Satu Islam Untuk Semua

Monday, 08 May 2017

Pesan Bung Karno ke Insan Pers: Terus Upgrade, Banyak Baca, Jangan Sebar Fitnah


Pesan Bung Karno ke Insan Pers Terus Upgrade, Banyak Baca, Jangan Sebar Fitnah

islamindonesia.id – Pesan Bung Karno ke Insan Pers: Terus Upgrade, Banyak Baca, Jangan Sebar Fitnah

 

Belum lama ini, tepatnya pada 3 Mei 2017, Indonesia dipercaya jadi tuan rumah peringatan puncak World Press Freedom Day atau Hari Kebebasan Pers Sedunia. Pers meski harus bebas dan independen, tapi tak boleh luput dari etika dan tanggung jawab-tanggung jawab terhadap pembaca, terhadap masyarakat.

Bicara kebebasan, etika dan tanggung jawab pers, Presiden pertama RI Ir Soekarno sudah dari jauh-jauh hari sudah berpesan, mewanti-wanti, menasihati agar insan pers tak kebablasan dengan kebebasannya.

Pesan, wanti-wanti dan nasihat yang disampaikan lewat pidatonya di malam ramah-tamah dengan para insan pers dari lembaga Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Istana Bogor, 20 November 1965.

Pidato yang intinya setiap insan pers harus selalu memprioritaskan verifikasi. Memprioritaskan kebenaran, memprioritaskan upgrade. Upgrade atau peningkatan kualitas lewat membaca, serta menghindari pemelintiran, apalagi pembohongan publik.

Pidato atau amanat bahwa tanggung jawab setiap insan pers itu gawat, kalau mengabaikan hal-hal tersebut.

Berikut ringkasan pidato Bung Karno seputar dunia pers di Istana Bogor, 20 November 1965 yang disarikan dari buku ‘Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965 – Pelengkap Nawaksara’ oleh Asvi Warman Adam, Budi Setiyono dan Bonnie Triyana:

…Wartawan-wartawan Indonesia ini perlu upgrading. Caranya memberi pengetahuan yang luas yang salah satu jalan ialah banyak membaca, banyak membaca, banyak membaca. Saya ini boleh dikatakan sebagian daripada hidup saya itu pekerjaan Cuma membaca, membaca, membaca, membaca dan membaca. Sebab, membaca menambah pengetahuan kita. Membuat kita manusia yang kultur yang tinggi nilainya. Saya anggap penting selalu membaca, meskipun saya telah diberi gelar Doctor Honoris Causa 27 kali oleh universitas-universitas.

…Pokok daripada keprihatinan saya di waktu-waktu belakangan ini, jikalau aku membaca tulisan-tulisan Saudara di surat-surat kabar, banyak sekali yang Saudara tulis di surat-surat kabar sebetulnya self destruction daripada bangsa kita. Oleh karena apa? Apa yang Saudara tulis itu terlalu berjiwa gontok-gontokan, bakar-bakar semangat etcetera, etcetera, etcetera.

…Moral agama melarang, menjaga jangan sampai kita itu menjalankan fitnah. Agama apapun tidak membenarkan fitnah. Dari segala macam kejahatan sebetulnya fitnah itu adalah yang ter, ter, terjahat. Saudara sebagai wartawan punya pekerjaan itu sebetulnya gawat sekali. Lebih gawat daripada pekerjaanmu. Apa sebab gawat? Oleh karena sampai sekarang ini apa yang ditulis di surat kabar dipercaya. Het volk gelooft het (yang dipercaya masyarakat).

…Ada kabar misalnya seorang perempuan menjadi hamil, karena ya digeremeti ular! Wah ini wah, di sana ada perempuan jadi hamil digeremeti ular! Saya bilang nonsens! Kapan parantos diserat, di surat kabar! Jadi apa yang ditulis di surat kabar benar menurut anggapan manusia sekarang ini. Coba apapun yang ditulis di dalam surat kabar dipercaya manusia. Dikatakan parantos asup di surat kabar, kan sudah masuk surat kabar. Nggak salah lagi, kalau sudah masuk surat kabar itu sudah nyata benar.

Nah, Saudara-saudara, inilah kegawatan pekerjaan Saudara-saudara. Jangan sampai Saudara-saudara mengeluarkan satu perkataan pun dari tetesan pena Saudara yang tidak berisi satu kebenaran. Oleh karena tiap-tiap tetesan pena Saudara dipercayai oleh pembaca. Tanggung jawab Saudara adalah tinggi sekali. Karena itu saya peringatkan, awas jangan sampai tulisan Saudara sebetulnya adalah fitnah.

…Karena itu saya anjurkan sebelum Saudara menulis barang sesuatu cek dulu, cek dulu, cek dulu, cek dulu. Hati-hati menulis, sebab Saudara-saudara punya pekerjaan adalah pekerjaan gawat sekali. Gawat! Janganlah Saudara itu membantu kepada inilah, hhh, panas-panasan, yang saya namakan gontok-gontokan, gebug-gebugan. Ingat, a great civilization never goes down unless it destroys itself from within.

Bung Karno tidak asal cuap terkait dunia pers. Sejak usia 17 tahun di mana anak muda umur segituan sekarang kebanyakan kerjanya cuma baper-baperan (bawa perasaan) dan galau-galauan cenderung alay, Bung Karno sudah jadi wartawan.

Semasa masih mengenyam bangku sekolahan tingkat HBS (Hogere Burgerschool, setingkat SMA sekarang), Bung Karno sudah jadi wartawan pembantu koran Oetoesan Hindia. Saat sudah di Bandung bersekolah di Technische Hoge School te Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB), pindah ke koran Sama Tengah.

Lantas bersama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Bung Karno memimpin surat kabar Fadjar Asia. Makanya Bung Karno berpesan dan mewanti-wanti hal tersebut kepada para insan pers kala itu.

Tentunya masih relevan untuk para wartawan dewasa ini, untuk selalu meng-upgrade wawasan agar terhindar menulis fitnah yang malah menghancurkan bangsa Indonesia dari dalam- sebagaimana ungkapan dua sejarawan dunia Arnold Toynbee dan Edward Gibbon: “A great civilization never goes down, unless it destroys itself from within”.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *