Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 19 July 2014

Peluit Jelang Akhir Perjamuan Agung


webpublicapress.net

Anda mungkin tercenung saat membaca tulisan di Islam-watch.org itu. Ini situs milik beberapa orang yang sebelumnya Muslim tapi kemudian murtad karena, menurut mereka, Islam ‘sama sekali bukan agama’. Tapi kritik mereka tentang kebiasaan makan berlebih kaum Muslimin di bulan Ramadan ini mungkin perlu kita renungkan.

Dengan kata lain, puasa bertujuan mengurangi pengeluaran atau tekanan ekonomi serta melatih menahan diri dengan mengurangi kemewahan pribadi, hawa nafsu, atau kenyamanan dll. Tapi pada kenyataannya, umat Islam melakukan yang sebaliknya! Muslim, selama berpuasa bulan Ramadhan, menggelar pesta makanan dan minuman lezat pada malam hari, bukan siang hari. Saat makan malam, orang yang berpuasa bisa makan dua kali lipat jumlah makanan paling bergizi, lezat dan mewah dibanding biasanya. Pengeluaran bulanan akan berlipat ganda atau tiga kali lipat selama bulan Ramadan dibanding dengan bulan-bulan lain. Itu berarti, selama bulan Ramadan, umat Islam berfoya-foya lebih besar daripada bulan-bulan lainnya. Alih-alih mengurangi kenyamanan, kepentingan diri sendiri dan kemewahan, Muslim lebih menikmati perayaan bulan ini dengan pengeluaran besar dan pesta pora makan.

Coba kita ingat-ingat lagi, sejak awal puasa, berapa jenis panganan buka puasa per harinya, yang kita buat sendiri atau kita beli dari gerobak-gerobak jajanan yang tiba-tiba bermunculan bak jamur menjelang buka puasa? Berapa jenis lauk yang kita siapkan untuk makan malam dan sahur? Seberapa sering perut kita menjadi begitu begah lepas azan Maghrib atau azan Shubuh menggema?

Kekurangan masih banyak. Tpai pintu untuk berubah belum lagi tertutup. Di sisa Ramadan ini, kita masih bisa memperbaikinya. Kita bisa mengurangi jatah makanan buka puasa dan sahur. Sebagai ganti, kita hadiahkan pada mereka yang kurang mampu di lingkungan. Mungkin, dengan begitu kita bisa lebih menikmati tujuan puasa di bulan Ramadan ini; berbagi pada yang kurang mampu dan merasakan sedikit penderitaan mereka. Semoga. [A]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *