Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 25 June 2015

Buka Puasa di Gedung Putih, Obama Galang Simpati Muslimin Dunia


IMG_1266.JPG

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, menggelar perjamuan buka puasa Ramadan di Gedung Putih, Washington, awal pekan ini. Ini adalah perjamuan yang ketujuh sejak dia menjabat presiden pada 2008. Seperti tahun-tahun sebelumnya, buka puasa di Gedung Putih selalu dihadiri kalangan diplomat internasional, termasuk duta besar negara-negara Muslim, cendekiawan, mahasiswa, dan Muslimin yang dianggap berjasa di Amerika Serikat.

Dalam sambutan sebelum buka puasa, Obama banyak berbicara seputar apa yang dia gambarkan sebagai “kekerasan dan terorisme atas nama agama”.

“Apa pun iman kita, kita semua satu keluarga, Amerika harus bersatu dalam menghadang aksi kekerasan dan teror yang mengatasnamakan agama atau etnis,” katanya. “Sebagai orang Amerika, tidak ada yang harus didiskriminasikan karena siapa mereka, penampilan mereka, kesukaan mereka, dan bagaimana mereka menyembah. Kita harus bersatu melawan aksi benih kebencian.”

Pernyataannya itu jauh lebih sejuk bagi Muslimin di Amerika. Dalam sambutan setahun sebelumnya, Muslimin banyak memprotes keputusan Obama menggunakan acara perjamuan Ramadan untuk menggaungkan dukungannya pada junta militer di Mesir, sikapnya yang mengecam serangan roket Hamas atas Israel sekaligus dukungannya atas ‘serangan balasan’ Israel atas Gaza.

Dalam sambutan di perjamuan pekan ini, Obama lebih memilih berbicara seputar persamaan dan pernyatuan visi dalam menghadapi terorisme.

Di juga banyak berbicara soal ‘keunggulan’ sistem pengadilan di Amerika yang memungkinkan Samantha Elouf, seorang remaja Muslim, mendapatkan keadilan setelah sebuah perusahaan menolak mempekerjakannya semata karena dia berjilbab.

Obama juga mengungkap keprihatinannya atas tiga orang mahasiswa Muslim yang dibunuh secara brutal di Chapel Hill, Februari 2015, sekaligus tragedi anyar peristiwa penembakan yang menewaskan sembilan orang jemaat gereja kulit hitam di Charleston pekan lalu.

Lepas dari bias politik dalam perjamuan iftar itu, buka puasa bersama antara presiden dan Muslimin di Amerika sudah terlaksana sejak 200 tahun silam. Sejarah mencatat, di masa Thomas Jefferson, Gedung Putih telah menggelar perjamuan Ramadan dengan mengundang delegasi Muslim dari Tunisia.

Lepas itu, tak pernah lagi ada perjamuan serupa dalam dua abad setelahnya. Barulah di masa pemerintahan Presiden Bill Clinton, pada 1996, Gedung Putih menggelar perjamuan Ramadan secara resmi. Idenya sendiri datang dari Ibu Negara Hillary Clinton yang ingin memanfaatkan ajang buka puasa itu untuk menyampaikan ‘pesan-pesan perdamaian’ Amerika ke dunia Muslim.

(SHA/Islam Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *