Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 18 October 2018

Kisah di Balik Kemunculan Rumah Sujud Pasca Gempa Lombok


Kisah di Balik Kemunculan Rumah Sujud Pasca Gempa Lombok

islamindonesia.id – Kisah di Balik Kemunculan Rumah Sujud Pasca Gempa Lombok

 

Sukarno berusaha kembali dari keterpurukan usai bencana gempa pada Agustus lalu. Rumahnya yang berada di Desa Bug-bug, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), rata dengan tanah akibat gempa yang melanda wilayah tersebut awal Agustus lalu.

Sejak kejadian itu, pria berusia 44 itu tinggal di tenda pengungsian. Meski dalam kondisi bencana, perawat di Puskesmas Lingsar juga tetap bertugas untuk melakukan pelayanan kesehatan, termasuk bagi korban gempa.

Lebih dari dua bulan pascagempa, belum ada kejelasan soal bantuan dana stimulan untuk dirinya. Dari hasil pendataan pemerintah desa, namanya tidak tercantum sebagai calon penerima bantuan meski rumahnya masuk dalam kategori berat.

“Nama saya enggak ada daftar, ingin protes juga, ada rasa ketidakadilan, verifikasi tidak masuk itu yang saya sesalkan,” ujar Sukarno di rumahnya, di Desa Bug-bug, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Namun, dia mengaku, tidak ingin berlama-lama larut dalam kekecewaan, dan tidak lagi berharap pada bantuan pemerintah. Ia dibantu teman-teman sesama pendaki Gunung Rinjani membersihkan puing bangunan rumahnya akibat gempa.

Begitu rampung proses pembersihan, Sukarno secara swadaya membangun rumahnya kembali. Uniknya, rumah yang dibangun bukan rumah biasa. Model rumah mengusung konsep rumah terbalik.

Korban gempa di Desa Bug-bug, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, NTB, memilih mandiri membangun rumah dengan konsep rumah terbalik yang disebut Rumah Sujud. Filosofinya agar menjadi pengingat untuk manusia selalu bersyukur kepada Allah SWT dan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Ya, sengaja model seperti ini, kita sebut rumah sujud karena posisi rumah seperti sedang bersujud,” lanjutnya.

Kata dia, hal ini menjadi penanda bahwa manusia tetap harus bersyukur kepada Allah SWT dan menjadikan musibah sebagai sebuah ujian untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Sukarno memang sengaja membuat konsep rumah yang menarik. Dia berharap, hal ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Sukarno memiliki harapan, warga sekitar mau mengikuti langkahnya membangun rumah dengan konsep serupa.

Ide pembangunan rumah terbalik, dia katakan, dibantu sang kakak, Subhan, yang memiliki kemampuan dalam hal arsitektur. “Kita coba browsing-browsing dan cari yang paling sederhana, buat miniatur dulu lalu konsultasikan ke tukang,” ucap Sukarno.

Sukarno mengaku, menghabiskan sekira Rp 50 juta untuk membangun rumah terbalik yang menggunakan bahan material mulai dari genting ondovila untuk atap, kalsiplank untuk dinding, dan sisa puing yang masih bisa digunakan, seperti pintu dan jendela. Rumah terbalik seluas 6 meter x 5 meter memiliki lama waktu pengerjaan sekira tiga pekan.

“Ini sudah jalan seminggu, mungkin sekitar dua minggu lagi rampung, dan arsitekturnya insya Allah tahan gempa juga,” kata dia.

Rencananya, dia akan mengundang komunitas pendaki di Gunung Rinjani untuk menghadiri peresmian rumah terbalik. Ia juga merencanakan adanya penggalangan dana untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) saat peresmian rumah terbalik.

“Ya, bantuan dari korban gempa (Lombok) untuk korban gempa dan tsunami di Sulteng,” kata dia.

Sukarno berkeyakinan idenya ini mampu menjadi daya tarik bagi sektor wisata baru di Lombok. Dia menilai, warga sekitar juga bisa merasakan dampak ekonomi dengan kehadiran pengunjung.

“Warga nantinya bisa berjualan makanan dan minuman, serta kerajinan tangan yang kalau bisa ada ciri khas tentang bencana gempa,” ungkapnya.

Tak sekadar sebagai objek wisata, Sukarno juga akan menampilkan sejumlah unsur yang berkaitan dengan perisitiwa gempa. Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat dan juga mitigasi bencana ke depan bagi masyarakat sekitar dan juga wisatawan.

Kepala Tukang, Andi, mengaku kaget saat diminta Sukarno membangun rumah dengan model terbalik. Namun, Andi menyetujui permintaan tersebut.

“Kita kan sering bawa tamu ke Rinjani, namun kini Rinjani ditutup, katanya sampai dua tahun. Jadi, kenapa kita tidak mulai menciptakan objek wisata baru,” lanjutnya. Andi berharap langkah inovasi Sukarno diikuti masyarakat lainnya yang ada di Lombok.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *