Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 08 July 2015

‘Tiada Ramadhan Seindah di Tanah Air’


konya-turki3

“Tiada Ramadhan seindah di tanah air”. Begitulah kata-kata yang terlontar dari Nanik Yuliyanti (27) mengawali perbincangan kami.

Kini, perempuan asal Bandar Lampung itu harus menjalani ibadah puasa di kota Konya, Turki.

nanik-yuliyanti

Nanik Yuliyanti

“Saya sangat merindukan suasana puasa di Indonesia, tidak banyak tradisi khusus yang dijalani di Turki pada bulan Ramadhan. Suasana relatif normal seperti bulan lainnya, tapi mayoritas  toko tutup untuk menghormati bulan Ramadhan, terutama pada saat shalat Jum’at,” papar perempuan yang sedang menempuh S2 di Necmettin Erbakan Üniversitesi İlahiyat Fakültesi.

konya-turki10

Pemandangan di Konya, Turki

Tak dapat dipungkiri, menjalani Ramadhan di negeri orang memiliki perbedaan atmosfer dengan tanah air.

“Saat di Jakarta saja saya sudah tidak kerasan karena merindukan suasana Ramadhan di Lampung, terlebih lagi di Turki,” katanya.

konya-turki4

Suasana Konya, Turki

Dulu, saat kejayaan Turki Ottoman, negara ini merupakan pusat pemerintahan Islam. Namun, lepas  Mustafa Kemal Atatürk dalam menggulingkan kekhalifahan, Turki berubah menjadi Republik.

perubahan-turki3

Pusat Perbelanjaan di Konya, Turki

“Masyarakat di sini memang mayoritas menganut Islam, tapi Turki merupakan negara sekuler. Jadi, suasana religius saat Ramadhan tidak kental terasa bila dibandingkan dengan Indonesia,” kata perempuan yang mengambil jurusan Falsafah dan Agama ini.

konya-turki7

Suasana Kota Konya, Turki

Sama halnya dengan belahan Eropa, Turki juga mengalami durasi yang panjang dalam puasa Ramadhan di musim panas.

“Di sini azan subuh bergema pada pukul 03.30, sedangkan maghrib sekitar pukul 20.20. Jadi, kami menjalani puasa sekitar 17 jam di sini,” katanya.

masjid-konya2

Salah Satu Masjid di Konya, Turki

Mayoritas umat Islam, terutama di Konya, menganut mazhab Hanafi, salah satu aliran fiqh di kalangan Ahlus Sunnah.

“Sepertinya di sini menganut mazhab Hanafi tercermin dari ibadahnya, berbeda dengan Indonesia yang mayoritas memeluk mazhab Syafi’i,” ujar perempuan yang menyukai pelajaran bahasa asing itu.

shalat-hanafi-turki

Shalat Tarawih

“Di setiap masjid dilaksanakan shalat tarawih 23 rakaat. Tapi, saya lebih suka shalat di dalam asrama mahasiswa daripada di masjid,” papar perempuan yang pernah menempuh pendidikan di Pesantren Gontor.

shalat-tarawih1

Shalat Tarawih

Berbeda dengan Indonesia, selama bulan Ramadhan tidak terlihat makanan untuk ifthar berjejer di sepanjang jalan.

“Saya belum menemukan ada tenda di pinggir jalan yang menyediakan ifthar gratis. Tapi, sebenarnya orang-orang Turki sangat baik pada musafir. Seandainya kita bertandang ke rumah orang Turki, baik bulan Ramadhan maupun tidak, mereka akan menyediakan makanan lengkap dari pembuka sampai penutup. Tidak peduli perut tamu sudah kenyang atau belum, kita tetap harus makan,” paparnya.

kawan-nanik

Kawan-kawan Nanik

“Pada saat puasa pertama, saya buka bersama secara gratis di organisasi yang mengurus mahasiswa asing di sini, yaitu Iki Doğu Iki Batı,” cerita Nanik kepada Islam Indonesia.

makanan-turki1

Menu Buka Bersama di Iki Doğu Iki Batı

Hal yang paling dirindukan adalah makanan khas Indonesia kala bulan Ramadhan. “Saya merindukan ta’jil saat berbuka puasa. Di sini makanannya ada sejenis pizza, salata, pilav, et, dan tatlı (salad, nasi, daging dan sejenis kue basah yang manis), tak lupa berbuka puasa dengan hurma (bahasa Turki kurma),” papar perempuan yang menyukai wisata kuliner ini.

makanan-turki2

Makanan Berbuka Puasa di Konya, Turki

 

makanan-ringan-turki8

Makanan di Pusat Perbelanjaan Konya, Turki

 

makanan-ringan-turki9

Makanan di Pusat Perbelanjaan Konya, Turki

 

makanan-ringan-turki6

Makanan di Pusat Perbelanjaan Konya, Turki

Dia bersyukur bisa tinggal di Konya karena dikenal sebagai kota yang paling religius di Turki.

“Suasana Ramadhan di kota ini mungkin lebih terasa dibandingkan lainnya. Perayaan di bulan Ramadhan biasanya diawali dengan pembacaan al-Qur’an dan konser musik sufi. Sebagaimana kita ketahui, Konya merupakan tempat wafatnya sufi termasyhur, Jalaluddin Rumi,” ungkap perempuan yang pernah mengambil jurusan Aqidah-Filsafat di UIN Bandung.

konya-turki2

Pemandangan di Konya, Turki

Terdapat tradisi di bulan Ramadhan di Turki yang memiliki persamaan dengan Indonesia. “Saya pernah melihat orang-orang memukul beduk dan mengelilingi suatu daerah. Sungguh menyesakkan dada melihat fenomena itu, saya rindu pulang,” papar Nanik.

Pengalaman pertama berpuasa di negeri orang pada awalnya mengharuskan dirinya untuk beradaptasi. “Di Indonesia, saya masih punya banyak waktu untuk tidur sebelum sahur. Tapi, di sini waktu tidur sangat singkat karena jam dua harus segera bangun sahur. Kemudian, setelah subuh, saya harus bersiap-siap untuk belajar,” katanya.

konya-turki9

Stasiun Bis Otogar, Konya, Turki

Gadis pecinta olahraga Aikido ini tak hanya merindukan suasana Ramadhan, tapi juga kehidupan di Indonesia.

konya-turki14

Pemandangan di Konya, Turki

“Meskipun sesekali rasa rindu menyelinap, tapi saya langsung menepisnya. Ini hidup yang harus kujalani dengan penuh rasa syukur, Allah selalu bersama kita,” ungkap peraih beasiswa Turkiye Burslari ini di akhir pembicaraan. ###

Zainab/ Islam Indonesia. Sumber foto: Nanik Yuliyanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *