Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 19 October 2017

Habib Umar bin Hafidz: Islam Lebih Memilih Jalan Damai, Ketimbang Konflik dan Kekerasan


Habib Umar bin Hafidz Islam Lebih Memilih Jalan Damai, Ketimbang Konflik dan Kekerasan

islamindonesia.id – Habib Umar bin Hafidz: Islam Lebih Memilih Jalan Damai, Ketimbang Konflik dan Kekerasan

 

Di hadapan para dosen dan guru agama Islam, Senin (16/10/2017) malam lalu di Crowne Plaza Hotel Jakarta, Habib Umar bin Hafidz menegaskan bahwa Islam mempromosikan jalan damai dan memilih menghindari konflik dan kekerasan sejauh mungkin.

Saat Nabi di Makkah sebagai minoritas, Nabi dan kaum Muslimin masa awal, hidup sebagai minoritas di bawah hukum kafir. Nabi tidak memberontak dan tidak menyulut perang, meski faktanya malah beliau yang diganggu. Tapi beliau mengupayakan dengan sebaik-baiknya agar bisa menjalankan syariah Allah di antara mereka. Nabi tidak menghancurkan berhala, atau melempari rumah orang-orang kafir.

Masa itulah yang disifati oleh Allah sebagai jihadan kabiiraa. Hal ini sekaligus dengan tegas menunjukkan bahwa istilah jihad tidak mesti bermakna perang.

Lalu ketika Nabi mulai berdakwah secara terbuka dan ditindas, Nabi bukan berperang melainkan berhijrah (menghindar). Ini sesuai perintah Allah dalam al-Quran. Dalam hal seperti itu, Allah tidak memerintahkan berperang, tapi justru agar Nabi pindah, berhijrah.

Pada kenyataannya, para Nabi hidup sebagai minoritas di tengah kelompok kuffar atau agama lain. Nabi Nuh malah dalam 950 tahun berdakwah cuma mendapatkan pengikut yang jumlahnya sedikit. Tapi tetap saja tidak (diperintahkan) memberontak juga. Nabi Ibrahim malah pernah menjadi satu-satunya Mukmin. Meski demikian, bahkan, menurut satu versi, Nabi Ibrahim tidak menghancurkan berhala-berhala seperti yang dipahami pada umumnya.

[Baca: Islam Kita Menyatukan, Bukan Memecah Belah Umat]

Negeri yang di dalamnya kita masih bisa merasakan ketenangan dalam menjalankan syariah Islam, adalah negeri Islam. Kalau untuk menjalankan syariah Islam saja susah dan dihambat, maka hijrahlah.

Nabi selalu bermuamalah dengan baik dengan non-Muslim. Ada beberapa ilustrasi menarik yang bisa diberikan. Misalnya ketika dikatakan bahwa bagi tetangga (non-Muslim) ada 1 hak, bagi sesama Muslim ada 2 hak, bagi Muslim sekaligus kerabat ada 3 hak.

Ilustrasi lain yang juga menarik adalah ketika dalam suatu peperangan, musuh dari kalangan kuffar berhasil memotong tangan salah seorang sahabat. Secara kebetulan si sahabat mendapati si kuffar beristirahat dalam keadaan membaca syahadat.

Si sahabat bingung, bertanya kepada Rasul SAW, “Bolehkah orang itu saya bunuh, ya Rasul?” “Tidak boleh,” jawab Nabi. “Tapi dia sudah motong tangan saya,” kata si sahabat. “Kalau kaubunuh dia, dia mati sebagai Mukmin, sedang kau masuk kelompok kuffar,” terang Rasul.

Lalu bagaimana halnya dengan perang? Perang dan pemaksaan boleh dilakukan jika kita diagresi atau terjadi penindasan. Kalau tak ada agresi atau penindasan, ajaran Islam dan sunnah Rasul SAW justru menuntun kita untuk mengambil langkah damai dan menghindari kekerasan sejauh mungkin.

Bahkan perang pun harus dilakukan dengan niat baik, yakni membebaskan masyarakat dari agresi dan penindasan. Khususnya dalam melawan si agresor dan penindas. Yakni agar si agresor atau penindas tidak makin berdosa jika tak ada yang mencegahnya dari melakukan agresi dan penindasan.

Itulah di antara kisah yang menunjukkan sikap adil para sahabat didikan Nabi SAW bahkan terhadap kelompok yang dibenci.

Kisah lain tentang betapa pentingnya menegakkan nilai-nilai keadilan, adalah kisah tentang Abdullah bin Rawahah. Dia merupakan seorang sahabat Nabi yang ditugaskan untuk menaksir hasil kurma di kampung orang-orang Yahudi Bani Quraidhah pada setiap tahun. Mengikuti perjanjian, hasil tersebut perlu dibagi dua dan diberikan kepada kaum Muslimin di Madinah dan orang-orang Yahudi itu.

Abdullah terkenal dengan sifatnya yang begitu teliti dalam membuat taksiran hasil kurma itu. Dari situ, dia bisa membagikan kurma-kurma tersebut sama rata. Keadilannya ini tidak disukai oleh orang-orang Yahudi. Maka pada suatu hari, orang-orang Yahudi ini berusaha menyogok Abdullah supaya mereka bisa menerima bagian kurma dalam takaran lebih banyak.

Saat mengetahui hal ini, Abdullah menjadi berang. Lalu dia berkata kepada mereka, “Wahai musuh-musuh Allah, kamu berhasrat untuk memberi makanan yang haram kepadaku? Demi Allah, aku datang dari sisi orang yang paling aku cintai (Rasulullah) dan kamu adalah orang-orang yang paling aku benci, lebih besar dari kebencianku terhadap kera dan babi. Tapi kebencianku kepadamu dan kecintaanku kepada Rasulullah tidak mempengaruhiku untuk tidak berbuat adil terhadap kamu semua.”

Orang-orang Yahudi itu terdiam lalu memuji sikap Abdullah. Mereka kemudian berkata, “Karena perbuatan seperti inilah maka langit dan bumi menjadi tegak.”

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *