Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 11 February 2014

Bersahabat dalam Perbedaan


www.esasterawan.net

Beberapa waktu lalu, Islam Indonesia mengundang para pembaca untuk menceritakan pengalaman mereka sekitar “Persahabatan Antar Agama” di akun Facebook Islam-Indonesia.

Kisah yang masuk sangat menyentuh hati, dan ada pula yang mengundang tawa. Berikut kami rangkum beberapa kisah menarik persahabatan antar agama dari para pembaca Islam Indonesia.

1. Kisah pertama datang dari Melly Windarti:

“Guruku, teman baikku. Walaupun Ia berbeda agama dia adalah motivator yang luar biasa. Dia sering berkata jangan sampai ada dusta di antara kita, ungkapkan yang sejujurnya. Jangan mengumpamakan sesuatu dengan istilah-istilah yang salah. Seperti sebuah istilah ini “Ada banyak jalan menuju Roma”. Istilah itu salah katanya. Apa sebabnya? Pasti kalian bertanya-tanya. Istilah itu hanya boleh digunakan untuk orang-orang yang tahu dimana saja jalan yang bisa digunakan untuk menuju Roma. Untuk yang tidak tahu sebaiknya jangan sampai menggunakan istilah ini. Karena ketidaktahuan hanya akan menyesatkan kita. Ubah Roma menjadi kota yang kita ketahui dimana tempatnya dan jalan apa saja yang bisa kita lalui untuk sampai ke kota itu. Pengetahuan akan mempermudah kita, namun ketika tidak tahu hanya akan mempersulit kita.”

2. Lain halnya dengan Reti Andi Yani, ia mempunyai kisah persahabatan antar agama dengan seorang teman beragama Budha:

“Pengalaman ini terjadi ketika saya masih sekolah dasar. Bagi saya teman tidak dilihat dari status maupun agamanya. Bukankah kita diajarkan untuk saling menghormati. Merlin nama teman saya. Dia adalah seorang Budha. Ia dan keluarganya tinggal tak jauh dari rumah saya. Ia pun adalah teman sekelas saya jadi tak heran kalau kami cukup dekat. Saat itu hari ulang tahun Merlin dan ada perayaan di rumahnya. Semua teman sekelas diundang, mayoritas beragama Islam. Beberapa teman datang namun tak berani menyentuh makanannya karena takut ada daging babinya, daging yang haram bagi agama Islam. Namun saya percaya Merlin dan keluarga pasti sudah memikirkannya. Ini terbukti ketika Merlin dan keluarga memberitahu kalau masakan sudah dibedakan. Untuk yang non-Islam bisa mengambil masakan dari ruang keluarga dan untuk yang Islam silakan ambil hidangan yang ada di ruang tamu. Perayaan ulang tahun itu pun berlangsung meriah tanpa ada yang khawatir tentang hidangan. Betapa keluarga Merlin sangat menghormati kami yang berbeda keyakinan hingga mau repot untuk menghidangkan makanan yang halal bagi kami.”

3. Cerita ketiga datang dari Dian Kurnia:

“Pengalaman ini terjadi ketika saya SD. Sekitar tahun 1996-an. Salah seorang teman kecil saya, Heri (biasa dipanggil Abud), adalah pemeluk Agama Kristen. Saya cukup dekat dengannya. Selain karena rumah kami berdekatan. Di kelas pun kami memiliki hobi yang sama, yaitu menggambar dan bermain Lessi (sejenis permainan Lego). Hampir setiap pulang sekolah kami bermain bersama. Dia sering main di rumah saya. Begitu juga saya, tak jarang datang ke rumahnya. Kalau lagi di rumahnya, di setiap waktu shalat, mamah Heri suka “nyuruh” kepada saya, “Dian, kalau mau shalat di kamar Sintia saja, ya. Lebih bersih dan rapi.” Sintia adalah kakak Heri. Begitu seterusnya. Sampai kemudian kami dipisahkan oleh waktu karena ketika hendak masuk ke SMP, Heri pindah entah ke mana, tiba-tiba.Tak ada kabar. Sedangkan saya sendiri masuk ke SMPN 1 Pabuaran, Subang. Masih dekat dengan rumah, dan tempat bermain kami.”

4. Cerita hampir serupa juga datang dari Wahyu Pachot, mengenai kisah persahabatan antar agama dengan sahabatnya sewaktu SD:

“Pengalaman menarik tentang indahnya persahabatan antar agama yang pernah saya alami ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, teman saya ada beberapa non Islam mereka beragama Kristen. Saya tidak merasakan perbedaan pada saat itu karena menurut saya perbedaan itu indah. Perbedaanlah yang menyatukan kita. Nama teman saya adalah Esau dan Yakub mereka adalah anak kembar yang berasal dari Medan. Mereka tinggal bertetangga dengan saya dan juga sekolah kami berdekatan. Dulu Hampir setiap hari saya selalu bermain bersama mereka seusai pulang sekolah. Kami paling sering bermain kelereng, di antara semua teman saya Esau dan Yakub lah yang paling jago sulit untuk dikalahkan. Kami pun pernah makan bareng, mereka pernah makan bareng di rumah saya dan saya juga pernah makan bareng di rumahnya. Tetapi setelah menginjak kelas 6 SD mereka kembali pindah ke kampung halaman mereka di Medan. Saya merasa sedih karena biar bagaimanapun mereka teman-teman saya. Sampai sekarang saya tidak pernah tahu kabar mereka.”

5. Ada pula kisah menarik sekaligus mencengangkan dari Ika Hardiyan Aksari:

“Pertama kali mencicipi teman yang berbeda agama adalah saat duduk di bangku SMA. Sebut saja temanku itu Maria dan Dedew. Kami memang berbeda agama, tapi kami tak pernah membuat perbedaan itu sebagai halangan untuk saling berbagi. Pernah suatu hari ketika kami mengerjakan tugas di rumah Dedew (hanya dia yang punya komputer), aku sempat bingung harus shalat di mana nanti ketika waktu sholat ashar tiba. Karena letak rumah Dedew yang jauh dari mushola atau masjid. Tepat 15.30 WIB, Dedew dan Maria justru mengingatkanku untuk shalat terlebih dahulu.

“Ka, kamu nggak shalat? Ayo tak anter wudhu, aku punya mukena kok.”

 Aku menjadi terharu. Terlebih ketika aku tahu tempat untuk shalat di Dedew juga dikhususkan.

 “Iya Ka, setiap hari dibersihin sama mbaknya (PRT) kan aku juga punya saudara yang agamanya kayak kamu.”

  Aku hanya manggut-manggut. Betapa mereka menghargai agamaku. 

6. Kisah menarik berikutnya diceritakan oleh pemilik akun Twitter @2tiktik: 

“Ketika SD dan SMP saya harus berpindah-pindah sekolah. Bukan karena tidak betah, namun karena harus ikut ke kota tempat bapak saya bekerja. Bapak saya seringkali ditugaskan berpindah-pindah tempat oleh atasannya. Saya dan ibu akhirnya juga ikut ke kota dimana bapak ditugaskan bekerja. Ketika saya pertengahan kelas 2 SMP, saya harus kembali pindah ke sekolah baru. Kali ini bapak saya ditugaskan ke luar Pulau Jawa, tepatnya di Maluku. Karena sebelumnya sering pindah pindah sekolah saya sudah terbiasa untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Namun itu tak terjadi ketika saya bersekolah di Maluku, karena di sekolah tersebut mayoritas muridnya beragama non-Muslim. Bahkan di kelas saya, hanya saya saja yang muslim. Awalnya saya takut untuk berteman dengan mereka yang non-Muslim, dan beberapa dari mereka bergelagat tidak suka padaku. Entah kenapa, apakah karena saya tidak satu keyakinan dengan mereka. 

Rinai, adalah orang yang pertama kali yang bersedia menjadi teman saya. Awalnya memang terlihat canggung namun pada akhirnya kami akrab dan menjalin persahabatan. Rinai tak pernah menyinggung soal perbedaan agama. Kami saling menghormati dalam agama. Bahkan ia selalu mengingatkan saya ketika waktu shalat tiba. Rinai adalah sahabat terbaik saya. Dia yang membuat saya bisa bergaul dengan teman teman non-Muslim yang lain. Dia juga yang membantu saya ketika saya diejek oleh teman-teman.”                       

7. Kisah  tak kalah menarik sekaligus mengharukan diceritakan oleh Pangestu Ningsih

“Romo Londo” adalah salah satu kenangan indah masa kecil saya. Entah bagaimana pastor “bule” itu tiba di Ponorogo, kota kecil di Jawa Timur tempat saya dibesarkan. Awalnya mungkin ketika saya bingung tanpa kegiatan karena pulang sekolah (waktu itu kelas 1 SD) masih jam 10.00 pagi, dan kaki-kaki kecil itu membawa saya sekeluar dari gerbang sekolah ke SD Santa Maria. Dari sekadar melongok lewat jendela ke dalam sebuah kelas di SD Katolik itu, berkat kebaikan Romo Londo, saya pun bisa mengikuti “kelas kedua” saya, menikmati dongeng-dongeng yang dikisahkannya. Ayah-ibu saya pun tampaknya tak keberatan, hitung-hitung sekalian menyerahkan pengawasan saya pada Romo Londo sebelum mereka pulang kerja.

Selain dongeng-dongengnya (Gadis Penjual Korek Api, Peniup Seruling dari Hamelin, dll.), otak kecil saya mengingat gambaran Romo Londo yang menggendong jenazah bayi kecil, adik kawan saya. Dengan duka yang tampak jelas, saya melihat Romo Londo memimpin iring-iringan jenazah itu menuju pemakaman. Saya hampir pasti dengan isi benak saya ketika itu: “Kalau boleh, aku ingin akulah yang digendong Romo Londo. Tak peduli meski menuju pemakaman.

8. Kisah dari Primadhika Al Manar ini mengenai persahabatan dengan seorang tionghoa beragama Khong hu Tju yang berawal dari acara shalawat dan dzikir bersama di Solo:

“Cerita ini aku alami saat peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun lalu. Saat Hari Sumpah Pemuda di Solo diadakan Pengajian Akbar Berdzikir dan Bershalawat bersama Habib Syeikh bin Abdul Qodir Assegaf. Saya kira acara itu yang mengadakan adalah ormas Islam, ternyata acara tersebut diadakan oleh orang Tionghoa yang mayoritas beragama Kristen maupun Khong hu Tju. Di acara itu semua berbaur menjadi satu tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan. Dan di sana saya mendapatkan kawan baru bernama Lung, dia seorang Tionghoa yang beragama Kristen, saya lalu bertanya kepadanya, kenapa kok orang Thionghoa mengadakan acara shalawat?” Lalu dia menjawab, karena kami ingin menambah keakraban dengan umat Islam khususnya warga Solo.” Saya sampai terharu mendengar perkataan Lung, dan sampai sekarang kami tetap menjalin komunikasi dengan baik. Bahkan Pemkot Solo mencanangkan 2 bulan sekali diadakan Shalawat di kota Solo, padahal walikota Solo beragama Katholik. “Lakum dinukum wa liya din”

9. Kisah terakhir sebagai penutup nan menghibur datang dari Vio Fauzy:

“Temanku sewaktu Sekolah Dasar, sebut saja namanya Erji. Dia seorang pemeluk Agama Kristen satu-satunya di sekolah ku. Dulu persahabatan itu indah, tak ada kerasisan, polos lah.. dan tiba waktu itu, saya diberitahu oleh orang, jika kita mengajak orang lain ke agama kita, mungkin itu bisa jadi penopang untuk masuk surga. Dengan polosnya saya pun mengajak Erji masuk agama saya, dia tentu tidak mau. Pada hari itu pun saya dengan Erji berkenalan dengan baik.

 Ada 2 pengalaman lagi yang membuat saya terharu, sekaligus membuat saya tertawa.

Saat pelajaran agama, karena Erji beda agama, dia membawa kitab sendiri. Dia membacanya dengan khusyuk. Saya tertarik dengan buku yang tengah dibaca Erji

“Ji, lihat kitabnya, dong,”

“Ini kitab agamaku, baca 5 detik aja ya..jangan baca lama lama, nanti kamu bisa pindah kepercayaan lagi kalau baca lama lama karena aku”                    

Cerita lucu lainnya terjadi saat kami sudah lulus SD. Saya dan Erji bersekolah di SMP yang berbeda. Ketika itu hari Jum’at, saya sedang melaksanakan shalat Jumat dan mendengarkan Ustad yang Khutbah di suatu masjid. Saya duduk bersila di shaf belakang, tiba tiba ada orang yang memanggil nama saya. Suaranya terdengar ‘familiar’. Saya pun menoleh ke sebelah kiri depan, ada sosok laki-laki yang sudah saya kenal sejak lama. Erji! Ya dia adalah Erji. Saya sempat bingung, dia Erji atau bukan? Saya mengucek mata beberapa kali, tapi memang dia Erji. Dia bersama teman saya yang biasa saya panggil Rizki. Saya dan Rizki tertawa terbahak bahak, kok Erji bisa-bisanya ikut Jum’atan. Khutbah selesai, shalat pun mulai. Saya dan Rizki shalat sambil menahan tawa. Erji terlihat sedikit kebingungan.

 Setelah selesai shalat kami pun mengeluarkan tawa kami yang tertahan dari saat Khutbah tadi.

Hahaha, kamu kok shalat Ji, pindah jadi Islam?”

“Bukan. Bukan. Sebenarnya aku…..” Rizki langsung memotong omongan Erji

“Tau ga, Yo? Kita berdua dimarahi sama ibuku, dia gak tau kalau Erji beda agama. Ibuku mengancam jika kita tidak Jum’atan maka ‘burung’ kita berdua akan dipotong hahaha..”

“Iya Yo, itu yang buat aku harus Jum’atan”

Kami bertiga tertawa sepuasnya saat itu.

Alangkah indah dan damainya bila kita hidup berdampingan tanpa tersekat latar belakang agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *