Satu Islam Untuk Semua

Friday, 06 March 2015

Muhammad, Pemuda Teladan dari Quraisy


Sejak usia muda, Nabi Muhammad saw sudah terkenal dengan kebijaksanaan, kedermawanan, kecerdasan dan keberaniannya. Alkisah seorang pedagang menjual barang dagangan pada Ash bin Wa’il, yang berjanji akan membayar harga barang dua hari kemudian. Tapi sayang, Ash ingkar janji. Dia tak membayar hutang. Sang pedagang sedih dan kecewa karena jika ingin memperoleh haknya, dia harus bisa membuat banyak pemimpin suku berpihak padanya. Dan ini bisa disebut mustahil baginya.

Kesedihan dan kekecewaan membuat sang pedagang tak tahan lagi. Suatu hari, saat para peziarah mengelilingi Ka’bah, dia naik ke tangga kedua Ka’bah, menceritakan penderitaannya. Nabi Muhammad yang kala itu baru berusia 20 tahun ikut menyaksikan keluh kesahnya. Kezaliman Ash membuat beliau sangat marah dan terusik. Ash bin Wa’il memang sudah terkenal sebagai penguasa yang sering menindas orang lain. Muhammad saw langsung maju ke depan, mengambil tangan si pedagang lalu  menariknya turun. “Akan kita tuntut hak-hakmu dari Ash. Aku bersumpah pada Tuhan pemilik Ka’bah! Kita akan melakukannya,” katanya berapi-api.

Seseorang menyahut, “ Bagaimana caranya?”

Muhammad  saw menunjuk pamannya Zubair dan berkata, “Aku punya paman Zubair, Abbas, dan Hamzah. Dengan bantuan mereka, juga para pemuda Mekkah, kita tak akan membiarkan penguasa menindas orang-orang tak berdaya. Kapan saja kita mendengar suara orang tertindas memohon keadilan, kita harus membantu menyelamatkannya.”

Lalu beliau menoleh ke pamannya Zubair, “Benar kan paman? Maukah paman membantu kami membereskan urusan ini?”

Zubair tersenyum, “Ya nak, aku akan membantumu.”

Malam itu Zubair mengundang pemuda-pemuda Mekkah ke rumahnya. Zubair menekankan pentingnya bangkit melawan penindas yang merampas hak rakyat kecil. Semua yang hadir sepakat untuk saling membantu. Malam itu mereka menandatangani perjanjian bersejarah, Hilful Fudhul.

Esoknya, para pemuda itu mendatangi Ash bin Wa’il bersama sang pedagang. Nabi Muhammad berjalan paling depan. Beliau meminta Ash mengembalikan barang-barang pedagang atau membayar hutangnya. Awalnya Ash menolak. Namun ketika menyaksikan kesungguhan Nabi untuk mempermalukannya di kota jika tak mengembalikan hak pedagang, dia tak bisa berkutik lagi. Saat itu juga, Ash bin Wa’il membayar semua barang pedagang.

Sejak saat itu, sosok Muhammad muda melejit jadi teladan terhormat warga Mekkah. Beliau selalu berhasil mengembalikan hak orang-orang tertindas lewat kata-katanya yang bijak.

 

(Muhammad/Islam Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *