Satu Islam Untuk Semua

Friday, 07 October 2016

SOROTAN – Apakah Tafsir Al-Maidah 51 yang Dikutip Ahok?


quraish shihab, tafsir, al maidah 51, ahok

IslamIndonesia.id – SOROTAN – Apakah Tafsir Al-Maidah 51 yang Dikutip Ahok?

 

Usai sidang di Mahkamah Konstitusi, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja (Ahok) tiba-tiba saja diteriaki ‘gila’ oleh Habib Novel Bamukmin alias Habib Novel. Habib Novel bereaksi keras, karena tak terima Ahok yang dianggap telah mempermainkan ayat suci Al-Qur’an. Sebelumnya, setelah menyapa warga di Kepulauan Seribu, Ahok sempat menyebut kalau warga dibohongi dengan menggunakan ayat Al-Maidah untuk tidak memilih dirinya.

Seperti diketahui, ayat dari Surah Al-Maidah yang kerap disebut sebagai dalil menolak ‘pemimpin kafir’ itu ialah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi ‘awliya’; sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

[Baca: Tips Jitu Tangkal “Virus” Ahok Cara Gus Mus]

Benarkan ayat di atas menyerukan penolakan “pemimpin kafir”? Menurut pakar tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab, ayat di atas tidaklah berdiri sendiri namun memiliki kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Hanya memenggal satu ayat dan melepaskan ayat lain berimplikasi pada kesimpulan akhir. Padahal, Al-Maidah ayat 51 merupakan kelanjutan atau konsekuensi dari petunjuk-petunjuk sebelumnya.

“Konsekuensi dari sikap orang yang memusuhi Al-Qur’an, enggan mengikuti tuntunannya…”

Pada ayat sebelumnya, Al-Qur’an diturunkan untuk meluruskan apa yang keliru dari kitab Taurat dan Injil akibat ulah kaum-kaum sebelumnya. Jika mereka – Yahudi dan Nasrani, enggan mengikuti tuntunan Al-Qur’an, maka mereka berarti memberi  ‘peluang’ pada Allah untuk menjatuhkan siksa terhadap mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan.

“Jadi, mereka dinilai enggan mengikuti tuntunan Tuhan tapi senang mengikuti tuntunan jahiliah,” katanya dalam pengajian Tafsir Al-Qur’an di salah satu stasiun TV swasta.

Lalu, dilanjutkan oleh ayat 51 surat Al-Maidah. Kalau memang seperti itu sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani – mengubah kitab suci mereka, enggan mengikuti Al-Qur’an, keinginannya mengikuti jahiliyah, – “Maka wahai orang-orang beriman janganlah engkau menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya.”

Bagi Quraish Shihab, hubungan ayat ini dan ayat sebelumnya sangat ketat. “Kalau begitu sifat-sifatnya, jangan jadikan mereka awliya. Nah, awliya itu apa?,” tanyanya memantik diskusi sebelum mengkaji lebih dalam.

‘Awliya’ ialah jamak atau bentuk plural dari ‘wali’. Di Indonesia, kata ini populer sehingga ada kata wali-kota, wali-nikah dst. Wali ialah, kata penulis Tafsir Al Misbah ini, pada mulanya berarti “yang dekat”.  Karena itu, waliyullah juga bisa diartikan orang yang dekat dengan Allah.

“Wali kota itu berarti yang mestinya paling dekat dengan masyarakat. Orang yang paling cepat membantu Anda, ialah orang yang paling dekat dengan Anda. Nah, dari sini lantas dikatakan bahwa wali itu pemimpin atau penolong.”

Adapun wali dalam pernikahan – apalagi terhadap anak gadis – sebenarnya fungsinya melindungi anak gadis itu dari pria yang hanya ingin ‘iseng’ padanya. Seseorang yang dekat pada yang lain, berarti ia senang padanya. Karena itu, iblis jauh  dari kebaikan karena ia tidak senang.

“Dari sini, kata ‘wali’ yang jamaknya ‘awliya’ memiliki makna bermacam-macam.”

Yang jelas, kata jebolan Al Azhar Mesir ini, kalau ia dalam konteks hubungan antar manusia, berarti persahabatan yang begitu kental. Sedemikan hingga tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Demikian pula hubungan suami-istri yang dileburkan oleh cinta.

“Dalam ayat ini, jangan angkat mereka –Yahudi dan Nasrani- yang sifatnya seperti dikemukakan pada ayat sebelumnya menjadi wali atau orang dekatmu. Sehingga engkau membocorkan rahasia kepada mereka.”

Dengan demikian, ‘awliya’ bukan sebatas bermakna pemimpin, kata Quraish Shihab. “Itu pun, sekali lagi, jika mereka enggan mengikuti tuntunan Allah dan hanya mau mengikuti tuntunan Jahiliyah seperti ayat yang lain.”

Contohnya, jika mereka juga menginginkan kemaslahatan untuk kita, boleh tidak kita bersahabat? Quraish Shihab kembali bertanya, jika ada pilihan antara pilot pesawat yang pandai namun kafir dan pilot kurang pandai yang Muslim, “pilih mana?” sontak jamaah yang hadir pun tertawa.

Atau, pilihan antara dokter kafir yang kaya pengalaman dan dokter Muslim tapi minim pengalaman. Dalam konteks seperti ini, bagi Quraish Shihab, tidak dilarang. Yang terlarang ialah melebur sehingga tidak ada lagi perbedaan termasuk dalam kepribadian dan keyakinan. Karena tidak ada lagi batas, kita menyampaikan hal-hal yang berupa rahasia pada mereka. “Itu yang terlarang.”

Namun kalau pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari tokonya dsb, tidaklah dilarang. Selanjutnya ayat ini berbicara tentang sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Artinya, sebagian orang Yahudi bekerjasama dengan orang Nasrani yang walaupun keduanya beda agama namun kepentingannya sama, yaitu mencederai kalian. Oleh sebab itu, Al-Qur’an berpesan, “Siapa yang menjadikan mereka itu orang yang dekat, yaitu meleburkan kepribadiannya sebagai Muslim sehingga sama keadaannya (sifat-sifatnya) dengan mereka, oleh ayat ini diaggap sama dengan mereka.”

Terakhir, Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang zalim. Menurut Quraish Shihab, petunjuk ada dua macam; umum dan khusus. Petunjuk khusus itu, memberi tahu dan mengantar. Allah memberi tahu kepada semua manusia bahwa ini baik dan itu buruk tapi tidak semua diantar oleh-Nya. Di sisi lain, ada orang yang tidak sekedar diberitahu jalan baik, namun juga diantar jika orang itu menginginkan. Meski demikian, Allah tidak memberi petunjuk khusus kepada mereka yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. []

 

[Baca – Cak Nun: Kalau Ada Pemimpin Adil,  Ya Tidak Bisa Disebut Kafir Dong]

 

YS/IslamIndonesia

38 responses to “SOROTAN – Apakah Tafsir Al-Maidah 51 yang Dikutip Ahok?”

  1. Silah Sundawa says:

    sifat ingkar dan keyakinan itu ada pada diri setiap manusia. bukan pada kartu identitas

  2. Ryan says:

    Pak Quraish shihab memberi contoh ttg pilot. Sepertinya beliau belum pernah menjadi HRD perusahaan. Perusahaan lebih memilih manajer yg loyal terhadap perusahaan meski kurang pintar ketimbang manajer yg tidak loyal tapi pintar. Jika memang hanya ada 2 pilihan tersebut. Tapi lebih baik jika ada yang loyal dan pintar. Mohon maaf pak Quraish, ini hanya share pengalaman pribadi.

  3. Iqro iqro iqro, komen kemudian

  4. Anwar says:

    Kesimpulannya sebenarnya sdh jelas…
    Kaum yahudi dan nasrani yg suka merubah kitabnya dilarang menjadi awliya bagi muslimin…
    Terserah mau di artikan apa itu awliya…..
    Nah yahudi dan nasrani yg sekarang sdh jelas dimaksud diatas sebab yg tidak merubah kitabnya sudah masuk islam.

    Walan tardho ankal yahudu wan nashoro hatta tat tabiah millatahum….

    Kaum yahudi dan nasrani tidak akan senang hatinya sehingga kaum muslimin mengikuti millah/ajaran/kebiasaan mereka..

    Adakah yg lebih tau isi hati suatu kaum kecuali Allah…..????

  5. baharuddin.mp says:

    Contoh yg di sampaikan Quraish shihab kurang tepat jika di samakan dgn tafsir Al-Maida,mengenai pilot.
    Yg benar adalah cari pemimpin yg jujur unt org DKI.siapapun itu.

    • praditia says:

      pemimpin yg jujur sudah punah….baru mimpin istri saja udah nggak jujur….semua lelaki itu pemimpin tapi bisa di itung jari yg jujur sama istrinya….jadi pemimpin jujur dlu di rumah baru cari pemimpin jujur untuk daerah…..wkwkwk

  6. Abdul hadi says:

    Petunjuk Allah itu adalah Alquran, kalau orang kafir kaya ahok walau ngaku sekolah islam 9 tahun dia tidak akan dpt petunjuk karna tdk tau isi Alquran. jadi penjelasan dari pak kuraish sihab sangat jelas, terutama mengenai kerahasiahan fisi dan misi serta arah perjuangan islam, kafir adalah penghalang karna dia tidak akan ridho islam menang. jadi otomatis kebijakan kebijakannya pasti mengkerdilkan islam. apa yg terjadi sekarang, proses pemurtadan, proses pemisknan dan proses pembodohan umat islam sedang terjadi. wawlohu alam bishoab.

    • sofuran says:

      Masha Allah anda bisa yakin ahok tdk akan dpt petunjuk dari Allah dan tdk paham Alquran ya, sy pun tdk berani mengaku sudah paham Alquran.

    • Cari Ilmu says:

      wooooww, sepertinya anda sudah paham sekali arti dari kata “KAFIR” bung Abdul Hadi.
      saya ingin mengutip dr artikel lain, barang kali bung Abdul Hadi belum membacanya,
      “non-Muslim yang tulus dalam memilih dan meyakini keyakinannya tidak serta-merta dapat disebut kafir, yakni menutupi keyakinannya akan kebenaran. (Murtadha Muthahhari dalam Keadilan Ilahi, menyebut orang-orang non-Muslim seperti ini sebagai orang-orang Muslim Fitri (muslimûn bil-fithrah). Yakni orang-orang yang secara nominal bukan Muslim, tetapi ada hakikatnya berserah-diri (aslama) kepada kebenaran (Tuhan)”

    • Sonny Pribadi says:

      Memahami Al Quran membutuhkan akal, ILMU dan logika, karena itulah manusia diberikan kelebihan oleh Allah SWT dibanding makhluk lain (hewan), yaitu akal.

      Untuk lebih memahami bagaimana makna surat2 dalam Al Quran, ada baiknya tulisan ini dapat dibaca baik-baik. Walaupun tulisannya cukup panjang, adalah kewajiban kita untuk membacanya sampai tuntas sebagaimana apabila kita membaca dan memahami Al Quran yang berjuz-juz dan beratus-ratus ayat.

      Bila kita tidak mau/malas membacanya, maka sebaiknya kita tidak/jangan berkomentar, karena komentar kita akan memperlihatkan seperti apa ilmu kita dimata Allah SWT.

      http://dokterabimanyu.blogspot.co.id/2012/09/dalam-islam-non-muslim-boleh-jadi.html

  7. akhmad syaifulkia says:

    Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan al-Baihaqi, yang bersumber dari ‘Ubadah bin ash-Shamit bahwa ‘Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik Madinah) dan ‘Ubadah bin ash-Shamit (salah seorang tokoh Islam dari Bani ‘Auf bin Khazraj) terikat oleh suatu perjanjian untuk saling membela dengan Yahudi Bani Qainuqa’. Ketika Bani Qainuqa’ memerangi Rasulullah saw.. ‘Abdullah bin Ubay tidak melibatkan diri. Sedangkan ‘Ubadah bin ash-Shamit berangkat menghadap Rasulullah saw. untuk membersihkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari ikatannya dengan Bani Qainuqa’ itu , serta menggabungkan diri bersama Rasulullah dan menyatakan hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 51) yang mengingatkan orang yang beriman untuk tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengangkat kaum Yahudi dan Nasrani menjadi “awliya” ( sekutu, aliansi, pelindung) mereka.
    So konteks ayat tersebut adalah tentang penghianatan kaum yahudi atas Piagam Madinah bukan tentang Pilkada atau yang berkaitan dengan pemilihan pemimpin XD
    Ndilalahnya ini ayat kok bisa-bisanya jadi konsumsi politik pemilihan pemimpin, bagaimana bisa ini ayat menjadi #patron yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal Pilkada atau whatever-lah itu tidak pernah ada dizaman Nabi SAW.
    سَلامًا سَلامًا

  8. A rahmat says:

    Pak Kyai… menerangkan agak mbulet… ini menurutku dasar aku ini otak lelet kali..
    Auliya bisa berarti …. 1. Pemimpin, 2. …. dst
    Memberi contoh yg gak pas…
    Coba kalau begini:
    Pilih mana pilot sama2 pengalaman yang kafir atau yg muslim? atau
    Pilot kafir minim pengalaman atau muslim yg banyak pengalaman.. pilih mana..?
    Hi..hi..hi..

    • abdussalam says:

      Intropeksi diri sendiri apakah kita sdh betul menjdi muslim yg sejati

    • Osas says:

      Kalo kafir pengalaman di pemerintahan bertahun2 sama muslim yg pengalaman jadi rektor dan 2 tahun menteri itu gimana??wakakakakakaka

    • Osas says:

      Kalo kafir pengalaman di pemerintahan bertahun2 sama muslim yg pengalaman jadi rektor dan 2 tahun menteri itu gimana??wakakakakakakakaka

    • Osas says:

      Kalo kafir pengalaman di pemerintahan bertahun2 sama muslim yg pengalaman jadi rektor dan 2 tahun menteri itu gimana??wakakakakakakakakakaka

  9. wasno says:

    yg bicara bpk Qurais saja banyak yg nentang. Apalagi yg ngomong Ahok,pasti ruibuuut.

  10. Ruddy ajadah says:

    juragan/boss saya juga non muslim..tp saya tetep enjoy aja yg penting saya kerja dibayar..hehehe
    #celoteh

  11. Ruddy ajadah says:

    juragan/boss saya juga non muslim..tp saya tetep enjoy aja yg penting saya kerja dibayar..hehehe
    #celoteh

  12. Harya says:

    Org yg sll merasa dirinya baik. Akan sgt susah memperbaiki diri. Hrs di bedakan antara pemimpin dan pelayan masyarakat. Pemimpin itu contone panglima perang, imam sholat, pemimpin keluarga, dll.
    Sedang Gubernur, walikota, bupati dan struktur kebawahnya adalah pelayan masyarakat. Bukan pemimpin. Jadi wis ndak usah ngributno soal muslim dan non muslim. Apalagi sampai membawa ayat alqur’an.

  13. abimanyu says:

    yang kafir biarkan kafir,
    yang muslim jangan sampai ikutan kafir.
    bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

  14. Saja says:

    Pak Quraish cuma manusia biasa.. Seringkali bisa hilaf dr rasul blm tentu masuk surga dll, mirip pak Nusron.. Yg katanya bebas menafsirkan.. Yg paling tau hanya Allah dan rasul, jd maksudnya ga perlu cari ilmu dan petunjuknya yg sahih gt ya? Awliya yg berarti teman dekat – pelindung – pemimpin sudah jelas tujuannya al maidah 51 ditujukan untuk memilih pergaulan yg baik ataupun pemimpin yg menurut saya lebih ke faedah kehidupan beragama nya. Ngomong sendiri kl dagang, bertetangga, berteman biasa kan gpp.. Pilot itu bagian dr berdagang jasa.. Ga perlu liat dia islam atau non islam, begitupun kerja anda ga bisa milih bos nya islam apa bukan krn ga punya hak milih sebagai karyawan asal ngga mempersulit anda beribadah dan aqidah. Harusnya nalar gt kan? Tp malah balik lg kata pak nusron bebas menafsirkan 😴 saya berdoa agar umat islam slalu ditunjukan ilmu yg bermanfaat dijauhi dr yg mensesatkan.. Ini firman Allah.. Resiko nya akhirat kita taruhannya. Dan saya berserah hanya kepada Allah

  15. imelda says:

    So konteks ayat tersebut adalah tentang penghianatan kaum yahudi atas Piagam Madinah bukan tentang Pilkada atau yang berkaitan dengan pemilihan pemimpin XD
    Ndilalahnya ini ayat kok bisa-bisanya jadi konsumsi politik pemilihan pemimpin, bagaimana bisa ini ayat menjadi #patron yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal Pilkada atau whatever-lah itu tidak pernah ada dizaman Nabi SAW.

    akhirnya ada orang pinter..

    jaman nabi itu kenabian, setelah itu kekhalifahan yang pemilihannya dengan ditunjuk. makanya ada ayat yg menerangkan, jangan ambil pemimpin yang mengajukan diri.

    jadi sudah pasti SEMUA ayat yang turun yg menggunakan auliya, tidak pernah merujuk ke pemimpin. karena pemimpin di jaman nabi, ya Nabi Muhammad saw. ga ada yg namanya pemilihan nabi baru ala ala pilkada.

    makanya pak ahok bilang, jangan mau dibegoin PAKE surat al maidah 51.

    kok malah pak ahok yg lebih tau tentang tafsiran al maidah 51

    pada akhirnya ga ada yang tau pasti arti dari al Quran, manusia hanya bs mencoba menafsirkan. tapi kita sudah dibantu dengan tafsir klasik seperti tafsir al Thabary, Ibn Katsir, etc. yang lebih mendekati era nabi, yang diyakini bs mengkonfirmasi asal mula mengapa ayat2 al Quran tersebut turun.

    dan dari smua tafsir klasik itu, tidak ada yg menyebutkan/merujuk auliyah adalah pemimpin.

    tinggal kalian pilih, mau pakai tafsir klasik atau tafsir depag/fpi?

  16. fa says:

    Coba baca lebih teliti, yang ingin disampaikan pak Quraish di situ tentang pilot maksudnya hubungan dengan nonmuslim untuk urusan sehari-hari tidak ada masalah, makanya mencontohkan dengan analogi pilot dan dokter.

  17. Diajeng says:

    Indonesia itu bukan cuma miliknya org islam aj .tp sudah disahkan 5 agama pada masa pemerintahan Gusdur.
    semua warga bebas memilih pemimpin berdasarkan hak nya masing masing tanpa ada paksaan .
    siapa saja boleh jadi pemimpin asalkan bertanggung jawab ,dapat dipercaya .bukan cuma org islam aja yang boleh jadi pemimpin .
    Ini Negara punya banyak orang ,dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai perbedaan yg ada (suku,ras,agama,bhs.dll)
    jadi sah sah saja donk kalo pak Ahok jd calon pilgub DKI 2017. masalah pak Ahok org Nasrani itu tidak masalah donk .urusan agama kan urusan pribadi masing2 tiap orang.
    ini Negara mau di jadikan apa ,mau pilgub aja malah debat gk jelas masalah keyakinan .
    kan memng di Indonesia sudah di sahkan 5 agama dari dulu . terus juga ngatain orang non muslim itu kafir…
    memngnya anda tau apa definisi Kafir itu??
    Kafir itu org yg tidak mengenal Agama . pada dasarnya semua agama itu meyakini adanya Tuhan YME .cuman beda saja dalam tata cara ibadahnya …..
    ingat ya Indonesia itu punya banyak orang dari sabang sampe merauke dengan bnyak perbedaan .
    ingat Bhineka Tunggal Ika walaupun berbeda tetapi tetap satu tujuan .
    membangun Indonesia kedepan menjadi lebih maju lebih baik .siapapun pemimpin nya tidak memandang dari segi agama tp dari segi SDA nya untuk memajukan bangsa ini menjadi lebih baik ..
    JADI STOP jgn pandang perbedaan sebagai penghalang tp pandang segala perbedaan mjd lebih indah,saling menghargai saling toleransi .menjaga kesatuan NKRI.

  18. Harahap says:

    Kaji diri aja lah..jagn krna seorang ahok,ssama muslim sling gontok2an..gak usah sok pintar,tanya aja pd diri kita yg cinta islam ini,knpa ahok brani bcara tntang alquran?knpa ahok brani menista?siapa siapa yg bela ahok?..

  19. isma says:

    PESAN IMAM SYAFi’I
    Imam Syafi’i pernah berkata,
    “Nanti di akhir jaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warotsatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat”.
    Al-Imam syafi’i (rahimahullah) pun ditanya oleh salah satu muridnya tentang gimana trik dan ciri-cirinya untuk mengenali Ulama yang patut di ikuti di era yang penuh fitnah?
    Maka Imam Syafi’i mengatakan,
    “Carilah Ulama yang paling di benci oleh orang-orang KAFIR dan orang MUNAFIK, dan jadikanlah Ia sebagai Ulama yang membimbing mu, dan jauhilah Ulama yang dekat dengan orang KAFIR dan MUNAFIK karena ia akan menyesatkan mu, menjauhi mu dari Keridhoan Allah”.
    Nah sekarang perkataan Imam Syafi’i itu terbukti, dan kita bisa MENILAI nya sendiri mana Ulama yang di Musuhi oleh orang KAFIR dan MUNAFIK yang harus kita ikuti, kita cintai dan kita bela, dan mana Ulama yang selalu dekat dengan orang KAFIR dan MUNAFIK yang harus kita jauhi.
    Pilihan ada di tangan Anda….
    Silahkan dishare!

  20. Damaian nasution says:

    Saya bertanya nih apakah benar islam itu sekarang bersatu

  21. Gue Dua says:

    Pancen e Jancuk’an kok wong wong sing komen sok keminter,ngafir2no wong.Gusdur : Akeh kang apal Qur’an Hadist e,seneng Ngafirkemarang liyane…”…Ngata2in orang kafir ente sudah bener belum jd org islam yg bener2 100% islam.gak usah munafik bung yg sering ninggalin sholat sama juga disebut Kafir!…sudah jelas gubernur bukan pemimpin alias prlayan masyarakat. ,kecuali presiden = pemimpin negara.kalo gak setuju sama ahok ya udah gak usah dipilih,GITU AJA KOK REPOT..#SAYA ISLAM 100% DUKUNG AHOK,SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN HIDAYAH KEPADA AHOK DENGAN JALAN YG DIKEHENDAKI ALLAH.

  22. Artadi says:

    Beda antara pemimpin yang bisa membuat undang2 (pemimpin pemerintahan), dng pemimpin perusahaan atau pilot. . .

    Yang diharamkan itu adalah pemimpin pemerintahan yang bisa membuat undang2.

    Kalau pemimpin perusahaan, pilot, manajer bank, direktur, dll itu tidak masalah. Mubah, boleh saja jika orgnya baik.

  23. Atqan, says:

    menurut pandngan islam yg dimksud kafir itu adalah…org yg tidak mengakui tuhan Allah dan tidak mengakui nabi Muhammad utusan nya,sedangkn org islam yg tidak melksnkan syariatnya sprti shalat tidak jatuh kpd kekafiran..cuma dia mndpt dosa..

  24. haniff says:

    muslim di DKI sedang diuji…kalo orang2 yg gak paham sperti saya,ya ikuti kata habib sech saja..wis tho manuto dawuhe ulama,guru2 ngaji,kyai2(sudahlah ikutilah ulama,guru2 agama,kyai2)…smoga lulus ujian saudaraku,dan berpengaruh baik kedepannya

Leave a Reply to Anwar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *