Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 07 April 2016

RESENSI – Menatap Punggung Muhammad


img_20160404_125206.jpg

Judul: Menatap Punggung Muhammad
Penulis: Fahd Djibran
Penerbit: Litera Pustaka
Tahun terbit: 2010

Bayangkan dirimu bertemu Muhammad Sang Nabi dalam mimpi. Kau tidak tahu seperti apa rupanya, namun sosok yang muncul dengan wajah bercahaya itu membuat hatimu yakin sepenuh hati bahwa dialah Muhammad. Terlebih lagi, kau sadar bahwa kau bukan seorang Muslim. Lalu, Sang Nabi memberimu pesan: “Apa yang lebih utama dari iman? Kebaikan, melebihi apapun, adalah lebih utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.” Lalu sosok itu pergi menghilang, menyisakan kerinduan yang begitu mendalam. Bayangannya membuat jantungmu berdebar setiap kali mengingatnya.
Buku ini tak lebih adalah sebuah surat, yang ditulis sang pemimpi–tak disebutkan namanya–pada Azalea, kekasihnya. Sang pemimpi begitu mencintai Azalea, dan telah menjalin hubungan cukup lama. Namun, mimpi yang dialaminya pada akhir Maret 2008 menuntunnya pada pencarian akan siapa sosok Muhammad itu?
Dia pun pergi meninggalkan Azalea tanpa sedikitpun jejak yang dapat diikuti. Azalea kebingungan, melihat hilangnya sang kekasih tanpa pesan seakan ditelan bumi. Sampai dua tahun kemudian, surat ini datang dan mengguncang hati Azalea dengan pengalaman yang ditulisnya.
Sang pemimpi mengaku tidak mengenal Muhammad lebih dari sekedar identitas Nabi yang diikuti Umat Muslim, karena sering mendengarnya di negara mayoritas Muslim Indonesia. Pasalnya dia–juga Azalea–bukan seorang Muslim. Namun mimpi itu datang membawa keyakinan yang tak tertolak dalam hatinya bahwa Muhammad-lah yang muncul dalam mimpi itu.
Pencarian pada sosok Muhammad membawanya pada teori-teori mimpi yang masih belum bisa menjawab kehadiran seseorang di alam bawah sadar tersebut; juga mengenalkannya pada sejarah dan keindahan pribadi agung seorang Muhammad saw. Halmana membuatnya makin rindu dan ingin terus mengejar Muhammad.
Dalam suratnya, dia mengaku cintalah yang mendorongnya terus melakukan pencarian dan menyelami Muhammad saw. Apalagi, awal perkenalannya dengan Islam mempertemukannya dengan sebuah hadis yang masyhur di tengah Muslimin. Seperti disebutkan Abu Hurairah, Nabi berkata, “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia telah benar-benar melihatku. Sesungguhnya setan tak dapàt menyerupaiku.”
Fahd Djibran, yang memang Muslim adalah kawan Azalea. Dia menambahkan tulisannya sendiri di akhir buku, yang menegaskan bahwa surat 100 halaman ini adalah persis tanpa perubahan dari salinan asli yang diserahkan Azalea pertengahan 2010. Azalea ingin agar pesan kekasihnya, rekaman pencariannya, diketahui banyak orang. Sebab dia sendiri juga berakhir dihunjam rindu yang tak terjelaskan pada Muhammad. Terlepas dari agama apapun, mimpi adalah sebuah pengalaman yang nyata bagi pemimpinya.
Selain pesan cinta penuh takjub pada sosok Muhammad, sang pemimpi menyadarkan kita akan kecenderungan alami manusia: apapun agamamu, kebaikan tak bisa kau tolak.

“Apakah yang lebih besar dari iman?” Kata sosok Muhammad dalam mimpiku. Dia tersenyum menatapku, tetapi entah bagaimana aku tahu sesungguhnya dia sedang bersedih.
“Aku tak tahu,” kataku. Tenggorokanku terasa sangat kering. Terik matahari menyengat–aku berada disebuah tempat yang kering dan tandus. Bukan padang pasir, melainkan sebuah tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Tiba-tiba, aku ingin melihat sosok itu… Dan dia tersenyum tulus ke arahku. Aku melihat seorang lelaki dengan wajah yang agung dan bercahaya. Ini semacam cahaya aneh yang justru tak membuatku merasa silau–tapi teduh. Kulitnya bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya tampan, bola matanya hitam jernih, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan.
Sekali lagi dia tersenyum. Senyum yang sanggup membuatku lupa akan rasa haus dan panas yang membakar kulit. “Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?” Katanya mengulang pertanyaan pertama.
“Aku tak tahu,” jawabku.
Lalu dia memberiku minuman. Dia seolah tahu bahwa tenggorokanku terasa menyempit, haus yang hampir membakar rongga mulutku. Dia menyodorkan sebuah cawan berisi air yang dingin dan jernih… “Minumlah,” katanya, “kau sangat membutuhkannya.” Lagi-lagi dia tersenyum.
Aku pun segera meminumnya. Ada dingin yang mengalir d itenggorokanku, mengalir menjadi damai di hatiku. Aku merasakan kesegaran yang membebaskan, sesuatu yang membuat matahati dan pikiranku terbuka. Lalu langit meredup teduh, awan diarak pelan-pelan, angin menerbangkan helai-helai daun yang kering, rumput-rumput bersemi, bunga-bunga mekar–wewangian yàng membebaskan segala bentuk penderitaan.
Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muahmmad. “Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.”
Seketika, langit hening, bumi hening. Dan lelaki itu melparkan senyumnya sekali lagi, lalu membalikkan tububnya setelah mengucap salam perpisahan. Pelan-pelan dia melangkah pergi, menjauh meninggalkanku.
Apakah yang lebih besar dari iman? Bisik hatiku. Apakah yang utama dan lebih penting dari iman? Aku menatap punggung Muhammad yang menjauh… Terus menjauh.
Kebaikan? Barangkali inilah kebaikan, kataku dalam hati. Budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membuatmu merasakan kebahagiaan yang membebaskan dan kau takkan pernah rela ditinggal pergi olehnya.
Entah mengapa, ada perasaan sedih teramat dalam saat ia meninggalkanku sendirian. Aku benar-benar tak rela melepasnya pergi… Aku menatap punggungnya dan memanggilnya kembali dengan mata rinduku, tetapi ia terus menjauh… Menjelma sunyi, meninggalkanku.

Demikianlah tutur sang pemimpi dalam suratnya.

 

MB/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *