Satu Islam Untuk Semua

Friday, 01 July 2016

KHAS—Mengenal Tapa, ‘Saudara Kembar’ Puasa bagi Muslim Jawa  


Tapa Saudara Kembar Puasa bagi Muslim Jawa

IslamIndonesia.id—Mengenal Tapa, Saudara Kembar Puasa bagi Muslim Jawa

 

Hampir semua pemeluk aliran kepercayaan dan agama mengenal tapa atau puasa sebagai salah satu ritual yang dianjurkan, bahkan wajib dilakukan pada saat-saat tertentu dengan tatacara dan prosesi yang berbeda-beda.

Lebih menariknya lagi, ternyata tak hanya di lingkungan manusia saja, banyak pula jenis hewan yang melakukan “puasa” setidaknya sekali atau dua kali dalam rentang waktu setahun hidup mereka. Sebut saja ular yang biasanya mengurung diri beberapa hari sebelum melakukan pergantian kulit. Ada juga ulat yang harus membungkus diri dalam kepompong sebelum kemudian berubah menjadi kupu-kupu.

Seperti telah diuraikan dalam tulisan Makna Tapa dan Puasa dalam Khazanah Tradisi Jawa, disebutkan bahwa jauh sebelum agama-agama samawi masuk ke Nusantara, masyarakat Jawa telah mengenal istilah tapa. Yakni sebuah ritual atau lelaku yang dimaksudkan selain sebagai upaya pengendalian diri dalam bentuk meditasi untuk mencapai ketenangan batin dan mencapai strata spiritual Manunggaling Kawula lan Gusti, kadang juga dilakukan sekadar sebagai praktik ritual khusus dengan tujuan semata mencapai kesehatan raga saja.

Secara umum, arti tapa adalah suatu tindakan untuk mematikan keinginan ragawi untuk bisa menemukan titik ketenangan rohani yang paling inti. Dengan kata lain, tapa atau semedi ini dilakukan untuk pencapaian tingkat kualitas kemanusiaan yang tertinggi.

Lalu apa saja jenis-jenis tapa yang dikenal di kalangan masyarakat Jawa?

***

Sebelum membahasnya lebih lanjut, ada baiknya kita perjelas dulu apa dan siapa yang dimaksud dengan masyarakat Jawa.

Frans Magnis Suseno menyatakan bahwa yang dimaksud masyarakat Jawa adalah sekumpulan orang-orang yang bahasa ibunya bahasa Jawa dan merupakan penduduk asli bagian tengah dan timur pulau Jawa.

Sementara menurut sosiolog Koentjaraningrat, berdasarkan golongan sosial, orang Jawa diklasifikasi menjadi 2 (dua), pertama yaitu wong cilik (orang kecil) yang terdiri dari petani dan mereka yang berpendapatan rendah. Kedua, adalah kaum priyayi yang terdiri dari pegawai dan kalangan intelektual, serta kaum ningrat yang gaya hidupnya tak jauh berbeda dari kaum priyayi.

Sedangkan berdasarkan keberagamaannya, masyarakat Jawa dibedakan dalam dua kelompok besar. Pertama, Jawa Kejawen atau sering disebut kaum abangan yang dalam kesadaran dan cara hidupnya ditentukan oleh tradisi Jawa pra-Islam; dalam hal ini, kaum priyayi tradisional hampir seluruhnya dianggap Jawa Kejawen, walaupun mereka secara resmi mengaku Islam. Kedua, kaum santri yang memahami dan menyadari dirinya sebagai Muslim yang dengan kekuatan orientasinya terhadap agama Islam berusaha menjalankan kehidupannya sesuai prinsip-prinsip yang diatur dalam ajaran Islam.

***

Kembali ke soal tapa, Ensiklopedi Kebudayaan Jawa menyebutkan beberapa jenis tapa yang dikenal di Jawa. Selain tentu saja tapa/pasa Ramadhan, yang dilakukan sama persis dengan puasa wajib di bulan Ramadhan, hanya saja sebelumnya, tepatnya di akhir bulan Ruwah (Sya’ban) dilakukan mandi suci dengan mencuci rambut; beberapa di antaranya ada yang dinamakan tapa kungkum, tapa mutih, tapa ngalong atau tapa nggantung, tapa ngrawat, tapa ngeli, tapa ngrame, tapa mendem,  tapa pati geni dan tapa ngebleng.

Semua jenis tapa ini, memiliki spesifikasi prosesi atau metode dan tujuan yang berbeda-beda. Seperti tapa kungkum yang dilakukan dengan menenggelamkan tubuh sampai batas leher dalam waktu tertentu, biasanya di tengah laut dan pada waktu malam hari.

Tapa mutih, yang dilakukan dengan hanya mengonsumsi jenis minuman atau makanan yang “tak berwarna” selama kurun waktu tertentu, misalnya hanya makan nasi selama 7 hari berturut-turut atau berpantang dari makan garam selama 3 atau 7 hari.

Tapa ngalong atau tapa nggantung di pohon, yang dilakukan dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah seperti kalong.

Tapa ngrawat, dengan hanya makan sayur-sayuran selama 7 hari 7 malam.

Tapa pati geni, yaitu tapa yang dilakukan dengan tidak makan makanan yang dimasak dengan api selama 1 hari 1 malam.

Tapa ngeli (eli=hanyut), yang dilakukan dengan menghanyutkan badan di aliran air.

Tapa mendem, yang dilakukan dengan cara serupa khalwat atau bersembunyi (mendem) dari keramaian.

Tapa ngrame, yang artinya tanpa pamrih siap berkorban atau menolong siapa saja dan kapan saja dibutuhkan.

Ada juga tapa ngebleng, yang dilakukan dengan cara tidak makan dan tidak tidur selama 3 hari 3 malam, dan masih banyak lagi jenis-jenis tapa yang lain.

Selain berbagai jenis tapa di atas, manusia Jawa kadang juga melakukan tapa yang berhubungan dengan pengendalian jiwa dan anggota badan. Bersamaan dengan tapa, mereka juga melakukan semacam pengorbanan atau zakat yang harus dilakukan untuk menyempurnakan kualitas tapa tersebut.

Di atas semua itu, manusia Jawa juga percaya bahwa badan, hati, nafsu, nyawa, rasa (rahsa, roso), cahaya, dan atma atau hayyu, masing-masing memiliki tapa dan sekaligus harus ditunaikan “zakat”-nya. Apa saja tapa dan zakat ketujuh hal tersebut?

Badan, tapanya berlaku sopan dan santun, zakatnya rajin atau gemar berbuat kebajikan. Hati atau budi, tapanya rela dan sabar, zakatnya bersih dari prasangka buruk. Nafsu, tapanya berhati ikhlas, zakatnya tabah menjalani cobaan dalam sengsara dan mudah mengampuni kesalahan. Nyawa (roh), tapanya berlaku jujur, zakatnya tidak mengganggu dan suka mencela orang lain. Rahsa, tapanya berlaku utama, zakatnya suka menyesali kesalahan (tobat). Cahaya (nur), tapanya berlaku suci, zakatnya berhati bening. Atma (hayyu), tapanya berhati awas, zakatnya berhati selalu ingat (eling).

Lebih detail lagi, bahkan setiap bagian tubuh manusia secara fisikpun mesti dikendalikan dengan tapa agar dapat meraih hidup dalam kesempurnaan. Mata, telinga, hidung, lisan, aurat, tangan, kaki, semuanya harus dikendalikan untuk tidak berbuat buruk dan diarahkan untuk bisa melakukan derma kebaikan kepada siapapun. Seperti mata, tapanya dengan mengurangi tidur, lisan dengan mengurangi makan, dan seterusnya.

Sementara itu, ajaran tertinggi manusia Jawa sebagaimana diajarkan oleh Syekh Siti Jenar adalah Manunggaling Kawula lan Gusti. Tak heran bila manusia Jawa yang menyadari posisinya sebagai manusia Jawa sejati, harus selalu berusaha untuk meraih maqam tersebut. Bagaimana caranya? Ya. Salah satunya adalah dengan laku tapa. Tapa apa saja?

Salah seorang tokoh Jawa bernama Ki Ageng Suryo Mentaram, menyebutkan setidaknya ada tujuh jenis tapa yang mesti dijalani oleh setiap manusia Jawa yang ingin meraih predikat Manunggaling Kawula lan Gusti, yaitu:

  1. Tapa Jasad, yakni laku jasmani. Hati agar dibersihkan dari sifat benci dan sakit hati, rela atas nasibnya, merasa dirinya lemah, tak berdaya. Hal ini merupakan tingkah laku yang berada dalam tataran syariat.
  2. Tapa Budi, yaitu laku batin atau laku tarekat. Hati harus jujur, menjauhi berbuat dusta, segala janji harus ditepati.
  3. Tapa Hawa Nafsu, yakni berjiwa sabar dan alim serta suka memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Jika kita dianiaya orang lain, hendaknya membalas dengan cara sewajarnya atau lebih baik lagi jika diserahkan kepada Allah SWT, agar diampuni dosanya.
  4. Tapa Brata atau Tapa Rasa Sejati, yakni memaksa diri melakukan semedi, mencapai ketenangan batin atau apa yang disebut sebagai kondisi beningbeningekalbu.
  5. Tapa Sukma, yaitu bermurah hati atau ambekprama arta, yakni dengan rela dan ikhlas mendermakan apa yang dimiliki. Jangan suka mengganggu orang lain dan agar dapat ngemong (mendidik) hati orang lain.
  6. Tapa Cahaya yang memancarkan atau biasa disebut CahyaAmuncar, agar hati selalu awas dan ingat, mengerti lahir dan batin, sanggup mengenal yang rumit antara yang palsu dan yang sejati. Selalu mengutaman tindak yang mendatangkan keselamatan, suka membuat terang hati orang yang sedang kesulitan dengan jalan mendermakan tenaga, harta, dan pikiran atau ilmunya.
  7. Tapa Hidup atau Tapaning Urip, yakni hidup dengan penuh kehati-hatian dengan hati yang teguh, dengan hati yang percaya dan jauh dari was-was dan khawatir terhadap apa yang akan terjadi bermodal keyakinan penuh dan kepasrahan total pada ketentuan dan kebijaksanaan Allah SWT.

Itulah beragam jenis tapa yang dikenal dalam khazanah tradisi Jawa sejak dahulu kala sebelum masuknya agama-agama samawi ke Bumi Nusantara.

Jika kita perhatikan secara saksama, bukankah kesemuanya mengandung nilai-nilai ajaran kebaikan universal sebagaimana yang terdapat dalam sebagian ajaran agama-agama, meski tetap saja “dibahasakan” secara berbeda oleh manusia Jawa?

Wallahu ‘a’lam…

 

EH/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *