Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 06 October 2016

Ziarah ke Makam Islam Tertua di Jawa, Siti Fatimah dan Sayyid Husein Akbar


ziarah makam, fatimah binti maiumun, sejarah masuk islam, gersik, makam tertua

IslamIndonesia.id – Ziarah ke Makam Islam Tertua di Jawa, Siti Fatimah dan Sayyid Husein Akbar

 

Meskipun banyak pendapat tentang kedatangan Islam di Jawa, para sejarawan sepakat bahwa Makam  Siti Fatimah binti Maimun dan Makam Troloyo merupakan dua di antara sandaran kuat untuk melacak awal mula kedatangan Islam di pulau Jawa. Sejauh ini, Makam Siti Fatimah Binti Maimun adalah makam Islam dengan tanda tahun tertua di Jawa.

“Makam Siti Fatimah binti Maimun itu adalah makam kuno yang sudah ada di situ sejak zaman perang Majapahit. Penelitian arkeologi menyebutkan makam itu berasal dari abad ke-10 M.” kata sejarawan Dr. Agus Sunyoto

Tidak banyak informasi yang menyediakan tentang sosok Fatimah ini. Namun, menurut Agus, makam yang berlokasi di desa Laren – Gersik ini bisa dikaitkan dengan sumber yang diberikan S.Q. Fatimi ketika menyebut dalam buku ‘Islam Come to Malaysia’ dimana abad ke-9 M sejumlah keluarga dari Persia melakukan migrasi ke Nusantara. Mereka adalah keluarga Jawana, keluarga Sabankara dan keluarga Lor.

Seperti yang disinggung dalam buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto, nama desa Leran berhubungan dengan kisah migrasi Suku Lar atau Lor asal Persia yang datang di Jawa pada abad ke-10 Masehi, jauh sebelum kedatangan para Wali Songo.

“Saya kira sampai sekarang di Iran masih ada suku-suku Lor,” katanya.

Dalam inskripsi batu nisan disebutkan bahwa Siti Fatimah wafat pada bulan Rajab tahun 475 H, atau bertepatan dengan tahun 1082 M. Namun, sejarawan lain menduga bahwa rombongan Siti Fatimah berasal dari Kerjaaan Perlak pesisir yang pindah akibat diserang oleh Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-10 M. Karena itu, gelar syahidah yang disematkan pada Fatimah Maimun memiliki kemungkinan kaitan dengan konteks peperangan antara Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Perlak.

Menurut cerita penjaga makam, semasa hidupnya, Syahidah Fatimah kerap mendapat penjagaan ekstra ketat. Di pemakamannya, ini terlihat pada dua makam panjang yang konon adalah dua panglima yang kerap menjaga Fatimah. Kemudian di kompleks makam itu juga terdapat makam-makam panjang yang namanya berawal dengan gelar Sayyid.

Di batu nisan Muslimah bernama lengkap Fatimah binti Maimun bin Hibatullah ini ditulis dalam bahasa Arab dengan kaligrafi bergaya Kufi. Untuk melihat dari dekat atau ziarah ke makam ini, bisa dikunjungi ke desa Leran, Kecamatan Manyar, sekitar 5 km arah utara kota Gresik, Jawa Timur.

Meski masih perlu diteliti lebih dalam, temuan batu nisan Fatimah diduga merupakan salah satu data arkeologis yang berkenaan dengan keberadaan komunitas Muslim pertama di kawasan pantai utara Jawa Timur. Gaya Kufi tersebut menunjukkan di antara pendatang di kawasan pantai tersebut, terdapat orang-orang yang berasal dari Timur Tengah dan bahwa mereka juga merupakan pedagang, sebab nisan kubur dengan gaya Kufi serupa juga ditemukan di Phanrang, Champa selatan. 

Hubungan perdagangan Champa-Jawa Timur tersebut adalah bagian dari jalur perdagangan komunitas Muslim pantai pada abad ke-11 yang membentang di bagian selatan Cina, India, dan Timur Tengah.

[Baca: Makna Tapa dan Puasa dalam Khazanah Tradisi Jawa]

Adapun Inskripsi nisan terdiri dari tujuh baris. Berikut adalah bacaan J.P. Moquette yang diterjemahkan oleh Muh. Yamin, penulis “Tatanegara Madjapahit”:

–  Atas nama Tuhan Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah

–  Tiap-tiap makhluk yang hidup di atas bumi itu adalah bersifat fana

–  Tetapi wajah Tuhan-mu yang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanya

–  Inilah kuburan wanita yang menjadi kurban syahid bernama Fatimah binti Maimun

–  Putera Hibatu’llah yang berpulang pada hari Jumiyad ketika tujuh

–  Sudah berlewat bulan Rajab dan pada tahun 495

–  Yang menjadi kemurahan Tuhan Allah Yang Maha Tinggi

–  Bersama pula Rasulnya Mulia

Baris pertama merupakan basmalah sedangkan baris 2-3 merupakan kutipan Surah Ar-Rahman ayat 25-26.

Nah, masih di Jawa Timur, tepatnya di kompleks Makam Troloyo Mojokerto, salah satu batu nisan di sana ialah milik Syeikh Jumadil Kubro atau yang juga dikenal “Sayyid Jamaluddin Husein Akbar”.  Peneliti Drs. Sardjono Suradi Soegondo berpendapat, “Syeikh Jumadil Kubra adalah waliyullah pertama yang masuk di Nusantara Jawa ini untuk penyebaran agama Islam.”

jamaluddin al kubra, sayyid jamaluddin husein akbar, makam troloyo, mojokerto, makam tertua

Catatan sejarah lainnya memberitakan bahwa Jamaluddin Husein Akbar dijuluki sebagai penghulu Wali Songo (punjer Wali Songo). Jika dilihat batu nisannya, tertera bahwa Sayyid wafat pada tahun 1365 M.

Menurut KH. Dr. Dhiyauddin Qushwandi, Sayyid Jamaluddin Husain Akbar datang ke Jawa ini pada zaman Hayam Wuruk. Kedatangan Sayyid yang juga keturunan Abdul Malik – keluarga Azmat Khan –  dalam rangka dakwah dengan pendekatan kultural, atau mengintegrasikan diri ke dalam sosio-budaya Nusantara. Pada masa itu, Nusantara meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand bahkan Kamboja (Campa).

Dalam rangka adaptasi yang lebih intensif, mereka (para wali) bahkan tidak hanya meninggalkan gelar-gelar yang identik dengan Arab, tapi diganti dengan Tuan atau Wan kalau di Malaysia. Bukan hanya itu, mereka juga menikah dengan wanita-wanita pribumi dan tidak jarang menikah dengan keluarga kerajaan kraton.

Pendekatan kultural ini dilakukan agar dakwah lebih efektif, lebih mudah diterima dan tidak terkesan sesuatu yang asing. Sedemikian efektifnya, menurut prasasti Kembang Suri, di jantung Majapahit pun ada masjid besar dan ada makam yang luasnya 4 hektar (Trowulan). Bayangkan, bagaimana bisa ada makam seluas itu di pusat pemerintahan Majapahit? Fakta ini mencerminkan adanya komunitas Islam pada masa itu, dan – karena diterima oleh pemerintahan setempat, – berdirilah masjid. Selain itu, dalam prasasti Kembang Suri itu, juga ditemukan kata-kata seperti ‘diwan’, wali, musyawarah, yang ditulis pada zaman Hayam Wuruk. Hubungan harmonis antara pemerintah Majapahit dan komunitas Muslim menarik ditelusuri. Selain kultural dan bukan anti-budaya, hal ini juga menguatkan bahwa Islam yang menyentuh tanah Jawa pertama kali bersifat terbuka, toleran dan tentunya jauh dari watak takfiri. []

 

[Baca: ‘Islam Nusantara, Menyatunya Islam dengan Budaya’]

 

YS/IslamIndonesia/Berbagai Sumber

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *