Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 25 June 2014

Hubungan Antara Sunni dan Syiah


www.sunnahsyiah.com

Islam menyerukan semua orang untuk mengenal satu sama lain.


Pemulihan hubungan dan dialog di sekolah atau pusat pendidikan yang mengedepankan pemikiran Islam bertujuan untuk menjaga “tubuh Islam”, agar Islam sebagai agama tetap hidup, koheren, dan kuat, sehingga umat Islam dapat menjaga umat dari musuh-musuhnya. Dalam Al Qur’an, Allah Swt. berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. Al-Anfal: 60)

Dengan demikian, kepatuhan terhadap pluralisme dalam Islam –dengan saling menghormati—terbukti dengan pandangan dan pemikiran yang berbeda—merupakan benteng kekuasaan. Sementara itu, mencoba untuk memaksakan pikiran atau pandangan tertentu pada orang lain merupakan jalan menuju kelemahan dan kehancuran. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah untuk meningkatkan persatuan Islam dan untuk melaksanakan perintah Allah Swt. yang tercantum dalam  Surat Ali Imron : 103.

“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya, kamu menjadi bersaudara.”

Islam menyerukan semua orang untuk mengenal satu sama lain. Allah Swt. berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al-Hujurat 49:13)

Oleh karena itu, Sunni dan Syiah—kelompok terbesar dalam umat Islam—perlu mengenal satu sama lain. Cendekiawan Muslim terkemuka dunia, Dr Al-`Awwa menjelaskan secara singkat tentang keadaan historis yang menyebabkan perselisihan di kalangan umat Islam pasca kematian Nabi Muhammad Saw.

Setelah kematian Nabi, empat sahabat diasumsikan dalam kekhalifahan. Abu Bakar As-Siddiq terpilih sebagai khalifah pertama. Ia digantikan oleh Umar ibn Al-Khattab dan kemudian Utsman ibn Affan, yang kemudian dibunuh di tengah kerusuhan politik karena ketidaksetujuan masyarakat atas beberapa tindakannya.

Setelah itu, Ali ibn Abi Thalib diakui sebagai khalifah keempat, namun ada ketidaksepakatan di antara masyarakat mengenai posisinya. Beberapa menolak untuk mengakuinya sebagai khalifah, dan sebagian lain memberikan dukungan mereka untuknya. Kelompok ketiga, bagaimanapun, menganggapnya sebagai seorang imam dan khalifah yang sah. Ketidaksepakatan tersebut masih ada di zaman modern kita saat ini.

Selama kekhalifahan itu, Ali ibn Abi Thalib berselisih dengan Thalhah ibn Ubayd Allah dan Az-Zubair bin Al-Awam. Juga, berselisih dengan Mu’awiah bin Abi Sufyan. Pertengkaran ini memicu kontroversi di kalangan masyarakat.

Perjuangan bersenjata antara Ali dan Mu’awiah membagi umat menjadi tiga pihak:

Pihak pertama berpihak pada Ali sepanjang dan setelah perjuangannya. Para anggota sisi ini kemudian dikenal sebagai Partai (Syiah) dari Ali. Nama itu kemudian dikurangi menjadi Syiah. Partai ini semakin pecah menjadi banyak golongan, yang sebagian besar tidak ada lagi. Kini, yang tersisa hanya dua kelompok tetap, yakni Imamiyah Ithna `Ashriyyah (Ja`fariyyah) dan Zaidiyah.

Pihak kedua kemudian dikenal sebagai Al-Khawarij (pembangkang). Penamaan pada kelompok ini telah disematkan sejak awal. Namun, mereka tidak ada lagi. Hari ini, tidak ada jejak mereka yang dapat ditemukan.

Pihak ketiga adalah kelompok yang dikenal sebagai Ahl As-Sunnah Wal-Jama ah. Kelompok inilah yang kemudian menyasar sebagian besar umat Islam yang selama perang terpecah menjadi kelompok Ali dan Mu`awiyah. Namun, pada akhirnya, ketika Al-Hasan ibn Ali mengundurkan diri dari kekhalifahan mendukung Muawiyah, kedua kubu tersebut digabung menjadi satu partai.

Satu hal yang menjadi alasan utama di balik perpecahan tersebut di kalangan umat Islam adalah politik. Kemudian, meluas ke permasalahan keyakinan dan hukum. Masing-masing pihak memiliki konsep dan alasan tersendiri terkait pendapat mereka. [LS]

 

Sumber: OnIslam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *