Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 15 June 2017

Ketua MUI: Indonesia Negara dengan Spirit Agama, Bukan Negara Agama


Permintaan Khusus Ketua Umum MUI kepada Raja Salman

islamindonesia.id – Ketua MUI: Indonesia Negara dengan Spirit Agama, Bukan Negara Agama

 

Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin mengatakan Indonesia beruntung punya Pancasila, sedemikian sehingga Indonesia bukan menjadi negara agama. Indonesia menurut Ketua MUI, merupakan negara dengan spirit agama, bukan negara agama.

Hal ini disampikan Kiai Ma’ruf dalam acara buka puasa bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Jakarta, 13 Juni. Ia berpendapat,  ruh agama terakomodir dalam Pancasila dan mewarnai kehidupan bangsa. Di saat yang sama tidak ada tempat bagi segala bentuk radikalisme.

Pria yang juga Rais Am PBNU ini menjelaskan, radikalisme ada dua. Pertama, radikalisme agama di mana kelompok yang berupaya membawa negara pada pemahaman agama yang tunggal dan negara didasarkan pada satu agama juga aliran tertentu dengan pemaksaan.

Kedua, radikalisme adalah sekulerisme, di mana agama dijauhkan dari kehidupan berbangsa bernegara dan bermasyarakat. Dalam konteks Indonesia, ruh agama tetap menjiwai bernegara termasuk dalam politik. “Ananiyah atau fanatisme golongan juga harus dijauhkan,” kata kiai senior ini seperti keterangan tertulis yang diterima IslamIndonesia.id.

Jadi Indonesia dengan begitu adalah dar Al ahdi, muahadah, negara kesepakatan, dimana semua agama damai di dalamnya. Pancasila adalah kesepakatan bersama. Indonesia bukan negara perang, juga bukan negara kuffar, kafir. Indonesia dar ahdi wa syahadah, kesepakatan dan kesaksian.

Dalam kesempatan itu, pria 74 tahun itu tak lupa menyinggung perjuangan Bung Karno, Bung Hatta, Yamin dan lainnya yang telah merumuskan Pancasila. Dan demi tegaknya NKRI, Kiai Ma’ruf bilang, umat Islam berjuang hingga titik terakhir, termasuk rela menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

“Ini bukti komitmen dan kiprah nyata umat Islam demi NKRI. Tdk boleh ada yang mengganti Pancasila dengan ideologi lain,” katanya.

Dalam negara kesepakatan, lanjut jebolan Pondok Tebuireng ini, mutlak dibutuhkan saling kasih sayang, tolong menolong dan gotong royong. Tanpa itu sulit mewujudkan kebersamaan dlm bingkai kebhinnekaan.

“Karena kita ditakdirkan saling berbeda dan beragam,” tambahnya.

Namun, kata Kiai Ma’ruf, perbedaan dan keragaman itulah yg menguatkan kita, bukan justru menjadi titik lemah atau perpecahan.

Dalam kesempatan yang sama Kapolri Tito menyebut, keberadaan ulama sangat penting dan strategis. Sejarah menyebutkan, ulama menjadi pelopor terdepan dlm perjuangan melawan penjajah dan meraih kemerdekaan, selain Polri, TNI dan unsur masyarakat lain. “Ulama bahkan menjadi pemilik saham NKRI,” katanya.

Menurut Kapolri, masyarakat mengenang perjuangan ulama di masa lalu yang terkenal dengan resolusi jihadnya. Resolusi itu mengobarkan perjuangan masyarakat. Adapun resolusi jihad masa kini tak lain ialah bekerjasama umaro mengisi kemerdekaan dengan pembangunan.

“Kami butuh dukungan dan bantuan dari ulama, khususnya MUI, dalam mengembang tugas dan amanah, tentu selagi dalam koridor hukum dan konstitusi. Kami juga minta tolong diingatkan atau ditegur jika ada yang melenceng atau keliru,” katanya.[]

YS/ IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *