Satu Islam Untuk Semua

Monday, 13 January 2014

Film, Kenyataan, dan Representasi


www,dcentronews.com

Apakah film bisa menangkap kenyataan? Apakah film dapat menjadi imitasi , refleksi atau cerminan dari realita?  Atau mungkin  potret dari kenyataan?

 

Saya acap kali membahas soal ini, tetapi kasus baru selalu muncul seputar topik di atas, khususnya berkaitan dengan film dan penafsiran sejarah, atau “kebenaran” atas realita. Yang masih hangat tentu saja adalah film Sukarno yang dianggap penyimpangan sejarah dan character assassination dari Sang Proklamator (Kompas 19/12 2013).  Kasus lainnya adalah protes Keluarga Besar Simamora se-Jabodetabek terhadap Maaf Saya Menghamili Istri Anda yang karakter utamanya, Lamhot Simamora,  dan  kisah pekerjaan dan keluarganya, dianggap sama persis dengan salah satu anggota mereka (Kompas 21/6 2007). Padahal sudah jelas bahwa film Maaf adalah rekaan alias khayalan, yang berada pada semesta reka-percaya, bukan berdasarkan fakta, atau adaptasi kisah nyata.

Saya termasuk yang setuju dengan teori Representasi (dan encoding/decoding), khususnya yang dijabarkan oleh Stuart Hall dan kawan-kawan.  Media khususnya Film, mau fiksi atau dokumenter, bukanlah cerminan dari Realita, tapi sekadar representasi dari kenyataan-kenyataan. “kenyataan” dalam film adalah “kenyataan” yang dipersepsi, diserap ditafsirkan, dimaknai, dipilih, dipilah, dibongkar, di(de)konstruksi oleh sutradara dan tim kreatifnya (dengan berbagai latar belakang budaya, pendidikan, dll) dari banyak realita yang ada berdasarkan tujuan-tujuan tertentu dari mereka, dan ini sah-sah saja. Jadi, itu hanya salah satu tafsir saja atasnya.

“Realita” dalam sinema adalah jawaban atas pertanyaan “realita apa?”, “realita yang mana?”, dan “realita menurut siapa?”, sebagaimana ditulis Christine Gledhill dalam Genre and Gender: The Case of Soap Opera,  kalau ternyata dianggap cetek bahkan menyimpang, maka sebanal itu pulalah isi kepala kreatornya. Dan hal itu   tidak mengurangi nilai “realita-realita” yang ada di seputar subyeknya dalam pandangan dan pemaknaan penonton. Karena, manusia sebagai aktor sosiallah yang membangun makna. Cerita di dalam film adalah konstruksi pembuatnya (yang memilih realita-realita tertentu untuk dimasukkan ke dalam karyanya), dan penonton pun memproduksi makna. Proses itu terjadi dalam sebuah sistem bahasa (dalam hal ini: bahasa film).  Maka, di dalam dunia fiksi seperti film atau, “realita” selalu “rekayasa”berupa konstruksi-konstruksi,termasuk di dalam aliran realisme atau dokumenter sekali pun. Untuk dokumenter, misalnya, siapa yang dipilih untuk diwawancara atau bagaimana meletakkan kamera saja sudah merupakan pilihan dari kenyataan versi pembuatnya.

Di sisi lain, seperti sudah disinggung di atas,  penonton juga punya otoritas penuh untuk menafsirkan sebuah teks fiksi, dan tak harus sesuai dengan pesan atau tujuan pembuatnya.

Lihatlah film biografi atau sejarah lainnya. Bandingkan, misalnya, Antara sudut pandang The Birth of a Nation dengan Lincoln  tentang dihapusnya perbudakan di Amerika Serikat. Atau cek film-film tentang Abraham Lincoln (dari yang “lurus-lurus saja” hingga yang fantastik macam Vampire Hunter dan Abraham Lincoln Vs. Zombies)

Karena saya belum menonton Sukarno dan kasus di film Maaf sudah cukup benderang, saya akan membahas kasus lain berkaitan dengan representasi dan realita.  Pada Desember 2012, saya diundang ke  Sekolah Menulis Dokarim, Banda Aceh untuk menjadi salah satu pembicara   di diskusi “Lokal Aceh, Lokal Arab: Meneguhkan citra Islam dalam Budaya Lokal”, pada Festival Film Arab.

Konteksnya kala itu, banyak rakyat Aceh yang percaya bahwa Islam identik dengan Arab, dan karenanya semuanya harus  diarabkan, termasuk penanaman pohon Kurma di halaman Masjid Baiturrahman. Karena itu, tujuan dari festival film ini adalah menunjukkan bahwa boleh jadi Arab lebih tua dari Islam, tapi Islam jauh lebih luas dan lebih universal daripada Arab. Lewat film-film yang dipilih, panitia ingin memperkenalkan situasi keseharian di Timur Tengah, persoalan-persoalan rumah tangga, politik, agama dan sebagainya.

Bagi festival film ini, Arab adalah salah satu aspek budaya saja yang mewakili huruf A, padahal masih ACEH – sebagaimana secara populer dipercaya oleh rakyat Aceh – terdiri dari A (rab), C(ina), E(ropa), dan H(industan).Tengoklah tulisan di belakang kaos panitia mereka: Ini jaman boeroek boeat pikeran dan imajinasi. Siapa bilang Arab itoe Atjeh –Kata Dokarim. Dan lihatlah slogan festival ini: “sinoe Aceh sideh Arab, sinoe sideh hana rab” (di sini Aceh di sana Arab, disini-di sana tidak dekat).

Usaha  ini mendapat resistensi dari beberapa penonton. Tengoklah sebuah pertanyaan sesaat setelah pemutaran film pembuka, Captain Abu Raid:  “Saya kira, film tadi tidak menggambarkan Arab, malah lebih dekat dengan gaya Prancis. Dan mengapa masih dibahas soal Arab dan Islam? Arab itu ya Islam, karena Islam datang dari sana”, ujarnya, yang ngeloyor pergi ketika saya hendak menjawabnya.

Tentu saja, latar Captain Abu Raid, kota Amman, jauh lebih moderat, salah satunya lewat karakter perempuannya yang tak berjilbab dan menjadi pilot,  berbeda jauh dengan Arab Saudi yang melarang perempuan menyetir mobil.Seorang pembicara, seorang sosiolog, juga menolak keras pernyatan  bahwa film tak dapat  dijadikan referensi dalam kebudayaan, karena tidak bisa memotret realita. Buktinya, katanya, film The Corruptor dibuat di Hong Kong, sebuah tempat yang terkenal dengan komisi antikorupsi yang tegas dan sukses. Pun dengan film-film Arab di festival ini, tidak bisa dijadikan patokan bahwa itulah budaya arab “yang sebenarnya”.

Pernyataan tersebut tentu benar, tapi juga sekaligus naïf.  Karena, di samping film-filmnya bernafaskan realisme,  pengkajian dengan pendekatan representasi lazim menjadi alat analisa untuk mengkaji problematika  kemasyarakatan pada sebuah produk budaya seperti sinema, seperti yang dilakukan banyak akademisi dan peneliti di bidang kajian media, kajian budaya, dan ilmu komunikasi. Dan satu lagi, apakah itu, Arab “yang sebenarnya”, karena ada Mesir, Jordania, Suriah, Qatar,Palestina, Libanon, Uni Emirat Arab, dan sebagainya  yang jelas semuanya mempunyai karakteristik kultural yang berbeda-beda (di samping ideologi yang tak hanya satu jenis Islam, tapi juga berbagai madzhab Islam, selain sosialisme, sekularisme, nasionalisme, dan sebagainya). Dan, untuk membuktikannya, silahkan kunjungi Negara-negara itu dan lihat dengan mata kepala sendiri. Atau, alternatifnya, silahkan mengembara lewat film, buku, dan media lainnya.

Representasi dan realita. Topik ini ini agaknya akan terus menjadi polemik yang, jika dikelola dengan baik, akan menimbulkan dinamika yang positif bagi dunia kritik film.

 

*) Ekky Imanjaya adalah dosen tetap School of Media and Communication, BINUS Internasional, Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Salah satu pendiri  sekaligus redaktur rumahfilm.org  itu kini sedang menempuh studi S3 di bidang Kajian Film di University of East Anglia, Norwich, Inggris Raya.

 

Sumber:Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *