Satu Islam Untuk Semua

Friday, 07 September 2018

Habib Jindan: Siapa yang Menghalalkan Kita Mencaci Sesama Muslim?


Screenshot (37)

islamindonesia.id – Habib Jindan: Siapa yang Menghalalkan Kita Mencaci Sesama Muslim?

 

 

Syahdan, Nabi Isa dicaci oleh seseorang padahal utusan Tuhan itu sedang berada di dekat murid-muridnya, Hawariyyun. Isa lalu membalasnya dengan ucapan terima kasih.

Hawariyyun, terheran-heran melihat tanggapan gurunya. “Ya Ruhullah, apakah Anda tidak mendengar apa yang ia ucapakan? Dia mencaci maki Anda.”

“Dia menginfakkan apa yang ia punya,” kata Putra Maryam itu. “Saya pun menginfakkan apa yang saya miliki.”

Demikian kisah yang disampaikan Habib Jindan bin Novel Jindan di Majelis Habib ALi bin Abdurrahman AL Habsyi Kwitang. Habib Novel bilang, jika seseorang memiliki kebencian, percikan kebencian lah yang keluar dari dirinya.

Demikian juga sebaliknya. Karena hati Isa penuh dengan kebaikan, kecintaan dan syukur, apa yang keluar darinya pun mengandung kebaikan, kecintaan dan syukur.

“Wadah yang memercikkan susu pasti wadahnya berisi susu,” kata Habib Jindan dalam Majelis seperti dipublikasikan oleh Ngaji TV, 26 Agustus. “Omongan kotor bukti hati yang kotor.”

Apa yang dilakukan oleh Isa juga dilakukan oleh Nabi lainnya sebagai pembawa ajaran Rahmatan lil Alamin, khususnya Rasulullah Saw. Rasul pun mengajarkan hal yang sama kepada para sahabatnya, para pewarisnya. “Apa yang keluar dari dalam diri Mukmin adalah kesantunan, keluhuran akhlak,” ujarnya.

Karena itu, Habib Jindan heran dengan prilaku Muslimin, baik di media sosial maupun lingkungan masyarakat, yang saling melempar makian sesama mereka. “Siapa yang menghalal kita saling mencanci sesama Muslim? Demi Allah, (pihak) yang menghalalkannya adalah penipu.”

Padahal Al-Qur’an dan berbagai hadis telah menegaskan pentingnya menjaga diri dari penyakit hati. Jika penyakit fisik yang paling berbahaya seperti kanker dapat berakhir dengan kematian, penyakit hati tidaklah demikian. “Kematian justru menjadi awal perwujudan hasil dari penyakit hati,” katanya.

Dalam suatu riwayat dikatakan, langit maupun bumi tidak cukup memuat Allah. Tapi hati Mukmin justru dapat menjadi rumah-Nya.

Karena itu, Allah senantiasa memandang hati setiap hamba-hambaNya.  Allah, dalam sebuah hadis, tidak memandang fisik seseorang tapi Dia memandang hatinya.

Jika menemui orang lain dengan wajah kotor saja kita malu, kata Habib Jindan, apalagi menghadap Allah dengan hati yang kotor. “Apakah kita tidak malu jika Allah menatap hati kita namun yang Dia saksikan hanya dengki, dendam, angkuh, iri, dan ujub?”

 

 

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *