Satu Islam Untuk Semua

Monday, 06 June 2016

OPINI—Kenapa Nyadran Jelang Ramadhan Harus Dilarang?


Nyadran

IslamIndonesia.id—Kenapa Nyadran Jelang Ramadhan Harus Dilarang?

Beberapa hari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, ternyata tak hanya warga biasa, bahkan Presiden dan Wapres pun diberitakan sengaja pulang ke kampung halaman masing-masing sekadar untuk “nyadran” menjelang puasa. Jika Jokowi “nyekar” ke makam ayahnya di Karang Anyar, JK pun tak ketinggalan, melakukan hal serupa, “nyadran” ke pekuburan keluarganya di Makassar.

Begitulah nyadran menjadi tradisi yang hingga kini tetap lestari di tengah bangsa kita, khususnya mereka yang beragama Islam, dan lebih khusus lagi bagi sebagian besar kaum Muslimin di tanah Jawa.

Bagaimana sebenarnya asal usul nyadran dan sejak kapan tradisi ini dikenal oleh masyarakat kita?

Dalam buku Kalangwan (1974) karya orientalis Belanda bernama P.J. Zoetmulder, disebutkan bahwa istilah nyadran sendiri berasal dari istilah sadran, sraddha, nyraddha, nyraddhan yang juga disebut-sebut dalam kiitab Kidung Buwana Sekar, sebagai semacam upacara tabur bunga (Jawa: sekar) untuk memperingati kematian Ratu Tribuwana Tungga Dewi pada tahun 1350. Bahkan upacara sraddha ini konon sudah berlangsung sejak zaman Majapahit. Dari prosesi tabur bunga atau sekar itulah kemudian muncul istilah lain dari ziarah kubur di kalangan masyarakat Jawa yaitu “nyekar”.

Di masa kita sekarang, makna nyadran tampak sudah mulai bergeser dari hanya sekadar aktivitas tabur bunga atau semata-mata nyekar ke kuburan leluhur, menjadi tambah beragam dengan adanya kegiatan-kegiatan lain yang sepintas dinilai lebih Islami.

Maka selain nyekar sambil membersihkan kuburan sanak-kerabat yang sudah wafat, ada pula beberapa keluarga yang menambahinya dengan memberi sedekah kepada kaum dhuafa dan fakir miskin atau dengan cara menggelar acara makan bersama anak yatim di areal pekuburan, beralas tikar atau daun pisang. Sementara sebagian keluarga lain ada yang mengadakan kenduri di rumah sesepuh keluarga mirip saat tibanya momen lebaran.

Meski sudah lama diakui sebagai tradisi warisan leluhur yang mesti dilestarikan, namun ada pula sebagian kalangan yang menyebut nyadran dilarang dan haram hukumnya dalam Islam. Kelompok ini biasanya menjustifikasi pendapat mereka dengan sebuah hadis yang melarang atau mengharamkan umat Islam menyerupai umat lain. Dan karena asal muasal nyadran dianggap bermula dari upacara agama Hindu di Jawa, maka sebagian kalangan yang mengharamkan nyadran itu pun mengatakan bahwa barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk ke dalam golongan kaum itu.

Apakah pendapat semacam itu sepenuhnya benar?

Anggap saja bahwa hadis ini benar, namun bisakah penerapannya serta-merta dilakukan dengan cara “main pukul rata” dan hanya berbekal alasan sesederhana itu?

Dapatkah diklaim sepihak bahwa setiap hal yang sama itu pasti meniru?

Jika umat Islam melakukan ziarah kubur dan non-Muslim pun melakukan ziarah kubur, maka bisakah dikatakan bahwa pelaku ziarah kubur otomatis dianggap menyerupai, sehingga dengan demikian dapat pula dicap sebagai golongan non-Muslim?

Bukankah ziarah kubur juga diperintahkan dalam Islam?

Contoh lain, jika umat Islam berpuasa lalu ada juga umat lain seperti Hindu dan Kristen berpuasa, apakah ini berarti bahwa umat Islam telah meniru ritual umat lain?

Sebagaimana para Wali Songo yang pada masanya telah berhasil mengelaborasi tradisi, budaya dan kearifan lokal dalam aktivitas dakwah mereka, sehingga banyak kalangan yang kemudian tertarik kepada Islam yang rahmatan lil ‘alamin, bukankah kita yang hidup di zaman ini dapat pula memberikan penghargaan yang sama terhadap peluang tetap lestarinya tradisi, budaya dan kearifan lokal, sejauh hal-hal tersebut tidak bertentangan dan menyalahi kaidah-kaidah keberagamaan?

Apalagi bila kita tahu bahwa Rasulullah saw sendiri pun tidak melarang bahkan sebaliknya menganjurkan umatnya untuk berziarah kubur, demi memperoleh manfaat agar mereka senantiasa ingat tentang kematian dan menambah keyakinan pada kepastian bakal adanya pengadilan di alam akhirat kelak.

Sebagaimana penjelasan di atas, jika nyadran diartikan sebagai ziarah kubur, dengan niat mendoakan penghuni kubur, selain sebagai bahan perenungan bagi si peziarah, bukahkah hal itu boleh dilakukan dan bahkan dianjurkan?

Mungkin yang perlu dipahami adalah bahwa sebenarnya ziarah kubur itu tidak harus dilakukan sebelum Ramadhan, melainkan bisa dilakukan kapan saja di bulan-bulan dan hari lain. Artinya, jangan sampai timbul keyakinan bahwa ziarah kubur di waktu lain itu tidak afdhal. Apalagi jika sampai muncul keyakinan bahwa jika tidak melakukan nyadran sebelum bulan Ramadhan maka puasanya bakal menjadi tidak sah atau bahkan hidupnya tidak akan berkah. Keyakinan semacam itulah yang mungkin kurang pada tempatnya. Sementara prosesi ziarahnya, asal saja dilakukan dengan kesadaran demi mengingatkan pada kematian dan kehidupan akhirat, bisa dikatakan tetap benar.

Terlebih lagi bila prosesi nyadran itu masih diiringi dan ditambah lagi dengan menggelar makan bersama dalam rangka bersedekah kepada kaum dhuafa, memberikan bingkisan sembako kepada fakir miskin dan anak-anak yatim demi menggembirakan hati mereka saat menjelang Ramadhan. Dan di sisi lain, jika semua aktivitas itu sejatinya merupakan salah satu di antara ekspresi dan wujud tanda syukur serta kebahagiaan kita sendiri dalam menyambut datangnya “bulan Allah” tersebut. Bukankah hal semacam itu merupakan perilaku mulia dalam agama?

Dan sebagaimana sabda Nabi, bukankah sesiapa bergembira dengan akan segera masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka?

Akhirnya, semoga di tahun ini kita masih dapat bertemu dan diperkenankan Allah mampu menjalani keseharian kita yang penuh kekhusyukan dan keindahan dalam mengamalkan perintah Allah bersama Ramadhan.

Mari berharap mudah-mudahan di sisa umur yang tersisa ini, kita dapat menghiasi hari-hari Ramadhan kita, dengan amal ibadah, baik bersifat pribadi maupun sosial. Sehingga kita tercatat di sisi Allah SWT sebagai sebenar-benar hamba-Nya yang layak meraih predikat takwa. Menjadi insan mulia yang beruntung di dunia maupun di akhirat.

 

EH/IslamIndonesia

0 responses to “OPINI—Kenapa Nyadran Jelang Ramadhan Harus Dilarang?”

  1. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H, Mohon Maaf Lahir Batin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *