghubungkan antara alam dan manusia sebagai sahabat, sebagai suatu hubungan yang saling menguntungkan,” pungkasnya.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *