Satu Islam Untuk Semua

Monday, 12 September 2016

KOLOM – Gus Mus: Berkurban dan Berhaji


images

IslamIndonesia.id – KOLOM – Gus Mus: Berkurban dan Berhaji

 

Oleh KH. Ahmad Musthafa Bisri *

 

Hari Raya Idul Adha, di masyarakat kita, sering disebut juga Hari Raya Kurban atau Lebaran Haji. Kata Kurban (dengan ‘u’) agaknya memang terjemahan dari kata “adh-ha” yang kurang lebih berarti “persembahan kepada Tuhan”.

Persembahan kepada Tuhan yang berupa penyembelihan hewan (seperti domba, sapi, atau unta) di Hari Raya Adha melambangkan kesediaan dan ketulusan hamba untuk berkoban (dengan ‘o’), menyatakan bakti dan kesetiaan kepada, untuk dan demi Tuhannya. (Baca “Kurban dan Korban” dalam buku saya: Saleh Ritual Saleh Sosial).

Bermula dari keteladan Nabi Ibrahim a.s. yang, sebagaimana sudah kita ketahui, telah membuktikan cinta dan ketaatannya yang tulus kepada Tuhannya dengan kesediaan mengurbankan putranya, Ismail a.s. Demikian pula sang putra telah menunjukkan bakti dan kepasrahan kepada Allah dengan kerelaannya mengorbankan nyawanya. Untuk itu, Allah kemudian menggantinya dengan domba sebagai isyarat dikabulkannya pengorbanan dan ketaatan kedua hamba-Nya yang saleh itu.

Jadi, inti makna dari kurban di Hari Raya Kurban memanglah berkorban. Apabila demi dan untuk Allah yang dicintai, Nabi Ibrahim a.s. bersedia mengorbankan putranya dan Nabi Ismail a.s bersedia mengorbankan nyawanya, maka kita hanya dituntut membuktikan ketulusan cinta dan penghambaan kita dengan sekedar mengorbankan sebagian kecil dari harta kita; menyembelih hewan.

Allah meminta daging hewan yang kita kurbankan itu dibagikan kepada hamba-hamba-Nya dan secuil  pun Allah tidak meminta bagian. Bukan daging dan darah hewan itu yang sampai kepada-Nya, melainkan ketakwaan yang menyertai pengorbanan itulah yang sampai. (Q.S. 22: 37)

Dituntut atau tidak, memang kesediaan pengorbanan itulah bukti paling nyata dari pernyataan cinta dan kesetiaan. Anda boleh menyatakan hal-hal yang muluk demi Tuhan, demi tanah air, dan demi siapa dan apa pun yang Anda cintai, tetapi pada akhirnya kesediaan Anda berkoban dan sebesar apa pengorbanan Anda kepada yang Anda cintai itulah yang menjadi ukuran kebenaran pernyataan Anda itu.

Bagaimana orang – apalagi Allah – bisa percaya Anda mencintai-Nya, misalnya, jika mengorbankan waktu, perhatian, atau sedikit harta untuk-Nya saja, Anda ogah-ogahan? Bagaimana pernyataan Anda mencintai tanah air bisa dipercaya bila – jangankan berkorban untuknya – apa yang Anda lakukan untuknya senantiasa Anda perhitungkan untung-ruginya bagi kepentingan Anda sendiri?  Menyatakan mencintai dan membela rakyat, tetapi jangankan mau berkorban untuk mereka, meminjamkan telinga untuk mendengarkan mereka saja tak sudi. Siapa mau percaya?

***

Idul Adha juga disebut Lebaran Haji. Tentu saja karena pada saat itu kaum Muslimin di tanah suci sedang melaksanakan ibadah haji. Khususnya di Indonesia, ibadah haji merupakan ibadah yang sungguh istimewa. Entah mengapa, haji merupakan satu-satunya ibadah, selain penetapan tanggal mulianya puasa dan Id, yang diurus secara monopoli oleh pemerintah. (Memang ada swasta yang ikut mengurus, tetapi sepertinya kurang ‘direlai’).

Sebagai salah satu rukun Islam, haji sebenarnya sama saja dengan syahadat, salat, puasa, dan zakat. Dari sisi lain, sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, haji pun pada hakikatnya merupakan anugerah Allah (meski yang ini, jarang orang yang menyadarinya).

Bila salat, misalnya, bisa kita pandang sebagai kesempatan yang dianugerahkan oleh Yang Mahabesar kepada hamba-Nya untuk ‘beraudiensi’ dengan-Nya, minimal lima kali sehari (bandingkan dengan sulitnya bertemu dengan pembesar dunia!), maka kita pun akan melaksanakannya dengan penuh gairah dan kegembiraan, tidak sedikit pun merasa terpaksa. Di samping itu, kita akan memperolah kedamaian dan kebahagiaan hidup. Itulah sebabnya Nabi Muhammad Saw merasa paling damai dan bahagia dalam salat.

Demikian pula puasa, apabila kita anggap sebagai anugerah berupa kesempatan yang diberikan-Nya kepada kita untuk merenungi hakikat diri kita dan makna kehidupan kita, maka kita tidak hanya akan mendapatkan lapar dan haus.

Ibadah haji pun begitu. Haji merupakan anugerah yang luar biasa. Ia memberi kesempatan kepada hamba-hamba yang dipilih-Nya untuk menjadi tamu-tamu-Nya. Dan tamu-tamu-Nya itu akan memperoleh banyak kemanfaatan bagi kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan haji, hamba Allah, misalnya, mendapatkan kesempatan untuk ‘belajar’ mati.

Mulai berangkat meninggalkan kampung halaman, saat keluarga dan handai tolan melepaskannya pergi, hingga ia dikumpulkan bersama sekian banyak hamba-hamba Allah yang lain di padang mahsyar dengan pakaian seragam: putih-putih: sebenarnya ia sedang ‘belajar’ mengalami – tidak sekedar menyadari – kematian.

Kita tidak tahu persis, apakah binatang pernah menyadari kematian. Yang jelas, perilaku kebinatangan yang kita lihat sering muncul dari manusia, – makhluk yang sebenarnya dimuliakan oleh Allah. Seperti kerakusan, keangkuhan, kesewenang-wenangan, dan sebagainya, umumnya bermula dari tiadanya kesadaran manusia yang bersangkutan – atau dunia telah membuatnya lupa – bahwa dia akan mati. Lupa mati berarti lupa Allah. Bukankah mati berarti menghadap kepada Allah?

Waba’du, berkurban atau berhaji, sebagaimana amal-amal ibadah lainnya, adalah untuk mencari dan mendapatkan ridha Allah, bukan mencari dan mendapatkan ridha diri sendiri. Sayangnya, sering kali kita sukar membedakan antara ridha Allah dan ridha kita, bahkan antara mau Allah dan mau kita sendiri.[]

* Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin Rembang.

 

YS/IslamIndonesia/ Sumber: Melihat Diri Sendiri (Gama Media, 2003)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *