Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 27 September 2016

Tantang Debat Publik, Majelis Mujahidin Beri Waktu Ketum PBNU 7 Hari


kang-said

IslamIndonesia.id – Tantang Debat Publik, Majelis Mujahidin Beri Waktu Ketum PBNU 7 Hari

 

Tidak terima disebut organisasi berbahaya bagi negara, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melayangkan surat tantangan berdebat secara terbuka kepada Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Sirajd (21/9). Surat yang ditandatangani 6 petinggi MMI itu dibuat atas tanggapan pernyataan Kang Said di Media soal semua teroris di Indonesia merupakan jebolan institusi Wahabi.

“Untuk itu, kami Majelis Mujahidin mengajak Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirajd, M.A melakukan transparansi publik dalam uji sahih debat ilmiah akademik sesuai koridor hukum dan perundang-undangan tentang ‘Majelis Mujahidin Organisasi Membahayakan NKRI’,” katanya dalam surat yang bertanggal 7 September 2016 itu.

Apabila yang bersangkutan tidak mau, menurut surat itu, berarti telah sengaja melakukan pecah belah dan fitnah di kalangan umat Islam. “Kami bersama umat Islam akan melakukan perlawanan melalui saluran konstitusi dan langkah-langkah yang dibenarkan oleh syariat Islam. Kami menunggu respon surat ajakan debat publik ilmiah ini dalam waktu 7 hari setelah surat ini diterima,” katanya

Gayung pun besambut, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyatakan kesiapannya melayani tantangan MMI untuk debat secara ilmiah tentang radikalisme dan kebangsaan. “Ayo kapan, saya siap, siap, siap,” katanya seperti dikutip duta.co di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (23/9)

Melayani tantangan ini dengan niat baik dan demi kebaikan tidak ada masalah bagi lulusan pondok pesantren Krapyak Yogyakarta ini. “Pokoknya selama untuk kebaikan saya siap,” katanya.

Seperti diketahui, saat menandatangani MoU tentang Penanganan Konflik Sosial dan Ujaran Kebencian (Hate Speech) bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kang Said  mengingatkan supaya memantau sejumlah institusi yang mengatasnamakan Islam di Indonesia namun menjadi penyebar paham radikalisme. MMI dan Jamaah Takfir Wal Hijrah di antaranya. Mereka yang terindikasi itu, kata Kang Said, selangkah lagi menjadi gerakan terorisme yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

“Ada 20 pesantren, semuanya Wahabi. Wahabi memang bukan teroris tapi ajarannya ekstrem. Kita ini semuanya dianggap bid’ah dan musyrik karena menurut mereka Maulid Nabi itu bid’ah, Isra’ Miraj bid’ah, ziarah kubur musyrik, haul musyrik, dan semuanya masuk neraka. Kami khawatir murid mereka memahami kalau begitu boleh dibunuh dong orang ini karena kerjaannya musyrik semua,” kata Kang Said.

[Baca – PBNU: Semua Teroris di RI Wahabi]

Menurut laporan Tempo.co (7/10, 2014), Wakil Amir Majelis Mujahidin, Abu Jibril, tercatat pernah ditangkap aparat keamanan Malaysia 21 Juni 2001 ketika akan memberikan ceramah pengajian di Shah Alam, Selangor. Abu Jibril dituduh melakukan kegiatan yang membahayakan keamanan dalam negeri Malaysia karena aktif dalam kelompok Mujahidin Malaysia. MMI juga sempat tercatat mempunyai hubungan dengan Abu Bakar Ba’asyir sebelum mendekam di Penjara.

Nama Abu Jibril juga pernah disebut-sebut dalam tragedi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, keduanya di Jakarta, pada 2009. Salah satu anaknya, yaitu Muhammad Jibril Abdurrahman alias Ricky Ardan, divonis lima tahun penjara karena terbukti melakukan pidana terorisme.

Putranya yang lain, Muhammad Ridwan, telah tewas di Suriah ketika bergabung dengan kelompok An-Nusra, cabang kelompok teroris Al-Qaeda sebagaimana ISIS. Ridwan atau yang dikenal sebagai Abu Omar itu dikabarkan tewas akibat terkena peluru tank di Kota Idlib – Suriah, pada  26 Maret 2015. Karena itu, Abu Omar tidak termasuk di antara 531 kombatan Indonesia yang pulang ke tanah air seperti disebut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Suhardi Alius.

[Baca: Terjepit di Suriah, 531 ‘Mujahidin’ ISIS Pulang ke Indonesia]

Pria yang kerap bersurban putih di kepalanya ini juga dikenal sebagai penceramah di sejumlah tempat. Di Kompleks Witanaharja,  Pamulang, Tangerang Selatan misalnya, warga setempat menganggap pengajian yang dipimpin Abu Jibril terkesan eksklusif dan hampir menguasai mayoritas Masjid Al Munawaroh yang ada di dalam perumahan itu.

Selain itu, dalam setiap ceramahnya Abu Jibril lebih menekankan jihad secara Islam. ”Volume suaranya keras, materi ceramahnya juga keras,” kata Widiyanto, salah seorang warga setempat seperti dikutip Tempo.co (26/8, 2009). []

[Baca: Berkaca pada “Tragedi Suriah”, Santri Pamekasan Tolak Ulama Salafi-Wahabi]

 

YS/IslamIndonesia

 

 

One response to “Tantang Debat Publik, Majelis Mujahidin Beri Waktu Ketum PBNU 7 Hari”

  1. Nursamsi K Putra says:

    Meski disebut “debat ilmiah”, tetap bernama DEBAT ..
    Apakah PEMENANG debat otomatis adalah fihak yang paling TAQWA ?
    Membela diri dari Fitnah memang perlu, tapi apakah hanya dengan debat?
    Atau mulai sekarang, TABAYUN kita sebut saja sama dengan debat ..

  2. jatmiko says:

    melakukan kesyirikan dan kebid’ah an tidak otomatis kafir kyai, mereka tetap umat Rosululloh. apakah tidak boleh mendakwakan jangan syirik jangan melakukan bid’ah jangan menyelisihi nabi dalam syariat ritual agama, trus kalau gak boleh mau jadi apa agama Islam ini ? semua serba boleh, gak apa apa, harap maklum, jangan fanatik-fanatik….wah repot deh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *