Satu Islam Untuk Semua

Monday, 24 February 2014

Kisah Bijak Para Sufi: Sebab Hilangnya Ilmu


inspirasiislami.com

Apa yang menyebabkan seluruh ilmuku lenyap?

 

“Guru, aku sama sekali tidak mampu mengingat sedikit pun dari hafalan Qur’anku,” keluh Abu Amr—seorang ulama kondang pengajar Al Qur’an sambil menangis kepada gurunya, Hasan Bashri. “Apa yang menyebabkan seluruh ilmuku lenyap?” Cecar sang murid, tak sabar ingin mendapat jawaban.

“Ceritakan apa yang terjadi sebelum ilmumu lenyap seperti itu,” jawab sang guru.

Abu Amr tampak diam. Berpikir sejenak sembari mengingat atas apa yang ia lakukan sesaat sebelum hafalannya lenyap. Perlahan, ia pun mulai membuka mulut, “Kemarin, saat aku sedang mengajar Al Qur’an, tiba-tiba seorang anak laki-laki bergabung dalam kelas pengajaranku. Seketika itu aku merasa bahwa anak tersebut tidak pantas ada di kelasku. Bukan hanya karena anak itu masih kecil, tapi juga ia terlihat sangat dungu,” cerita Abu Amr.

“Aku memandang, tidak mungkin kiranya bocah itu mampu menghafal Al Qur’an seperti halnya murid-muridku atau pun aku, dan seketika itu juga aku lupa seluruh hafalan Qur’anku. Aku marah, dan kehilangan kendali atas diriku.” Lanjutnya.

“Ambillah wudhu, dan shalatlah. Minta ampun pada Tuhan atas kesombongan yang menguasimu.”

Abu Amr pun menurut. Ia melakukan apa yang diperintahkan gurunya yang sangat dihormati itu. Namun, setelah beberapa tahun ia mohon ampun, hafalan yang selama puluhan tahun dibanggakan sebagai ilmu yang mendatangkan banyak manfaat, kini tak kunjung kembali.

“Guru, sungguh aku telah melakukan apa yang diperintahkan, namun ilmuku belum jua kembali,” lapor Abu Amr pada suatu hari.

“Begitulah ilmu ketika kesombongan menguasai manusia. Semakin kau genggam, ia akan semakin lenyap layaknya butir pasir yang semakin kau cengkeram kuat di tangan, hilang tak berbekas,” jelas Hasan Bashri.

Ia kemudian menyarankan agar sang murid pergi ke Masjid Khaif dan menemui seorang tua yang duduk di mihrab untuk memohon didoakan.  

Pada suatu hari, ketika shalat Isya tiba, Abu Amr pun ikut shalat bersama lelaki tua tersebut. Dan, usai dzikir ba’da shalat, Abu Amr segera mendekatinya, mengucap salam dan berkata, “Demi Allah, tolonglah aku,” pintanya. Lalu ia menceritakan masalahnya.

Lelaki tua itu kemudian mengangkat tangannya, terlihat seperti orang berdoa dengan penuh khusyuk, lalu, Abu Amr mengisahkan, “Sebelum ia menurunkan tangannya, hafalan Qur’anku telah kembali. Aku tersungkur di hadapan orang tua itu, menangis bahagia.”

——–

Jika hanya karena secuil api kesombongan yang menjalar di hati dapat melenyapkan seluruh hafalan Qur’an seorang guru dan ulama besar terkemuka Madinah, lantas bagaimana dengan kita–yang mungkin masih minim ilmu dan jauh dari kata ‘alim?

Abu Amr merupakan salah seorang murid kebanggaan Al Hasan ibnu Abil Hasan Bashri. Selain dikenal karena hafalan Qur’annya yang mumpuni, ia juga dikenal sebagai ahli tasawwuf terkemuka pada era awal Islam.

Konon, dengan peristiwa tersebut, Abu Amr tergerak hatinya untuk mengikuti jalan gurunya menjadi seorang sufi.  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *