Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 07 October 2014

Idul Adha di berbagai Negara


Shalat ied di Bandung

Dalam memperingati satu hari raya tiap negara punya ciri khas masing-masing, berdasarkan budayanya.Tak terkecuali hari raya Idul Adha. Lebaran kedua umat Muslim ini identik dengan pemotongan hewan ternak. Tradisi ini disandarkan pada kisah Nabi Ibrahim yang hendak menyembelih anaknya, Nabi Ismail, yang kemudian digantikan dengan domba oleh Allah swt. Menurut riwayat, kejadian tersebut terjadi tepat saat Idul Adha. Maka, dalam rangka menghidupkan sunnah nabi, umat Muslim turut berqurban.

Paling tidak itulah tradisi yang selalu kita temukan di Indonesia. Namun tidak semua negara merayakan Idul Adha seperti yang masyarakat Indonesia lakukan. Mari kita lihat sejumlah tradisi di negara-negara Muslim lain.

Tidak ada pemotongan hewan di Irak

Usai shalat sunnah berjamaah, masyarakat Irak kembali ke rumah tanpa sedikit pun melihat pemotongan hewan. Berbeda dengan Indonesia, di Irak tidak ada acara penyembelihan hewan qurban secara publik. Urusan ini sepenuhnya ditangani pihak masjid di tempat khusus. Kebanyakan warga Irak hanya menerima daging mentah. Selain itu, faktor mahalnya harga kambing atau domba juga membuat sedikitnya orang yang berqurban.

Tapi Idul Adha di Irak tidak sesepi itu. Saat Idul Adha, anda dapat menemukan semacam beberap stand di jalanan yang menawarkan makanan bagi pejalan kaki. Ini memang kebiasaan masyarakat Irak untuk menjamu pejalan kaki, terutama mereka yang sedang menuju Makam Sayyidina Ali bin Abi Thalib di Najaf dan Makam Sayyidina Husain cucu Nabi di Karbala.

London, Inggris

Meski minoritas, Muslim di Inggris tetap merayakan hari besar islam. Berhubung tidak ada waktu libur dan penggunaan tempat khusus buat Mulim, maka shalat sunnah ied dilaksanakan pergelombang.

Shalat Ied dibagi menjadi empat waktu, jam 8, 9, 10, dan 11. Ceramah yang disampaikan pun tidak selalu dengan bahasa Inggris. Ceramah disampaikan dalam tiga bahasa: Inggris, Arab, dan Bengali, mengingat banyaknya keturunan Bangladesh di London.

Usai shalat, mereka kembali ke rumah masing-masing dan melanjutkan aktifitas. Bahkan sebagian ada yang langsung kuliah, mengingat peringatan Ied menggunakan kalender Islam, yang berbeda dengan kalender Masehi, sehingga hari raya sering kali terjadi di hari sibuk.

Masalah qurban, Muslim London tidak pernah mengurus sendiri. Ada lembaga di sana yang mengurus sumbangan untuk orang yang membutuhkan. Mereka biasanya akan membayar atau menyerahkan qurban ke lembaga tersebut, baru kemudian didistribusikan ke negara-negara Muslim lain, seperti Palestina, Banglades, Pakistan, dan Asia Tenggara. Muslim London tidak memakan hasil qurbannya sendiri, dan lebih senang menyumbangkannya ke negeri-negeri Muslim yangkurang mampu.

Libur tiga hari di Mesir

Seperti banyak negara Arab lain, Mesir menjadikan Idul Adha sebagai libur nasional. Saat Idul Adha akan anda saksikan banyak jalan ditutup untuk dipakai shalat berjamaah. Jutaan Muslim di banyak kota Mesir melaksanakan shalat sunnah berjamaah di jalanan umum.

Biasanya, usai shalat dan ceramah, mereka akan berkumpul bersama keluarga besar dengan hidangan-hidangan khas Timur Tengah. Libur nasional selama tiga hari membuat tempat-tempat rekreasi penuh dengan anak-anak yang sedang bermain.

Jenis perayaan seperti ini banyak kita jumpai di negara Arab lainnya, semisal Uni Emirat Arab.

Turki

Berbeda dengan Indonesia yang biasanya ingin hadir di masjid dengan keluarga lengkap, Turki memiliki tradisi hanya lelaki yang melakukan shalat Ied berjamaah di masjid. Sedang perempuan yang berkeinginan, melaksanakannya di rumah. Mereka tidak diharamkan ke masjid, melainkan begitulah tradisi turun temurun yang berlaku di sana.

Usai shalat Ied, biasanya Muslim Turki akan berkeliling silaturahmi ke rumah kerabat. Makanan khas yang disediakan bukan makanan berat hasil qurban, tapi manisan seperti coklat yang disebut seker. Sama seperti banyak negara, penyembelihan tidak dilakukan secara umum.

Belanda

Perayaannya cukup umum, shalat sunnah, ceramah, lalu makan bersama. Setelah itu, masyarakat Muslim bersilaturahmi ke rumah kerabat yang lebih tua, baik Muslim maupun non-Muslim. Idul Adha di Belanda selalu diramaikan dengan makanan-makanan manis. Semacam kue yang terbuat dari kacang-kacangan dan madu, baklava, ma’mol, halawa, dan sebagainya.

Seperti di negri Eropa lainnya, proses penyembelihan hewan qurban tidak bisa bebas dilakukan. Ada lembaga khusus yang mengurusnya, baru setelah itu daging dikembalikan untuk dibagi ke kerabat masing-masing.

Banyak imigran Muslim di Belanda yang merayakan dengan caranya sendiri. Pendatang dari Turki, misalnya, lebih memilih merayakannya dengan makan bersama keluarga di restoran. Ada juga yang dari Maroko dengan menggelar pesta di rumahnya.

Itulah gambaran singkat dari keberagaman kondisi dan budaya Muslim dalam merayakan hari besar Islam. Sejatinya, tidak ada permasalahan merayakannya dalam bentuk apapun, asal tidak melanggar aturan Islam dan tidak menghilangkan esensi dari perayaan itu sendiri.

Hari raya qurban awal dimunculkan oleh Nabi Ibrahim yang mengalahkan ego dirinya demi menaati perinta Allah, yakni mengorbankan anaknya. Maka layaknya kita ambil pelajaran dari kisah awal terjadinya Idul qurban ini, mengorbankan ego dan segalanya demi perintah atau ajaran Allah. Itulah Hari Raya Qurban yang sebenarnya.

(Muhammad/berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *