Satu Islam Untuk Semua

Monday, 11 July 2016

KHAS—Badha Kupat: Simbol Permaafan Tulus Tanpa Akhir


Kupat

IslamIndonesia.id—Badha Kupat: Simbol Permaafan Tulus Tanpa Akhir

 

Badha Kupat atau lebaran ketupat merupakan salah satu hasil akulturasi budaya asli Indonesia dengan Islam. Sebagai tradisi Jawa yang saat ini sudah menasional dan dapat kita jumpai di masyarakat Madura, Sumatra dan Kalimantan, pelaksanaan “lebaran kecil” yang juga disebut Syawalan ini bersamaan waktunya di tiap daerah, yaitu sepekan pasca 1 Syawal atau pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri. Maka waktu Badha Kupat tahun ini, tanpa perlu Sidang Isbat, insya Allah dapat dipastikan jatuh pada hari Rabu, 13 Juli 2016.

Tradisi ini bisa dikata hanya bisa dijumpai di tengah masyarakat Indonesia. Sebagai lebaran kecil, yang merupakan penanda “kemenangan kedua” setelah lelaku Puasa sunnah Syawal 6 hari atau sepekan, lebaran ketupat identik dengan kemenangan besar saat Idul Fitri setelah Puasa Ramadhan selama 30 hari atau sebulan penuh. Maka sebagaimana tujuan perayaan Idul Fitri, Badha Kupat pun dirayakan dengan tujuan yang sama seperti tujuan berhari raya Idul Fitri, yaitu (kembali) saling memaafkan dan (tak putus-putusnya) bersilaturahim.

Mungkin inilah yang dapat disebut sebagai hasil “kreasi” kaum Muslim Jawa dalam menerjemahkan anjuran atau sunnah Nabi terkait puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal atau setelah berlangsungnya perayaan Idul Fitri, yang imbalan pahalanya setelah ditambah imbalan puasa Ramadhan, dipercaya setara dengan puasa setahun penuh.

Bagaimana hitungan setara setahun penuh yang dimaksud? Secara sederhana, Muslim Jawa percaya bahwa setiap kebaikan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, akan berlipat ganda sepuluh kali hitungan nilai pahalanya. Maka puasa Ramadhan yang 30 hari, nilai pahalanya bisa dianggap setara 300 hari. Sementara puasa Syawal selama 6 hari, nilai pahalanya setara 60 hari puasa. Dengan demikian, maka nilai pahala puasa wajib di bulan Ramadhan ditambah nilai pahala puasa Sunnah di bulan Syawal adalah 360 hari, atau kurang lebih setahun.

Di kalangan masyarakat Jawa yang gemar menyematkan nilai-nilai luhur kehidupan dalam berbagai ragam simbol, istilah kupat sendiri pun ternyata tak lepas dari makna dan tujuan perayaan Badha Kupat tersebut.

Adalah Sunan Kalijaga yang konon pada awalnya memperkenalkan kupat atau ketupat kepada masyarakat Muslim Jawa pada masanya. Sepintas, istilah ini mengacu pada penganan semacam lontong. Hanya saja, berbeda dengan lontong yang dibungkus dengan daun pisang, maka ketupat dibungkus dengan janur yang dianyam berbentuk segi empat. Namun bila ditelusuri lebih jauh, ternyata kata kupat sebenarnya merupakan singkatan dari kata ngaku lepat dalam bahasa Jawa yang berarti “mengaku(i) (ke)salah(an)”. Itu sebabnya memakan suguhan ketupat—baik yang diberikan kepada para tamu yang datang berkunjung saat silaturahim, maupun ketupat yang saling diantarkan dari rumah ke rumah saat Badha Kupat, dapat dimaknai sebagai kesediaan saling memaafkan antar sesama Muslim di hari raya Syawalan tersebut. Memakan habis ketupat itu, ibarat saling menelan habis dan melupakan pula setiap kesalahan yang pernah diperbuat. Itulah pertanda sudah saling rela dan saling memaafkan kesalahan masing-masing antara tuan rumah dan tamu, antara pihak yang mengantar/memberi dan pihak yang diberi ketupat. Inilah simbol permaafan tulus tiada akhir di kalangan masyarakat Jawa.

Saat lebaran itulah semua orang Jawa ngaku lepat atau berebut mengaku salah, setelah setahun lamanya saling berebut benar. Tak hanya yang muda, bahkan orang tua pun yang biasanya dianggap “tak pernah salah” dan dianggap lebih layak dimintai maaf oleh yang muda, saat lebaran justru ikut berebut mengaku salah dengan mengatakan, “Wong tuwo ugo akeh lupute,” yang artinya: orang tua juga banyak salahnya. Coba kita ingat, di hari-hari lain di luar lebaran, apakah para orang tua akan senantiasa serendah hati itu? 🙂

***

Makna Janur dan Bentuk Segi Empat

Tak cukup hanya sampai di situ, ternyata pemilihan bahan janur kuning sebagai pembungkus ketupat pun bukan asal pilih tanpa sadar. Begitupun bentuk segi empat dari ketupat. Banyak makna tersirat yang juga ingin disampikan para leluhur kepada kita terkait hal tersebut.

Dari lisan para sesepuh dan tetua, kita menjadi paham bahwa ternyata dalam kata janur itu terkandung makna sejatine nur atau hakikatnya cahaya, sebagai perlambang kondisi jiwa manusia yang sudah kembali suci lahir-batin, kembali fitri pasca masa “pencerahan” selama Ramadhan dan Syawal.

Adapun bentuk ketupat segi empat mencerminkan prinsip kiblat papat lima pancer, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti akan selalu kembali kepada Allah. Kiblat papat lima pancer, kadang juga diartikan sebagai empat macam nafsu manusia, yaitu nafsu amarah, nafsu untuk memuaskan rasa lapar, nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah, dan nafsu untuk memaksa diri. Keempat nafsu inilah yang mesti ditaklukkan selama berpuasa. Maka dengan memakan ketupat segi empat saat Badha Kupat, orang Jawa dinilai sudah mampu menaklukkan keempat nafsu tersebut.

Bagaimana halnya dengan tingkat kerumitan pembuatan anyaman janur pembungkus ketupat? Konon itulah cerminan betapa rumitnya mengenali berbagai macam kesalahan manusia. Maka untuk menghapus semua kesalahan itu, tiap orang mesti saling meminta atau memberi maaf.  Melalui warna putih ketupat ketika dibelah dua itulah tercermin kebersihan dan kesucian diri manusia setelah mereka mampu memohon maaf dan memaafkan atas segala khilaf dan kesalahan.

Itulah sekilas filosofi Badha Kupat dalam khazanah budaya Jawa, yang melambangkan keluhuran budi berupa kesediaan saling maaf dan memaafkan tanpa akhir.

Akhirnya, mangan kupat nganggo santen. Menawi lepat, nyuwun pangapunten…

 

 EH/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *