Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 12 July 2018

Lalu Muhammad Zohri, Anak Nelayan Pengukir Prestasi Bangsa


B56B73F2-D15B-4269-B8CF-CFAA27447DB4

Islamindonesia.id-Lalu Muhammad Zohri, Anak Nelayan Pengukir Prestasi Bangsa.

 

 

 

Sprinter Lalu Muhammad Zohri berhasil membawa nama Indonesia berkibar sebagai juara dunia lari seratus meter U-20 di Stadion Ratina, Tampere, Finlandia, 11 Juli. Atlet yang semula tidak diperhitungkan ini ternyata mampu menyingkirkan 7 peserta lain dari negara-negara yang justru menyimpan segudang jagoan pelari seperti Jamaika dan Amerika Serikat. 

Sebagaimana namanya yang dipanggil terkahir kali, Zohri menginjak garis start di lajur delapan. Namun saat kaki kananya menyentuh garis finis, Zohri mengukir catatan tercepat dengan waktu 10.18 detik. 

Ketika Zohri melewati garis finis itulah, nama Indonesia disebut-sebut berungkali. “Ini tak dapat diduga,” kata salah satu komentator Kejuaraan Dunia Atletik dalam video rekaman lomba. “Inilah rekor terbaru bagi Indonesia.”

Zohri sujud syukur sesaat namanya diumumkan secara resmi sebagai juara di Stadion. Tangannya melambai ke arah penonton di tribun tanpa ditemani bendera kebanggaannya: Merah Putih. Di tribun pun tak tampak bendara negaranya yang berkibar di sana. 

“Saya tidak (menyangka),” kata Pelatih Pelatnas Indonesia, Eni Nuraini seperti dikutip Tempo, 12 Juli. “Alhamdulillah bangga dengan hasilnya.”

Atlet asal Dusun Karang Pansor, Lombok Utara ini, akhirnya menjadi sorotan publik. Namanya di perbincangan ramai di linimasa hingga menjadi trending topic.

Di Balik Prestasi Johri

Johri, demikian ia akrab disapa. Pemuda yang kini hidup tanpa ditemani orangtua, namun tak putus semangat meraih prestasi. 

Menurut keterangan yang diterima redaksi, kehidupan keluarga Johri justru masih memprihatinkan. Rumahnya masih terbilang memprihatinkan di kampung halamannya.

BE77ADC2-B3C6-42BD-9A2F-C52806D4CB19

“Kalau pulang, Johri tidur di rumah bedek peninggalan orang tua kami. Kami sudah usulkan bantuan program rumah kumuh dari pemerintah Lombok Utara, namun belum ada kabar sampai saat ini,” kata Ma’rif, kakak Lalu Muhammad Johri kepada wartawan, kemarin.

Johri kelahiran 1 Juli 2000, merupakan anak ketiga dari pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Semasa hidup, orang tua Johri, Lalu Ahmad bekerja sebagai nelayan dan melakukan pekerjaan sampingan sebagai buruh tani untuk mencukupi kebutuhan keluarga. 

Sedangkan ibunda Johri, Saeriah meninggal saat Johri duduk di bangku SD. Ayahnya menyusul menghadap Sang Pencipta hampir setahun lalu. Kala itu Johri sedang di luar daerah melakukan persiapan menghadapi salah satu kejuaraan bergengsi. Namun terpaksa pulang untuk melihat orang tuanya terakhir kali.

“Semasa hidup, orang tua kami sangat mensupport Johri untuk terus mengukir prestasinya. Alhamdulillah amanat itu dijalankan dan sekarang telah mengharumkan nama Indonesia. Kami sangat bersyukur,” ungkapnya.

Ia menceritakan, saat pertama kali ditawari mengikuti kejuaraan, Johri sempat menolak. Beragam alasannya. Salah satunya persoalan biaya yang dikhawatirkan. Namun dengan support orang tua yang mengharapkan Johri tetap ikuti, akhirnya membangun semangatnya menerima tawaran itu.

Johri mengenyam pendidikan SDN 2 Pemenang Barat, dan melanjutkan di SMPN 1 Pemenang. Belum tuntas menjalankan studi di SMP itu, Johri mendapat tawaran untuk ikut dalam kejuaraan. 

Ia dianggap berpotensi dan berhasil hingga beberapa kali menoreh prestasi. “Dulu saat SMP, Johri terbilang siswa yang malas. Beberapa kali dijemput ke rumah untuk bisa sekolah oleh gurunya, dan bahkan pernah tidak naik kelas satu kali,” kata sang kakak.

Dengan prestasi yang ditoreh Johri saat ini, Ma’rif pun berpesan agar tetap mempertahankannya demi mengharumkan nama bangsa Indonesia. Namun Johri juga diingatkan tetap memperhatikan masa depannya.

“Saya sering komunikasi dengan Johri, saling menanyakan kabar. Meskipun dalam keadaan sibuk ia menyempatkan diri untuk menghubungi kelurganya di Lombok Utara

 Zohri menjadi pelajaran khususnya bagi generasi milenial Indonesia. Hidup dengan keterbatasan tak harus menjadi hambatan untuk mengukir prestasi. Man jadda wa jada. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan meraih apa yang ia cita-citakan. 

 

 

YS/Islamindonesia  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *