Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 14 July 2018

Cara Cerdik Sunan Kalijaga Kenalkan Konsep Tauhid Lewat Lakon Bima Suci (2)


Cara Cerdik Sunan Kalijaga Kenalkan Konsep Tauhid Lewat Lakon Bima Suci (2)

islamindonesia.id – Cara Cerdik Sunan Kalijaga Kenalkan Konsep Tauhid Lewat Lakon Bima Suci (2)

 

Tulisan ini adalah bagian kedua atau kelanjutan dari tulisan: Cara Cerdik Sunan Kalijaga Kenalkan Konsep Tauhid Lewat Lakon Bima Suci (1)

 

Penjelasan Ketuhanan

Setelah memasuki badan Dewa Ruci, maka Bima menjadi bingung. Tidak lagi tahu arah, tidak ada lagi bobot, melayang-layang tanpa arah. Namun tidak ada juga rasa takut ataupun ngeri. Yang ada hanya rasa nyaman yang luar biasa. Karena sepi, Bima diam saja… Namun dalam hati Bima bertanya, apa gerangan yang sedang dirasakannya. Tanpa diduga ada suara menjawab, seperti suara sang Dewa Ruci.

Ruci: “Itulah gambaran apa yang disebut sangkanparaning dumadi. Sebelum kamu dilahirkan, kamu berada di jagad seperti itu”.
Bima: “Rasanya nyaman sekali, kenapa?”
Ruci: “Karena kamu seirama dengan pusat kekuatan alam, yaitu Dzat Yang Maha Sempurna yang menghidupkanmu di rahim ibumu. Apa saja yang kamu perlukan mengalir sendiri tanpa kamu harus memintanya”.
Bima: “Kenapa saya lantas dilahirkan ke dunia?”
Ruci: “Itu maunya Sang Maha Penguasa, kamu dilahirkan untuk melakukan kewajiban tertentu.”
Bima: “Kemana kelak aku kembali?”
Ruci: “Perhatikan warna-warna cahaya yang mengelilingimu sekarang.”
Bima: “Waaah ini muncul panca warna, kuning, merah, hitam dan putih… semuanya indah dan menyenangkan”

Dewa Ruci lantas menjelaskan tentang arti warna-warni yang indah tersebut. Intinya warna itu melambangkan hasrat dan nafsu. Semuanya tampak indah menyenangkan. Tapi kalau diikuti, dampaknya tidak sama.

Bima pun termangu-mangu memperhatikan sambil merasakan kenyamanan tiap cahaya tersebut sampai berhari-hari. Akhirnya muncul cahaya kelima yang warnanya aneh dan menghadirkan kenyamanan yang luar biasa jauh lebih nyaman dibanding cahaya-cahaya yang sebelumnya.

Bima: “Pukulun, ini muncul warna yang aneh, tapi membawa kenyamanan yang luar biasa.”
Ruci: “Warna seperti apa?”
Bima: “Tidak seperti warna yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Sungguh tidak ada yang menyamainya.”
Ruci: “Tentu kamu tidak tahu, karena itulah wujud dari sang Maha Pencipta. Di alam semesta ini tidak ada yang menyamainya, baik yang ada maupun yang ghaib. Kamu hanya bisa merasakan kenyamanannya.”
Bima: “Apa engkau sudah pernah ketemu dengan Nya?”
Ruci: “Belum. Baru kali ini aku bertemu dengan aura itu. Benar-benar bareng sama kamu.”
Bima: “Lho… kok aneh, bukankah pukulun adalah dewata yang tentunya lebih dulu ada ketimbang saya?”
Ruci: “Aku lahir bareng dengan kamu, pada hari yang sama, tabuh yang sama dan saat yang sama.”
Bima: “Waaaahhh … makin bingung… Lah pukulun ini siapa sebenarnya?”
Ruci “Aku ya kamu, kamu ya aku :)”
Bima: “Weleeh… semakin nggak mudeng. Jadi gimana nih? Apa yang sedang terjadi? Sedang ngapain aku ini?”

Rupanya lakon ini juga tidak berani menggambarkan Tuhan lebih eksplisit. Hanya sekadar kehadiran warna cahaya yang sangat asing tidak ada yang sama, sehingga Bima maupun Ruci tidak mampu menamai warna cahaya tersebut.

Penayangannya pun hanya berupa percakapan antara Bima dan Ruci. Tidak ada simbolisasi bentuk wayang maupun permainan cahaya untuk memperagakannya.

Dan yang paling penting lagi, lakon ini ingin menyampaikan pesan bahwa Dewa Ruci bukan ilustrasi Tuhan dan bukan dewata seperti dewa-dewa lain dalam kisah Mahabharata. Disini Dewa Ruci adalah Bima itu sendiri. Dia adalah Bima dalam kehidupan alam ruh yang suci.

Bima Dipaksa Keluar dari Alam Ruhani

Bima rupanya sangat menikmati berada dalam lingkaran kenyamanan yang sedang dia rasakan. Memang konon begitulah rasanya orang yang sedang merasa dekat dengan Tuhan.

Maka Rasul pun mengingatkan bahwa melakukan ritual tidak boleh egois. Karena ibadah tidak hanya ritual. Bekerja mencari nafkah dan berbuat kebaikan bagi sesama juga ibadah. Bahkan nilainya lebih baik, karena yang didapat selain pahala akhirat juga pahala dunia seperti nafkah, kesan baik, dll.

Justru orang yang melupakan kewajiban dunianya bisa menjadi sesat meskipun ritualnya jalan terus. Sengaja melebih-lebihkan ritual juga dilarang (baca; bid’ah) karena bisa berakibat melupakan kewajiban keduniaannya.

Dalam lakon Bima Suci ini, Dewa Ruci harus mengusir Bima untuk menghindari kesesatan tersebut.

Ruci: “Bima, rasanya sudah waktunya kamu keluar dari jagadku dan kembali pada kehidupanmu semula”
Bima: “Mohon maaf pukulun, saya sangat krasan disini dan masih ada sejumlah pertanyaan yang belum dijawab”
Ruci: “Jangan gayeng dengan kesenangan dan berharap pengetahuan tuntas digali dalam sekejap. Jagad raya ini tanpa batas dan manusia tidak kenal puas. Tengoklah apa yang terjadi di bawah sana, Bima !”

Begitu menengok ke bawah, tampak pasukan Korawa dipimpin Drona dengan beringas mengobrak-abrik Indraprasta. Sang ibu Kunti dan para istri Pandawa juga telah di”pikut” menjadi puteri boyongan.

Bima yang sebenarnya Pandawa yang paling berangasan, tentu saja geram menyala-nyala disertai rasa bersalah. Karuan saja karena Bima telah melupakan kewajibannya sebagai benteng Pandawa malah berlama-lama bertualang mencari kepuasan pribadi.

Bima: “Wheelahdalah… kurang ajar amat Korawa menyerang kami… apa salah kami? Kenapa guru Drona malah memimpinnya, bukan melerainya?”
Ruci: “Bima, kamu telah sejauh ini belajar bersamaku… mestinya tidak lagi brangasan seperti dulu. Yang kamu cerna jangan hanya yang kamu lihat dan kamu dengar saja… coba rasakanlah dengan kejernihan batinmu.”.
Bima: “Iya pukulun, tapi saya harus kembali karena kewajiban saya menjadi benteng Indraprasta belum selesai”.

Bagian ini menyampaikan pesan bahwa Bima sebagai orang yang benar-benar beriman harus bisa menyadari bahwa ibadah tidak boleh egois. Karena menghindari sifat egois juga merupakan ibadah. Ibadah tidak boleh melupakan kewajiban keduniaan. Karena kewajiban keduniaan juga merupakan ibadah, bahkan yang paling utama dan alami.

Dewa Ruci yang kecil bercahaya tiba-tiba muncul lagi di hadapan Bima, lantas mengisyaratkan Bima untuk meloncat ke ujung kaki sang Ruci yang mungil itu. Sekali lagi ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu harus dirasakan dengan cermat, tidak boleh hantam kromo hanya mengandalkan emosi. Apa yang dilihat dan didengar belum tentu sebuah kebenaran. Orangnya saja cuman sebesar boneka barby, kenapa harus meloncat untuk mencapai ujung kakinya?

Ruci: “Segeralah meloncat ke ujung kakiku… kamu akan aku kibas supaya cepat sampai ke tempatmu semula”
Bima: “Sendiko pukulun”.

Begitu mendarat di ujung kaki mungil yang setinggi gunung, kaki sang Ruci berayun kuat dan cepat bagaikan ahli kempo melakukan “ghaesi keri” … wheessss. Bima pun terlontar melayang di udara dan jatuh di pantai yang sama ketika dia hendak nyebur ke samudera. Disana lantas Bima “jugar” dari tafakurnya dan baru nyadar bahwa apa yang dialaminya barusan mirip mimpi.

Begitu jugar … jleg … Bima pun kaget, karena kini berada di tempat semula ketika hendak nyemplung ke samudera. Sikap berdiri dan madepnya pun persis seperti semula. Mungkin mirip filem diputar balik. Lebih bingung lagi ketika dia nyadar petualangannya dengan Dewa Ruci yang terasa berhari-hari, ternyata hanya sekejap mata. Kecondongan matahari masih sama dengan ketika hendak nyemplung ke samudera. Andaikan dia membawa arloji, mungkin jarum detiknya saja yang sedikit bergeser. Jadi bukan saja tempatnya, melainkan waktunya pun sepertinya kembali semula.

Bagian ini ingin menjelaskan bahwa dunia ruhani terbebas dari kekangan dimensi waktu. Dari pengalaman ini, Bima berhasil memiliki pengetahuan tentang asal-usul kehidupan dan target akhir kematian, sehingga hatinya menjadi tenang dan penuh rasa syukur. Dan yang paling harus disyukuri adalah karena ketuntasannya dalam menunaikan kewajiban agar nantinya seirama dengan pusat kekuatan alam.

Rasa syukur ini dilambangkan dengan berganti sandangan. Bima yang semula tampil sangar dengan sandangan lengkap baju zirah dan atribut ksatria yang serba gemerlapan, lantas berganti baju rakyat yang serba sederhana. Kakinya tidak lagi mengenakan gelang keroncong emas. Lehernya tidak lagi mengenakan kalung bertatah berlian. Rambutnya yang gondrong sepunggung digelung kuncup di belakang kepala yang dinamakan gelung “minangkara”. Topi baju zirah yang bertatah emas berlian ditanggalkannya. Satu-satunya pertanda ksatria hanyalah gelang candrakirana di tangan kanan-kirinya sekadar untuk mengingatkan bahwa dia harus tetap melaksanakan tugas ksatria bela negara.

Selang beberapa saat setelah Bima jugar, sang guru Drona yang mengkhawatirkan keselamatan Bima hadir tergopoh-gopoh. Melihat Bima selamat dan sudah tampil beda, sang guru sakti itu menengadah ke atas mengucapkan syukur tiada hentinya dengan penuh rasa haru dan bahagia. Haru melihat kesungguhan sang murid dalam mengejar cita-citanya yang mulia. Bahagia karena kesungguhan itu berakhir dengan keberhasilan.

Bima pun tidak mempersoalkan apa yang dilihatnya terakhir kali ketika bertualang dengan Dewa Ruci. Bima yang sudah arif tahu bahwa itu hanya ilusi gambaran apa yang akan terjadi di masa mendatang. Bima sangat menyadari bahwa jagad raya ini tanpa batas dan manusia masih jauh dari kesempurnaan.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *