Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 22 September 2016

KHAS—Jawa Sejati Muslim Sejati (Telaah 7 Tapa Ki Ageng Suryomentaram)


jawa-sejati-muslim-sejati-telaah-7-tapa-ki-ageng-suryomentaram

IslamIndonesia.id—Jawa Sejati Muslim Sejati (Telaah 7 Tapa Ki Ageng Suryomentaram)

 

Dalam Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, Purwadi mengemukakan ada banyak jenis tapa yang dikenal dalam dunia Jawa. Tapa kungkum, tapa mendem, tapa mutih, tapa ngalong, tapa ngeli, tapa ngrame, tapa ngrawat, tapa ngebleng, tapa nggantung, tapa ngidang, dan  tapa pati geni. Semua jenis tapa ini, memiliki spesifikasi tindakan dan tujuan yang berbeda-beda. Seperti tapa kungkum dilakukan dengan menenggelamkan diri sampai batas leher dalam waktu tertentu. Tapa ngrawat, tapa yang hanya makan sayur-sayuran selama tujuh hari tujuh malam. Tapa pati geni, yaitu tapa tidak makan makanan yang dimasak dengan api selama sehari semalam.

[Baca: KHAS –Makna Tapa dan Puasa dalam Khazanah Tradisi Jawa]

Selain berbagai jenis tapa di atas, manusia Jawa juga melakukan tapa yang berhubungan dengan pengendalian jiwa dan anggota badan. Bersamaan dengan tapa, juga melakukan semacam pengorbanan atau zakat yang harus dilakukan untuk menyempurnakan.

Badan, tapanya berlaku sopan santun, zakatnya rajin atau gemar berbuat kebajikan. Hati atau budi, tapanya dengan rela dan sabar, zakatnya bersih dari prasangka buruk. Nafsu, tapanya berhati ikhlas, zakatnya tabah menjalani cobaan dalam sengsara dan mengampuni kesalahan. Nyawa (roh), tapanya berlaku jujur, zakatnya tidak mengganggu orang lain dan tidak mencela. Rahsa, tapanya berlaku utama, zakatnya suka dan menyesali kesalahan (tobat). Cahaya (nur), tapanya berlaku suci, zakatnya berhati bening. Atma (hayyu), tapanya berhati awas, zakatnya berhati selalu ingat.

Setiap bagian tubuh manusia secara fisik pun mesti dikendalikan dengan tapa agar dapat meraih hidup dalam kesempurnaan. Mata, telinga, hidung, lisan, aurat, tangan, kaki, semuanya harus dikendalikan untuk tidak berbuat buruk dan diarahkan untuk bisa melakukan derma kebaikan kepada siapapun. Seperti mata, tapanya dengan mengurangi tidur, lisan dengan mengurangi makan, dan seterusnya.

Sementara itu, ajaran tertinggi pada manusia Jawa adalah Manunggaling Kawula lan Gusti, sehingga setiap manusia mestinya selalu berusaha untuk mendapatkan pengalaman tersebut. Untuk memperoleh pengalaman tersebut, artinya agar menjadi manusia Jawa yang sejati, orang itu harus melakukan tapa.

[Baca: KHAS – Tafsir Sosial Manunggaling Kawula Gusti (1) dan Tafsir Sosial Manunggaling Kawula Gusti (2)]

Menurut Ki Ageng Suryomentaram, seorang tokoh Jawa terkenal, setiap manusia harus menjalankan tujuh macam tapa, yaitu:

Pertama, Tapa Jasad, yakni laku jasmani. Hati agar dibersihkan dari sifat benci dan sakit hati, rela atas nasibnya, merasa dirinya lemah, tak berdaya. Hal ini merupakan tingkah laku yang berada dalam tataran syariat.

Kedua, Tapa Budi, yaitu laku batin atau laku tarekat. Hati harus jujur, menjauhi berbuat dusta, segala janji harus ditepati.

Ketiga, Tapa Hawa Nafsu, yakni berjiwa sabar dan alim serta suka memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Walaupun kita dianiaya orang lain, lebih baik diserahkan kepada Allah SWT, agar si zalim diampuni dosanya.

Keempat, Tapa Brata atau Tapa Rasa Sejati, yakni memaksa diri melakukan semedi, mencapai ketenangan batin  atau beningbeninge kalbu.

Kelima, Tapa Sukma, yaitu bermurah hati  atau ambek prama arta dengan rela ikhlas mendermakan apa yang dimiliki. Jangan suka mengganggu orang lain dan agar dapat mengemong hati orang lain.

Keenam, Tapa Cahaya yang Memancarkan atau cahya amuncar, yaitu agar hati selalu awas dan ingat, mengerti lahir dan batin, sanggup mengenal yang rumit antara yang palsu dan yang sejati. Selalu mengutamakan tindak yang mendatangkan keselamatan, suka membuat terang hati orang yang sedang kesulitan dengan jalan mendermakan tenaga, harta, dan pikiran atau ilmunya.

Ketujuh, Tapa Hidup atau tapaning urip, yakni hidup dengan penuh kehati-hatian dengan hati yang teguh, dengan hati yang percaya, tidak khawatir terhadap apa yang akan terjadi lantaran yakin sepenuhnya akan kebijakan Allah SWT.

Demikian makna Tujuh Tapa dalam kehidupan manusia Jawa menurut Ki Ageng Suryomentaram, yang di kalangan masyarakat Jawa dikenal sebagai salah satu sosok Guru Kawruh Begja.

[Baca: KHAS—Mengenal Sosok Guru Kawruh Begja, Ki Ageng Suryomentaram]

Dengan meresapi makna lalu mengamalkan Tujuh Tapa tersebut, diharapkan manusia Jawa dapat terbantu dalam upayanya untuk menjadi Muslim sejati.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *