Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 25 March 2014

Peluru Tinja dan Invasi Batavia


foto:wikipedia.org

Sepenggal  kisah lucu yang terlupakan dari  peristiwa invasi militer Mataram ke Batavia

 

TAHUN 1628 dan 1629, Kerajaan Mataram pernah dua kali menggempur Batavia. Begitu dasyatnya penyerbuan tersebut, hingga meninggalkan kisah-kisah yang berkesan bagi para penduduk Batavia. Konon saat puncak penyerangan terjadi, di beberapa titik kota terjadi pertempuran satu lawan satu yang sangat seru dan heroik bagi kedua pihak. Salah satu pertempuran yang paling “kejam dan lucu” terjadi di sekitar kawasan Benteng Tepi Selatan VOC, yang saat ini terletak di kawasan Stasiun Kota, Jakarta Utara.

Dalam Historical Sites of Jakarta, Adolf Heuken menyitir sebuah kisah berbahasa Jerman yang diambilnya dari tulisan Johan Neuhoff berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Nederlaendern an den Tatarischen Cham, yang diterjemahkan dari naskah Belanda 1666. Tulisan itu menceritakan sebuah bataliyon VOC yang nyaris hancur lebur oleh serangan bergelombang para prajurit Mataram. Di tengah krisis makanan dan amunisi serta keadaan moril yang runtuh, tiba-tiba seorang tentara bayaran asal Pfalz, Jerman bernama Sersan Hans Madelijn mendapat ilham untuk membuat sebuah siasat gila. Ia memerintahkan pasukannya untuk menyiramkan (maaf) tinja kepada pasukan Kerajaan Mataram yang berusaha memanjat tembok benteng.

Demi mendapat “serangan aneh dan menjijikan” itu, para prajurit tempur Mataram kontan berloncatan dan lari lintang pukang. Dengan menutupi hidung, mereka menghindari Benteng Selatan seraya menggerutu marah: “O seytang orang Ollanda de bakkalay samma tay!” Sebuah ungkapan bahasa Melayu kuno yang artinya “Dasar Setan, orang-orang Belanda itu berkelahi pakai (maaf) tahi!”

“Dari peristiwa itu, untuk pertama kali kata-kata Melayu tercatat dalam buku berbahasa Jerman,” kata Heuken.

Berdasarkan kejadian tersebut, banyak yang percaya, konon nama Betawi berasal dari seruan jijik para prajurit Mataram yakni (sekali lagi maaf) bahu tay alias bau tinja. Tentu saja soal ini dibantah keras oleh Ridwan Saidi. Sang tokoh Betawi tersebut menyatakan kata betawi sebenarnya berasal dari kata batavia yang dialihbahasakan dalam tulisan arab/melayu pegon saat itu sebagai ba ta wau ya (huruf arab/melayu pegon tak mengenal V). 

“Aslinya sebenarnya batawi kemudian lama-lama menjadi betawi karena kecenderungan penggunaan huruf e di kalangan orang-orang Betawi,” tulis Ridwan Saidi dalam Profil Orang Betawi. 

 

Sumber: Islam Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *