Satu Islam Untuk Semua

Friday, 07 February 2014

East is East, Isu Pembauran, dan Jalan Tengah


foto:impawards.com

Apakah memang Timur tak akan pernah bisa bertemu dengan Barat?


Hidup di perantauan, apalagi menetap dalam waktu lama di Barat, punya dinamikanya tersendiri bagi keluarga Muslim. Mulai dari yang teknis (seperti jadwal shalat yang bergerak maju mundur, puasa di musim panas yang durasinya 18 jam, atau mencari daging halal) hingga yang mendasar seperti krisis identitas, rasisme,  dan gegar budaya lainnya.

East is East adalah  sebuah film produksi tahun 1999 yang mengisahkan isu-isu tersebut dengan jenaka tapi dalam. Film yang dilarang di Mesir ini adalah hasil adaptasi dari produksi panggung popular yang ditulis Ayub Khan-Din berdasarkan pengalaman hidup sang penulis yang hidup di tengah keluarga multi-kultural–—skenarionya pun ia tulis sendiri– dan meraih  British Independent Film Award dan London Critics Circle Film Award. Dibesut oleh Damien O’Donnel—yang juga meraih banyak penghargaan berkat film ini—East is East bercerita tentang keluarga Jahangir “George”  Khan di Salford (tak jauh dari Manchester),  Inggris Utara, tahun 1971. George adalah seorang imigran asal Islamabad, Pakistan,  yang menikah dengan Ella, wanita keturunan Irlandia Katolik, dan  berbisnis toko fish and chip. Mereka dikaruniai 6 putra dan 1 putri yang lahir dan dibesarkan di Inggris: Nazir alias Nigel (25 tahun), Abdul atau Arthur (23), Tariq atau Tony  (21), Maneer alias Gandhi (19), Saleem alias Picasso (17), Meenah (14) dan Sajid “Spaz” (11). George sendiri sudah ada di Inggris sejak 1937.

Sang ayah ingin anak-anaknya mengikuti tradisi Islam-Pakistan seperti yang dianutnya, dan mewajibkan mereka ke  ke masjid setiap Jumat. Masalahnya, sebagian besar anaknya, punya pikiran dan gaya hidupnya sendiri seputar cara berpakaian, makanan, agama, menghabiskan waktu luang, dan bergaul dengan lawan jenis. Contoh pertama adalah Nazir, si sulung yang gay, kabur dari rumah karena menolak untuk dijodohkan, dianggap tak menghormati keputusan sang ayah.  Persoalan pun kemudian muncul dalam racikan  yang jenaka namun cerdas dan tajam. Termasuk si bungsu Sajid yang takut disunat, atau Maneer yang diam-diam makan daging babi.  Ada juga rencana sang ayah yang hendak menikahkan Abdul dan Tariq (yang ganteng, hobi dugem, dan berpacaran dengan bule, Stella Moorhouse) dengan sesama Pakistani–Nighat dan Nushaaba yang jelek dan gembrot–secara diam-diam dan sepihak. Hanya Maneer yang mengikuti aturan ketat sang ayah.

Ibu mereka tentu membela anak-anaknya dari ayah mereka yang acap memaksakan kehendak (atas nama “ini baik untukmu, aku lebih tahu darimu”) dan tidak dialogis dan sering menerapkan hukuman yang keras.  “Anak-anak bermasalah karena kamu tidak mendengarkan mereka” tegas Ella. Tapi  ia selalu gagal karena ancaman suaminya untuk membawa istri pertamanya dari Pakistan, di samping ini, menurut klaim George, soal-soal itu  merupakan urusan agama yang belum tentu  dimengerti non-Muslim.

George digambarkan sebagai sosok yang lebih mengutamakan pencitraan dan gengsi, khususnya di hadapan sesama jamaah masjidnya.  Tentu George mencintai keluarganya dan ingin memberikan yang terbaik untuk mereka,  tapi dengan caranya sendiri, yang tak dimengerti oleh anak-anaknya yang sudah tersibghah (terwarnai) dengan tradisi kehidupan di Barat. Ia sama sekali menutup komunikasi dua arah dengan anak-anaknya, dan hanya memberi materi, misalnya jam sebagai hadiah pernikahan. Sebaliknya, anak-anaknya, sudah terbaratkan, sebuah proses wajar, dan merasakan manuver ayahnya adalah pemaksaan yang otoriter. “Saya bukan Pakistani, ayah…Saya lahir di sini”, tukas Tariq.

Judul film ini, dan sekuelnya, dikutip dari pernyataan  sastrawan Rudyard Kipling: ‘Oh East is East, and West is West, and never the twain shall meet.’ (Timur adalah Timur, dan Barat adalah Barat, dan keduanya tak akan pernah bertemu) dari puisinya, The Ballad of East and West.Pertanyaannya: benarkah demikian? 

Tiba-tiba saya teringat dengan Tariq Ramadan,  salah satu pelopor integrasi Islam dengan Barat. Ia menulis beberapa buku seputar isu ini, di antaranya To Be European Muslim: a study of Islamic sources in the European context (2001, yang diterjemahkan menjadi  Teologi Dialog Islam-Barat:  Pengalaman Seorang Muslim Eropa). Islam, the West, and  the Challenge of Modernity (2002) dan The Future of Islam in Europe (2003).

Cucu pendiri  Ihwanul Muslimin Hassan al-Banna ini  menggarisbawahi dua kutub seperti yang dilukiskan di film berbujet rendah (hanya 1,9 juta poundsterling) namun  sukses   meraup 10 juta poundsterling di Britania Raya ini.  Antara berperilaku  Barat total seperti layaknya orang Eropa asli, atau hidup seperti tinggal di negara asalnya alias menciptakan “negara dalam negara”.  Dia pun mencoba merumuskan asimilasi dan negosiasi, antara mana yang bisa dinegosiasi (aspek kultural) dengan yang prinsip agama (yang tak bisa diubah).  Intinya:  jalan tengah. “Saya seorang  warga Eropa, yang tumbuh di Eropa. Saya tidak mengingkari akar  kemusliman saya, tetapi saya pun tidak akan menjelek-jelekkan Eropa”, ungkap Tariq. Ia  bahkan melontarkan apa yang disebutnya sebagai “upaya  menemukan identitas Muslim Eropa yang independen”. Menurutnya, tantangan yang dihadapi Muslim Eropa adalah, “Memisahkan prinsip-prinsip Islam dari budaya tanah kelahirannya, dan membumikan nilai-nilai itu ke dalam realitas budaya Eropa Barat.” , sekilas agak mirip pendapat Gus Dur dengan konsep Pribumisasi Islam-nya.Tariq  yakin,  dengan berkembangnya komunitas Muslim Eropa yang mencapai lebih dari  15 juta saat ini, sudah saatnya meninggalkan gagasan bahwa Islam  secara frontal berlawanan dengan Barat. “Saya yakin dapat memadukan  hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama saya ke dalam identitas  diri saya (sebagai Muslim Eropa)”, katanya, “Dan ini adalah sebuah  revolusi.”

Menjadi Muslim-Eropa hanya salah satu agenda saja.  Ada isu lainnya yang tak kalah penting: bagaimana dialog budaya itu bisa digerakkan dengan semangat menjadikan konsep“toleransi “ menjadi “koeksistensi”, seperti yang tercermin dalam bukunya Muslims In France: The Way Towards Coexistence. Toleransi, sederhananya, adalah “silahkan lakukan apa saja asal jangan ganggu keyakinan saya”. Sedangkan koeksistensi adalah “kita memang berbeda, mari bekerja sama”. Tidak sekadar saling menghormati dan menghargai perbedaan, namun juga mensinergikan keduanya dalam bersintesa dan bahu membahu dalam hal-hal yang disepakati bersama.

Kembali ke film. Lebih dari 40 tahun kemudian (sejak setting film ini, 1971),  tentu sudah banyak perubahan. Warga Eropa, khususnya Inggris, banyak yang lebih menerima kehadiran komunitas Muslim. Bahkan banyak orang bilang Inggris adalah negara paling ramah terhadap perkembangan Islam di Eropa. Namun persoalan pembauran—dan perbenturan atau  dialog antara dua budaya, juga antara nilai-nilai lokalitas dan Islam kosmopolitan– masih saja terjadi di Barat, Dinamika isu-isu ini diabadikan dalam format sinema. Tidak hanya di kalangan umat Islam di Eropa, tapi juga kelompok lainnya. Misalnya, Gurinder Chadha membuat film Bend it Like Bekham dan Bride and Prejudice. Film East is East ini sendiri punya sekuelnya yang beredar sekitar 10 tahun setelahnya, West is West (Andy De Emmony, 2010) namun sayangnya tak sesukses film pertama.

 

*) Ekky Imanjaya adalah dosen tetap School of Media and Communication, BINUS Internasional, Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Salah satu pendiri  sekaligus redaktur rumahfilm.org  itu kini sedang menempuh studi S3 di bidang Kajian Film di University of East Anglia, Norwich, Inggris Raya.

 

 

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *