Satu Islam Untuk Semua

Friday, 16 March 2018

Capres 2019 Menurut Din Syamsuddin


Din Syamsuddin Siapa yang Sebenarnya Intoleran dan Anti Kebinekaan

islamindonesia.id – Capres 2019 Menurut Din Syamsuddin

 

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin berharap agar tokoh yang akan maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden (capres dan cawapres) di Pilpres 2019 bisa mencerminkan kemajemukan Indonesia. Din menilai kemajemukan ini diperlukan untuk menjawab tantangan global yang akan dihadapi Indonesia ke depannya.

“Saya kira ide tentang adanya duet capres-cawapres yang mencerminkan kemajemukan sedapat mungkin itu lebih bagus. Apa ulama, cendekiawan, petani, nelayan tidak menjadi persoalan,” kata Din kepada wartawan di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tamantirto, Kasihan, Bantul, Rabu (14/3/2018).

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menjelaskan kemajemukan selain dari hal profesi juga merujuk pada pertimbangan daerah. Din mencontohkan paslon yang maju di Pilpres 2019 mendatang merupakan hasil perpaduan dari berbagai daerah.

“Seperti menyangkut space Jawa luar Jawa, menyangkut latar belakang, ini itu dan lain sebagainya. Tentu (capres ideal adalah) yang bisa mengatasi masalah bangsa ke depan,” urai Din.

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban ini menguraikan ke depan tantangan Indonesia akan semakin berat. Sehingga, kata Din, dibutuhkan sosok pemimpin yang bisa menyelesaikan persoalan bangsa dan pemimpin yang kuat.

“Tantangannya semakin berat. Terutama pada era globalisasi dengan adanya pergeseran geo politik, geo ekonomi dan geo budaya global, yang menjadikan kawasan Asia Timur di mana kita berada ini sebagai kawasan pertumbuhan,” ucapnya.

Din menambahkan bahwa calon pemimpin Indonesia musti punya terobosan dan strategi untuk mengatasi permasalahan bangsa. Selain itu, sambung Din, dirinya juga menyarankan agar pemikiran-pemikiran tokoh bangsa yang masih relevan untuk menjawab permasalahan ke depan layak untuk kembali dikaji.

“Seperti ‘Tri Sakti’ Bung Karno itu masih relevan. Berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Hanya saja hal ini belum bisa kita tetapkan,” tutup Din.

 

 

Sumber: detik.com, merdeka.com

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *