Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 28 May 2014

Bagaimana Kehidupan Komunitas Muslim di Argentina?


www.presstv.ir

Generasi pertama datang untuk membuat uang, generasi kedua mendedikasikan diri untuk membelanjakannya, dan generasi ketiga, untuk mencintai Argentina, dengan memutuskan kembali ke Islam.

 

Kabar bahwa Paus Fransiskus telah melakukan perjalanan ke Tanah Suci bisa dilihat sebagai contoh lain dari sifat inklusif seorang manusia yang dianggap Mulia. Namun, hal ini juga mengingatkan kepada kita betapa sedikitnya pengetahuan terkait komunitas Muslim di Amerika Latin yang kita ketahui, khususnya di Argentina.  Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa jumlah populasi Muslim masih terlihat samar dan bervariasi.

Lantas, bagaimana kehidupan komunitas Muslim di Argentina, saat ini?

Sejarah Muslim di Argentina ada lebih dari satu abad yang lalu hingga 1850. Para imigran pertama sebagian besar berasal dari Suriah/Lebanon yang berusaha untuk melarikan diri dari pemerintahan Ottoman. Mereka terdaftar sebagai Turki karena fakta mereka memiliki dokumen perjalanan Turki pada waktu itu. Pendaftaran resmi pertama dari Suriah sebagai orang Arab itu pada 1899.

Pada pertengahan abad ke-20, diperkirakan lebih dari 100.000 etnis Arab tinggal di Argentina. Tingginya tingkat perkawinan dan keinginan untuk memimpin imigran baru menyebabkan mereka mengadopsi Katolik sebagai agama baru mereka. Akibatnya, jumlah generasi kedua Argentina-Arab yang mendefinisikan diri mereka sebagai Muslim turun 60 %. Dan, bahasa Arab sebagian besar hilang dari rumah-rumah keturunan Argentina-Arab ini, pada saat generasi ketiga lahir.

Muslim di Argentina mewakili beberapa sekte termasuk Sunni dan Syiah. Ada juga Druze dan masyarakat lainnya. Pemimpin Muslim memperkirakan jumlah mereka sekitar satu juta Muslim, sementara yang lain berpendapat jauh lebih rendah. Sebagian besar Muslim tinggal di sekitar Buenos Aires dan hanya kota La Angelita yang memiliki mayoritas Muslim.

Islamic Center Argentina (CIRA) didirikan pada tahun 1931, delapan puluh tahun setelah kedatangan pertama umat Islam. Masjid merupakan tempat non-profit masyarakat setempat untuk berbagai kegiatan, seperti agama, budaya dan pendidikan.

Pada tahun 1981, dengan bangga CIRA mengatakan bahwa masjid pertama dengan gaya arsitektur Islam di Argentina telah dibangun. CIRA terdiri dari tiga badan : Masjid Al Ahmad, kolase Arab-Argenitian, Omar Bin Khttab, markas sosial dan administratif. Menurut ketua CIRA, mereka mewakili mayoritas Muslim Argentina. Semua sekte Muslim menyambut baik hadirnya masjid tersebut sebagai tempat beribadah.

Imam Omar Abboud menjabat sebagai seorang perwira di Pusat Budaya CIRA. Hal ini tidak jelas apakah ia memiliki hubungan dengan pusat pemerintah atau tidak. Sementara di kantor, ia bekerja guna menegaskan peran CIRA untuk memelihara masyarakat, “beridentitas Islam dengan karakteristik Argentina.”

CIRA adalah “lembaga induk dari semua Muslim” dan salah satu yang mewakili masyarakat dalam Negara. Pada Desember 2013, anggota dewan CIRA bertemu dengan Presiden Cristina Fernandez de Kirchner untuk membahas cara-cara untuk membantu para pengungsi Suriah di Argentina.

Menurut seorang imam, Abboud, “generasi pertama datang untuk membuat uang, generasi kedua mendedikasikan diri untuk membelanjakannya, dan generasi ketiga, untuk mencintai Argentina, dengan memutuskan kembali ke Islam.”

Profesor Ricaardo Shamsudin mengatakan, “Islam kembali ke Argentina oleh generasi ketiga dengan dampak yang ditimbulkan oleh Revolusi Islam di Iran pada tahun 1979.”

Masjid kecil lainnya melayani masyarakat Syiah dan Alawi (komunitas terbesar kedua Arab di Argentina). Pada tahun 1996, King Fahd Islamic Culture Center, masjid terbesar di Amerika Latin, dibuka untuk umum. Pemerintah Argentina memberikan tanah untuk membangun masjid setelah kunjungan Presiden Carlos Menem ke Arab Saudi.

Secara historis, umat Islam di Argentina menghindar dari aktivitas politik dan publisitas. Dua faktor ini menjadi penyebab utama yang kemudian mengubah posisi mereka. Yakni pada tahun 1989 pada pemilihan umum, memenangkan Carlos Menem, keturunan Suriah, sebagai Presiden Argentina, dan tahun 1992 serangan yang menargetkan kedutaan Israel dan pusat Yahudi—yang memicu  tuduhan dan investigasi terhadap anggota masyarakat dan Islam.

Saat ini, umat Islam di Argentina tidak memiliki payung organisasi yang didedikasikan untuk menyatukan mereka. Markas Organisasi Islam Amerika Latin (IOLA) terletak di Buenos Aires. Misi IOLA adalah untuk mempromosikan persatuan di kalangan umat Islam yang tinggal di Amerika Latin. [LS]


Sumber: Ammonnews.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *